9/23/19

Ludruk Suro Menggolo di Ponorogo

Tulisan kali ini akan sedikit mengulas kisah kelompok pelestari ludruk yang ada di Ponorogo bernama Suro Menggolo.

Ketika menyaksikan pementasan ludruk grup ini, sekilas tampak seperti normal-normal saja. Mungkin akan merasa biasa-biasa saja. Sekumpulan orang lengkap dengan rias dan busana mementaskan lakon cerita tertentu. Tetapi, ketika Anda coba perhatikan dalam-dalam, barulah kalian akan menyadari sesuatu yang unik dari sekelompok pemain ludruk tersebut. Bagi saya, hal yang sangat jarang saya temui.
Doc. Yanu
Ada yang menyebut kelompok tersebut sebagai ketoprak waria. Keberadaan waria di panggung ludruk tampaknya sudah bukan hal baru. Jika mengutip makalah Eksistensi Transgender dalam Hiburan Masyarakat Pedesaan (Ganisa Putri Rumpoko), waria muncul karena adanya aturan di pondok pesantren bahwa laki-laki dan perempuan tidak boleh satu panggung saat pamentasan. Akhirnya ludruk diisi pria yang berdandan layaknya perempuan untuk menggantikan peran perempuan asli.

Jika membaca situs Ludruk Suro Menggolo kalian akan membaca penjelasan panjang dan detail mengenai bagaimana sejarah keberadaan waria di panggung ludruk. Meskipun saya pernah membaca di unggahan Nini Thowok, sang penari legendaris Indonesia, namun baru dari situs Suro Menggolo itulah saya lebih memahami secara mendalam.

Doc. Yanu
Grup ludruk tersebut pentas setiap malam mulai pukul 21.00 - 24.00 WIB tanpa libur. Setiap pementasan, mereka tampil totalitas dengan rias dan kostum seolah benar-benar menjiwai perannya. Dan harga tiketnya pun dibandrol dengan harga Rp 4.000,- saja.

Bagaimana menurut kalian?
Merusak atau Menghibur?

Referensi dan Sumber bacaan, baca juga Situs Ludruk Suro Menggolo
Dokumentasi : Yanu
9/22/19

Pertama Kali Ikut Gapura Digital

Peserta Gapura Digital Surabaya

Gapura Digital ini adalah kelas cuma-cuma yang dipersembahkan Google untuk para pelaku usaha terpilih dari ratusan pendaftar baik pelaku usaha mikro, kecil dan menengah agar pelaku usaha bisa Go Fully Digital.

Nah yang pengen tahu lebih lengkap tentang Gapura Digital, bisa nonton video ini.


Selain berkenalan dengan fitur Google untuk mengembangkan bisnis para pelaku usaha, di kelas ini kami juga belajar bagaimana mengoptimalisasikan promosi bisnis kami agar semakin dikenal dan menjangkau konsumen baru yang lebih luas dengan kecanggihan digital seperti Google Bisnisku, Google Sites, promosi dengan SEO dan SEM, dan tips n' trik menulis konten.
7/18/19

Pujian adalah UJIAN

Pujian = ujian

Kadang, "seseorang" memuji kinerjamu 'bagus' bukan serta merta bermakna denotasi bagus. Tapi supaya kamu terlena, mau kerja terus, merasa 'bangga' karena dipercaya. Supaya nggak libur. Dan di titik tertentu kamu jenuh, bisa jadi akhirnya kamu ngajuin resign. Dan seseorang yang memujimu tadi bisa menggantikan posisimu di kantor.

Nggak kerasa memang. Pelan-pelan. Supaya skenarionya terlihat jenuh itu munculnya dari dalam dirimu, bukan karna orang lain yang sedang mengatur drama untukmu.

Kadang, "dia" memujimu juga bukan karna kiprahmu beneran jempolan. Ya supaya kamu terbuai rayuan, termotivasi melakukan sesuatu dengan lebih giat, merasa memang dirimu adalah orang yang tepat untuk menyelesaikan banyak hal. Dan orang yang memujimu tadi kerjaannya lebih ringan, karena kamu sukarela mengerjakan sebagian pekerjaan miliknya dengan bualan ilusi "pekerjaan itu hasilnya maksimal di tanganmu". Sampai akhirnya kamu nggak pernah libur, sering lembur, lupa perhatian sama kekasihmu dan "dia" yang memujimu, beban kerja ringan, banyak waktu luang eh leluasa ngajak kekasihmu kencan. Dalihnya kekasihmu nggak ada yang perhatian, "dia" yang memujimu tadi hadir bak pahlawan mencuri hatinya secara perlahan.

Nggak kerasa memang. Supaya skenarionya terlihat semua gara gara kamu. Akhirnya kekasihmu minta putus karena kamu! Kerja terus, nggak perhatian.

Kadang, "seseorang" memuji dedikasimu bahkan memberimu kepercayaan menjadi pimpinan grup tertentu tidak serta merta karena kamulah pemimpin yang pantas. Tapi karna "seseorang" itu paham situasi dimana ketika dia dipaksa memimpin, beban tanggung jawabnya besar, dia tidak ingin mengemban itu. Supaya terlihat bersih, dia gunakan pujian rayuan untuk membuatmu seolah pantas dan kamu terbuai sehingga sukarela mengemban jabatan. Tanpa sadar hanya sebagai 'sasaran'.

Pujian = ujian

Banyak contoh lainnya.

Beberapa tahun lalu pernah ku post kata-kata ini, "memeluk dengan erat supaya pisaunya menancap lebih dalam?". Mulai ngeh? Bingo!

Pujian dan ujian selisih 1 huruf saja kok.

(Admin/Zan)
7/1/19

Konsep Foto Menggunakan Koran Bekas

Sedang mencari inspirasi untuk konsep foto kalian?
Pakai koran bekas nih :)

Bisa jadi, referensi ini kalian jadikan pilihan.
Yap, dengan berbahan koran bekas hasil foto kamu tidak kalah keren dengan latar foto putih atau monochrome yang biasa dijadikan pilihan untuk mengambil foto.

Dengan sedikit sentuhan filter, maka efeknya akan terlihat nuansa vintage atau retro. Jangan lupa outfit para model juga harus sesuai dengan tema vintagenya ya.




Nah ini contoh hasil fotonya :







(Admin/Zan)
6/10/19

Dilem Wilis Cafe, Kec. Bendungan, Kab. Trenggalek

Jajan alias jalan-jalan kali ini, kita melipir ke Kecamatan Bendungan, Kab. Trenggalek. Tepatnya di kawasan Agrowisata Dilem Wilis di desa Dompyong.

Di kawasan ini kalian bisa mengunjungi beberapa tempat seperti peternakan sapi perah, pabrik kopi van dilem dan spot yang mencuri perhatian saya adalah Dilem Wilis Cafe.

Tidak hanya dimanjakan dengan suasana dan pemandangan alam yang indah, kalian juga bisa menikmati aneka produk unggulan yang diolah oleh masyarakat setempat. Seperti produk susu segar Van Dilem dengan 7 varian rasa yaitu original, mocca, melon, strawberry, coklat, durian, dan anggur. Harga susu ini per botolnya dijual dengan harga Rp 6.000,- saja. Sedangkan produk unggulan lain seperti kopi Van Dilem kemasan 200 gram dijual dengan harga Rp 30.000,-

Ada juga makanan ringan yang juga produk masyarakat lokal yang dijual seharga Rp 10.000,- seperti krupuk singkong Van Dilem, kacang pedas manis Benjo, keripik singkong kremes Benjo, keripik pisang Benjo, dan keripik talas Benjo.

Di sebrang cafe ini kita bisa mengunjungi pabrik kopi van dilem, museum kopi (masih dalam tahap pembangunan) dan green house dilem wilis sebagai tempat budidaya tanaman bunga anggrek.

Nah, untuk memberi gambaran visual yang lebih menarik, bisa juga klik video ini ya.


Pengembangan agrowisata dilem wilis sebagai destinasi wisata baru yang mulai dibangun tahun 2016 ini memang belum sepenuhnya bisa dinikmati. Hingga kini masih banyak pembangunan yg dikerjakan. Meskipun demikian, kawasan ini sudah cukup banyak dikunjungi oleh wisatawan terutama saat akhir pekan atau hari libur datang.

Tidak hanya berwisata menikmati keindahan alam, tetapi juga menjadi strategi pengenalan produk lokal dengan cara yang millenial.
4/29/19

Kopilaborasi Social Media Influencer


Undangan Gubernur dan Wakil Gubernur dalam Kopilaborasi (28/4), Meet Up & Share Social Media Influencer dari berbagai daerah se-Jawa Timur di Taman Belakang Gedung Negara Grahadi, Surabaya.

Kesempatan juga nyicipi Ketan durian dan wedang uwuh yang disajikan @kedai_ketanpunel (instagram) disana. Hehehe...
Oiya, senang bisa sedikit sharing dengan Wagub (yang juga mewakili Gubernur karena beliau sedang bertugas di luar kota) mengenai pariwisata Jawa Timur dan selayang pandang program kebijakan pemprov terkait infrastruktur yang menunjang pariwisata. Ada sedikit curahan hati juga dari Kartini Millennial yaitu Kades Desa Mendak, Kab. Madiun yang sedang gencar mengerakkan potensi pariwisata disana, yaitu Watu Rumpuk. Bahkan saat menginjak usia ke 3 bulan destinasi wisata itu dibuka, wisata watu Rumpuk telah mendapatkan penghargaan AWJ (Anugerah Wisata Jawa Timur) 2018.

Watu Rumpuk masih stimulan saja, wisata yang sebenarnya akan menjadi icon wisata di desa Mendak adalah Tracking Tapak Bimo.

Kenapa dinamai Tapak Bimo?

Di rangkaian gunung wilis yang ada di Kab. Madiun, di puncak gunung ada telapak kaki yang konon katanya adalah telapak kaki Bimo (yang sebelah Kiri). Sedangkan kurang dari 1 km dari telapak kaki tersebut ada gua yang disebut Gua Jepang. Lalu ada beberapa arca yang bisa dilihat saat melakukan tracking tapak kaki Bimo.

Tidak hanya untuk wisata Rumpuk di Madiun,  tapi semua yang mengembangkan potensi pariwisata tentu tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah saja tapi juga kolaborasi dengan berbagai pihak salah satunya para social media influencer yang bisa membantu dari segi promosi pariwisata melalui media digital.


Jangan lupa untuk turut menyukseskan Majapahit International Travel Fair tanggal 2-5 Mei 2019.

Kolaborasi aksi!

(Adm/Zan)
4/16/19

Batik Sogan Terakota Jawa Timur

Bagi kalian batik lovers khususnya batik Jawa Timur, mungkin sudah tidak asing dengan Batik Arumi khas Kabupaten Trenggalek, Batik Gedhog khas Tuban, atau batik gentongan khas Madura. Nah bagaimana dengan batik Sogan Terakota Jawa Timur? Sudah cukup referensi kah kalian untuk mengenal dan memahami tentang batik jenis ini?



Asosiasi Perajin Batik Jawa Timur menginisiasi adanya batik sogan khas Jawa Timur. Dipamerkan dan diperkenalkan untuk pertama kalinya dalam pameran Batik, Bordir dan Accessories (BBA) Fair 2019 tanggal 10-14 April di Exhibition Hall, Grand City Surabaya dan menampilkan batik Sogan Terakota dari 38 Kab/Kota se-Jawa Timur.

Mungkin bagi pecinta batik sogan banyak yang bertanya-tanya, apa bedanya batik sogan yang lumrah kita kenal khas dari daerah Solo atau Yogyakarta dibanding dengan batik sogan Jawa Timur?

Nah, sebelum diulas lebih mendetail. Coba lihat dulu nih dokumentasi Batik Sogan Terakota yang berjajar rapi saat launching pertama kali dalam BBA Fair 2019.

Batik Sogan Terakota Jawa Timur
Bagaimana?
Sudah terbayang-bayang perbedaan batik sogan khas Solo atau Yogyakarta dengan Sogan Terakota ini?

Sogan memang sangat identik dengan batik klasik keraton yang umumnya didominasi oleh warna coklat. Di Yogyakarta, sogan dikenal dengan warna coklat kehitaman, sementara di Solo dikenal dengan warna sogan coklat kekuningan. Nah warna sogan dalam batik Sogan Terakota ini berbeda, warnanya lebih cenderung ke warna batu bata. Mengapa demikian?

Batik tak akan lengkap dengan nilai seninya jika tak ada cerita filosofisnya. Ada sejarah yang melatar belakangi warna sogan terakota berbeda dengan sogan lainnya. Sogan Jawa Timur identik dengan warna batu bata yang digunakan pada bangunan di masa Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu sogan terakota cenderung berwarna batu bata (sumber: APBJ pada pameran BBA 2019).

Kalau menurut saya warnanya jadi agak coklat semu merah bata gitu nggak sih? hehehe *cmiiw... Seperti yang terlihat pada foto di atas. Batik Sogan Terakota dari 38 Kab/Kota di Jawa Timur.

Bagaimana menurut kalian? Tertarik untuk meminang Batik Sogan Terakota Jawa Timur ini?

Jadi terinspirasi untuk launching Hijab Batik by Alabela ID edisi special Hijab Batik Terakota nih. Hehehe..

Tetap cintai dan pakai batik ya.

(Adm/Zan)

Duta Batik Jawa Timur 2019

Seluruh tim panitia Pemilihan Duta Batik Jawa Timur 2019

Pemilihan Duta Batik Jawa Timur diselenggarakan oleh Asosiasi Perajin Batik Jawa Timur atau APBJ. Kegiatan ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 2015 untuk mencari figur anak muda millenial yang mencintai batik sekaligus mampu bersinergi untuk turut melestarikan dan mempromosikan batik khususnya batik Jawa Timur.

Serangkaian kegiatan telah dimulai dengan seleksi semifinalis pada tanggal 17 Maret 2019. Diikuti oleh 50 semifinalis yang telah melalui seleksi di daerah masing-masing. Dari proses seleksi meliputi wawasan batik, unjuk bakat, interview bahasa inggris, wawasan umum dan kepribadian akhirnya terpilihlah 20 finalis yang mengikuti kegiatan karantina tanggal 11-14 April 2019 di Hotel Grand Dafam Surabaya.

Apa saja ya kegiatan karantinanya?

Ada workshop membatik (ini paling seru, kita bisa praktik membatik dengan menggunakan canting, mewarnai mulai dari kain putih hingga jadi kain batik langsung bersama ahlinya), beauty class, pembekalan wawasan batik Jawa Timur dan peragaan kain lilit, pembekalan materi public speaking, kepribadian dan presentasi project "Aku dan Batikku" yang merupakan hasil kegiatan atau kontribusi finalis untuk mengapresiasi batik Jawa Timur di daerah masing-masing. Tahap presentasi ini sekaligus menjadi tahap final interview para finalis. 

Setelah melalui sejarah panjang dan ratusan drama kumbara (hehehe..), akhirnya selesai perhelatan pemilihan Duta Batik Jawa Timur 2019 tepatnya tanggal 13 April 2019 lalu di Exhibition Hall Grand City Surabaya bersamaan dengan serangkaian pameran Batik, Bordir dan Accessories Fair 2019 (Baca juga: Batik Sogan Terakota Jawa Timur).


Duta Batik Jawa Timur 2019 bersama Ibu Arumi Bachsin selaku Ketua Dekranasda Provinsi Jawa Timur
dan jajaran dewan juri 

Berikut daftar pemenang yang terpilih :
Kevin Dwijaya Pamungkas Sebo - Kab.Bondwooso
Rr. Nektara Titan Dianastri - Kab. Jember
Duta Batik Jawa Timur 2019

Ahmad Fauzi - Kab. Pasuruan
Novalia Budi Chandrawati - Kab Gresik
Wakil 1 Duta Batik Jawa Timur 2019

Ma'arif - Kab. Gresik
Kandela Putri Cikalpasa - Kota Malang
Wakil 2 Duta Batik Jawa Timur 2019

Gizzak Mahfud - Kota Malang
Sinta Dewi Apriliya - Kota Surabaya
Juara Favorit Duta Batik Jawa Timur 2019

Seperti umumnya penyelenggaran kegiatan, kurangnya SDM dan kendala komunikasi menjadi drama yang nggak ada habisnya jika dibahas, tapi seru sih. Ya seru-seru ngilu. Dalam 1 organisasi, berisi berbagai jenis karakter manusia dengan segala kesibukannya tentu tidak mudah untuk mengatur jadwal pertemuan bersama. Tapi sebenarnya sesibuk apapun tetap bisa dikomunikasikan asal koordinasi 2 arahnya lancar, bukan lalu hening senyap doang. Nah ini kaitannya dengan kendala  paling receh dalam organisasi yaitu kendala memberi pengertian bahwa segala bentuk komunikasi seperti pertanyaan di grup chat itu bukan koran yang dibaca doang tapi perlu respon dan jawaban. Wkwkwk... Bener itu syusyaahhhh. Rada curcol jadinya. Terlepas dari segala bentuk drama, selaku ketua panitia yang ketiban sampur tahun ini, secara pribadi saya tetap sangat terbantu oleh seluruh tim dengan segala bentuk bantuan yang mereka telah sumbangkan untuk kegiatan ini.

Dan terlepas dari tangan sakti para panitia dalam menyiapkan acara, selaku panitia juga mengucapkan rasa terima kasih kami untuk seluruh pihak yang mendukung sehingga acara ini dapat terselenggara dengan sangat baik. Terima kasih kepada :

1. Dekranasda Provinsi Jawa Timur
2. Debindo Mitra Tama
3. Bank Jatim
4. Hotel Grand Dafam Surabaya
5. Purbasari
6. Le Minerale
7. Sarironce
8. Petrokimia Gresik
9. Ningrum Catering
10. Dian Art
11. Lamya Official
12. Arinz Fashion Design

Semoga pemenang dan seluruh finalis dapat mengemban tugas barunya dan memegang komitmen untuk bertugas dengan baik bersama Paguyuban Duta Batik Jawa Timur, APBJ dan juga pemerintah provinsi Jawa Timur dalam hal pelestarian dan mempromosikan batik Jawa Timur baik di tingkat naisonal hingga mancanegara.

(Adm/Zan)
3/18/19

Duta Muslimah Preneur 2019, Jawa Timur

Saat pemanggilan Top 6
Satu ke-semoga-an yang tidak usang hanya menjadi sebuah tulisan, tetapi kini menjadi kenyataan.

Ini kompetisi ke-2 ku untuk mengusung Hijab Batik AlabelaID. Rasanya sudah cukup senang ketika mendapat kesempatan untuk berdiskusi mengenai kreativitas dan inovasi dalam berwirausaha dengan Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Jawa Timur. Dan ternyata dapat bonus kejuaraan.

Lega?
Ah, belum.. Justru ini masih awal. Karena masih harus menjadi perwakilan untuk beradu di tingkat nasional tanggal 29-31 Maret 2019 yang akan datang.

Mungkin banyak yang ingin bertanya bagaimana proses seleksi kegiatan ini. Saya akan sedikit share mekanisme pendaftaran, sesi wawancara, unjuk bakat hingga grand final.

Muslimah dari berbagai Kab/Kota se-Jawa Timur berhak mendaftarkan diri sebagai  peserta secara mandiri atau melalui perwakilan IPEMI daerah. Kebetulan karena dari tempat asal saya yaitu Kab. Trenggalek belum terbentuk kepengurusan IPEMI, sehingga saya mendaftarkan secara mandiri ke panitia provinsi. Sedangkan ada beberapa peserta perwakilan Kediri, Gresik, Madiun, dan Surabaya yang mendaftar melalui IPEMI daerah masing-masing. Selain mengisi formulir, peserta juga harus melampirkan foto postcard tampak samping, depan dan close up dengan memakai baju hitam dan hijab berwarna merah muda.

Setelah itu, peserta mengikuti serangkaian proses seleksi atau penyisihan. Dari total seluruh peserta, yang akan lolos menjadi grand finalis hanya 6 orang saja. Seleksi meliputi tes tulis, tes psikologi, tes wawasan umum dan keagamaan, mengaji, wawasan bisnis dan organisasi IPEMI, bahasa inggris, presentasi usaha yang dimiliki peserta serta unjuk talenta. Dalam serangkaian seleksi ini, peserta juga dilatih blocking untuk sesi parade.

Babak penyisihan selesai, dan untuk finalis yang lolos menjadi jajaran Top 6 masih harus akan berjuang di babak QnA atau tanya jawab.

Oiya, bagi sebagian orang ketika mengikuti kompetisi sejenis ini akan sedikit merasa terbebani jika harus menyiapkan wardrobe sendiri. Apalagi jika tema baju yang sedikit rumit, glamour dan biaya sewanya mahal. Hehehe... Tapi beruntung, untuk kompetisi DMP 2019, mulai dari babak penyisihan hingga final, seluruh wardrobe sudah disediakan oleh panitia.

DMP dalam Harian Surabaya Pagi
Tidak ada strategi atau tips khusus, saya pun bukan ahli kompetisi. Hehehe.. Awalnya saya berpikir, berdiskusi dan berada dalam satu forum bersama IPEMI akan menjadi tambahan wawasan dan networking yang semakin luas. Namun, ketika berkompetisi saya tidak effortless. Tetap mempersiapkan semaksimal mungkin. Sisanya pasrah. Yang terpenting memang menjadi diri sendiri, berusaha menyiapkan materi yang akan disampaikan (terkait presentasi wirausaha yang dijalankan), menggali wawasan mengenai IPEMI atau hal-hal berkaitan dengan bisnis yang belum diketahui, dan update pengetahuan dengan isu-isu terkini. Oiya, jika mungkin kalian ada yang ingin mencoba kompetisi ini tahun 2020, jangan lupa untuk belajar catwalk. Belajar catwalak tidak melulu untuk para model runway saja. Bagi sebagian orang yang memang profesi atau perannya dituntut untuk tampil di depan publik, saya rasa skill ini diperlukan. Tujuannya hanya menampilkan sikap yang pantas, terlebih ketika menjadi ambassador IPEMI. Ini berarti ketika kita tampil, bukan hanya membawa nama sendiri tetapi juga membawa nama IPEMI. Tampil sesuai dengan tempat dan tema acara, terlebih jika dituntut membawakan baju dari sponsor, kita bisa membawakan dengan cukup baik di atas panggung. Dan satu lagi yang tidak kalah penting. Asah keterampilan public speaking kalian ya. Menjadi seorang duta itu seperti spoke person atau jubir. Hehehe... Dan harus siap, sigap, sedia untuk berbicara dimanapun, kapanpun dengan siapapun.


Saya masih penasaran, akan ada apa lagi yang menarik di perjalanan setahun ke depan. Hehehe...

Terima kasih sudah mampir.

(Adm/Zan)
2/25/19

Gen Z Preneur, Boost Your Impact

Ladies

Sepertinya acara ini terlewat throwback ya. Acaranya udah lewat kapan, eh baru ditulisnya kapan. Hehehe... Lebih baik terlambat kan, daripada tidak sama sekali. Setidaknya orang bisa mengenang dan dikenang melalui sebuah tulisan. Ciaaat. Lanjut.
Revindia Carina - Ibu Arumi Bachsin - (me)
Yaps, acara di penghujung 2018 lalu. Acara pertama, dan sepertinya yang terakhir bagi kami. Tidak menduga bisa menginisiasi kegiatan dengan sebegitu singkat untuk persiapan, jutaan drama ketika pelaksanaan dan pemateri maha keren yang kala itu menjadi bintang tamu kenyataan.

Menginisiasi sebuah acara mahasiswa yang berkesan, tidak ecek ecek, patut dikenang dan tentunya berfaedah tentu tidak mudah. Apalagi niat semula sungguh mulia, "ah supaya almamaterku dikenal baik karena bisa menghelat acara kece", tapi karena drama kumbara niat ini seketika PUDAR by Rossa. Alasan keterbatasan dana menjadi alasan klasik yang jenuh didengar apalagi di kampus ITATS (Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya), wah 'segojangan'. Dana ormawa sebesar nol rupiah, 'tedeng aling aling' support oleh 'petinggi' berupa konsumsi untuk kegiatan senilai dua jutaanlah (semoga tidak salah ingat). Ini dari petinggi ya, harusnya berbeda dengan dana ormawa. Sungguh kami buta birokrasi, lantas alokasi dana yang jadi hak ormawa itu kemana "jalan-jalannya" kami sudah @$%&*^#@ tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata manis nan elok. Sudah berusaha mencari penjelasan ke bidang kemahasiswaan, namun hanya pilu yang dirasa.

Eits... drama ini belum lagi ditambah alasan konvensional berikutnya yang mahasiswa merasa sok sibuk seolah kewalahan untuk membagi waktu antara kegiatan akademis dan non akademis. "Lha terus ngapain join organisasi kalau nggak 'becus' bagi waktu?". Silahkan dijawab sendiri.

Acara yang diawali dengan business plan competition yang diikuti oleh mahasiswa lintas jurusan, presentasi, hingga sesi sharing dan company visit ke store Sego Njamoer dan Aexpi Pet Shop, menyenangkan sudah terlaksana dengan baik. Sekalipun tidak sepenuhnya sempurna. Dilanjutkan dengan perayaan puncak tanggal 11 Desember 2018, public speaking workshop dan talkshow bersama 2 narasumber hebat.

Pemberian workshop untuk keterampilan berbicara di depan umum ini diberikan bukan tanpa alasan. Empat tahun berpengalaman menjadi anak 'teknik', bersosialisasi dengan makhluk 'logic' dan berkesan "kaku" menjadi pertimbangan kami. Pasti sudah familiar dengan kiasan klasik, "anak jurusan teknik akan jadi pegawai ahli, tapi anak jurusan sosial akan jadi pemilik perusahaannya". Kenapa begitu? Sense of communication anak teknik memang kontras berbeda. Percaya atau tidak, komunikasi memberi pengaruh pada karir dan kehidupan sehari-hari. Public speaking tidak hanya belajar tentang bagaimana kita berpidato, tapi bagaimana kita 'memanusiakan' manusia ketika berinteraksi dengan sesama. Ya tentu ini tidak berlaku untuk semua muanya anak teknik. Tapi begitulah pengalaman personal dan juga slentingan adik kelas, "kenapa ya mbak kalau anak teknik itu kaku kalau presentasi?". Jreeeeng.



Selain itu, turut hadirnya dua narasumber maha keren melengkapi ke-kece-an acara Gen Z. "Kok bisa ngundang beliau-beliau?", ya karena niat mulia yang akhirnya pudar tadi lho. Ah ya sudahlah.

Pesan dan sharing pengalaman dari bagaimana seorang 1st Puteri Pariwisata Indonesia 2017, Revindia Carina membagi waktunya antara pendidikan dan prestasi tentu menjadi stimulus untuk mahasiswa ITATS, terutama yang sok sibuk memiliki segudang aktivitas. Dan cerita menarik Ibu Arumi Bachsin, bagaimana di usia yang terbilang seumuran denganku selisih 1 bulan  masih muda memposisikan diri untuk berhadapan dan berinteraksi dengan berbagai kalangan ketika bertugas di Kabupaten Trenggalek menjadi motivasi bagaimana seorang anak muda mampu menjadi bunglon dengan tanpa menyiksa diri sendiri untuk menjadi orang lain. Etika dan skill berkomunikasi menjadi bahan utama dalam membangun sinergi yang baik.

Nggak bisa dituliskan secara persis pengalaman saat itu, tapi melalui tulisan ini setidaknya bisa sedikit mengenang. Terima kasih Revindia Carinda dan Ibu Arumi Bachsin sudah sukarela untuk membantu menyukseskan acara ini. Kesediaan kalian menjadi sedikit pelipur lara atas lelah dan perasaan tidak diapresiasinya "anu" #@&%* oleh mereka yang namanya tidak boleh disebut.

Tim huru hara Duta ITATS (nggak full team, ada yg kuliah Hehe)
Liputan Gen Z Preneur, SBO TV


Semoga pengalamannya berkah ya teman-teman.
Karma tidak salah alamat. Kalau nggak viral, nggak jadi pusat perhatian. Eeeeaaaaaaa.

Terima kasih sudah mampir. Sukses untuk semuanya!

(Adm/Zan)

Frontstage or Backstage?


Ibarat Raffi Ahmad, ya artis, ya produser, ya sutradara. Ya yg berperan di depan layar, ya yg di belakang layar juga. All in one. Irit. Satu orang untuk semua peran. Hakzz.


Kalian lebih suka di belakang layar atau di depan layar?



Ehm.. Kalau belakang layar,gak kelihatan.Kalau di depan layar,nutupi mbak *eh
Bukan bukan :P 😁



Kalau pinjam istilah teori dramaturgi dari Goffman, ada sebutan frontstage dan backstage. Front stage merupakan panggung depan di mana seseorang memainkan peranan tertentu di depan penonton. Sedangkan backstage diartikan sbg wilayah pertunjukkan yang cenderung tidak dilihat dan tidak dipertontonkan di front stage.



Eh, tapi di tulisan ini bukan mau bahas soal dramaturginya.



Jadi, sensasi di depan dan belakang panggung memang kontras berbeda. Ibaratnya nih, misal yg belakang panggung bisa 'angop sewayah-wayah' (red: menguap ngantuk sewaktu-waktu), nggak perlu make up, baju official senyaman mungkin untuk wira wiri kitiran. Eits... tapi kalau di depan panggung, harus paripurna from head to toe, make up menter, bahkan ibarat tarik nafas aja harus pakek manner. Hehe...



Ini bukan soal mana yang lebih penting. Yang di belakang panggung juga menyokong kesuksesan pemeran yang tampil di depan panggung. Nah yang di depan panggung, ibarat bak 'eksekutor' dari apa yang tim belakang panggung siapkan. Keduanya sama-sama penting.



Kalau dalam organisasi, nggak bisa kalau semua anggota maunya on stage, maunya tampil semua. Wuhuuuu bisa rebutan panggung tsayyyy. Misal dalam produksi program televisi, nggak ngebayangin kalau kameramen semuanya mau tampil di depan kamera. Hehehe... Atau semua maunya backstage, nah terus yang jadi jubir siapa? Atau untuk acara tertentu nggak ada talent, siapa yg ambil peran kalau bukan internal organisasi itu? Nah, jadinya saling melengkapi.



Ada nasehat lama,"Cewek itu kalau diajak susah nggak nyusahin, kalau diajak berkelas nggak malu-maluin". Ehmm.... sepertinya kata bijak ini bisa diterapkan untuk mewakili analogi peran backstage-frontstage ini.



Kita bisa kalau diperlukan untuk muncul di depan atau on stage. Tapi juga siap kalau harus susah di belakang/backstage. Ya, gulung kabel dan junjung kursi misalnya *eimmm :P 😂



Tapi, kalau kamu lebih nyaman di tim front-stage atau backstage nih?


Terima kasih sudah mampir.
1/14/19

Hijab Batik AlabelaID dalam Koran Surya


Alabela ID di Harian Surya edisi 15 Januari 2019

Hijab Batik Alabela ID, lagi-lagi berbagi cerita dengan pembaca harian Surya dan Tribun news. Yaps, mengulang awal mula bagaimana akhirnya tercetus ide untuk menciptakan brand AlabelaID dan produk pertama yaitu Hijab Batik. Jika beberapa orang menginisiasi sebuah 'usaha' dengan memanfaatkan 'peluang' atau mengandalkan 'passion', maka saya mencoba unsur 'prihatin' untuk menjadi cikal bakal memulai Alabela ID. Ulasan selengkapnya bisa klik di sini atau download di sini.

Salam.