4/20/20

Tips Mengikuti Audisi Kontes

Ada yang dalam waktu dekat ingin terjun di dunia pageants?
Ada yang masih maju mundur karena minder, takut dan kurang percaya diri untuk ikut audisi?

Banyak pertanyaan yang dikirim melalui Whatsapp atau DM instagram, beberapa adik kelas atau teman yang gegana (gelisah galau merana) ketika ingin mengikuti seleksi/audisi suatu pemilihan duta atau kontes kecantikan tertentu.

Sebenarnya apa yang perlu disiapkan?

Pertama, siapkan segala persyaratan administrasi pendaftaran. Biasanya akan ada syarat bagi peserta untuk mengisi formulir, kelengkapan foto, daftar riwayat hidup, esai social project, dll. Oiya sebelum mulai melengkapi kelengkapan administrasi, pastikan bahwa kalian juga membaca persyaratan dan timeline ya seperti kriteria peserta, kapan tanggal karantina dan final, kriteria penilaian, dll.

Kedua, siapkan untuk mengikuti audisinya. Beberapa kontes seperti ini ada yang memberlakukan audisi setelah masa pendaftaran usai. Seluruh peserta datang ke lokasi audisi dan bersiap mengikuti tahapan-tahapan seleksinya. Biasanya dimulai dengan registrasi ulang peserta sekaligus mengecek kelengkapan administrasi/berkas milik peserta, pengukuran tinggi badan dan berat badan. Kemudian tes tulis meliputi wawasan umum, isu-isu tertentu tapi ada juga untuk kontes semacam ini yang memberika tes berupa TPA atau bahasa inggris dasar. Kalau kalian ada teman yang berpengalaman mengikuti kontes dan kalian ingin mengikuti kontes yang sama, tidak ada salahnya kalian bertanya dan sharing ringan dengan mereka untuk persiapan. Kemudian setelah tes tulis, tahap penentu yang mendebarkan yaitu sesi interview. Satu per satu, para peserta dipanggil memasuki ruangan khusus dan bertemu dengan dewan juri. Khusus untuk setting ruangan interview audisi Miss Indonesia 2020 di Kota Surabayaseperti di bawah ini ya teman-teman.


Untuk audisi kontes Miss Indonesia, Puteri Muslimah Indonesia (yang diadakan oleh Indosiar), Hijabnesia Indonesia 2019 (Islamic Nexgen Fest diselenggarakan oleh Kementerian BUMN RI) sesuai pengalaman penulis yang juga pernah mengikuti audisinya di Kota Surabaya, rangkaiannya sama persis seperti ini. Dan masih ada tahapan lanjutan ketika dinyatakan lolos sesi interview. Yaitu sesi make over, photoshoot, pengambilan video profile dan biasanya masih ada 1 sesi interview akhir dengan guest star/artis atau tim produksi dari stasiun tv yang bekerjasama dengan kontes tersebut. Dan barulah pengumuman finalis akan diumumkan ketika semua audisi di berbagai kota selesai.

Oiya, khusus untuk audisi Puteri Indonesia Jawa Timur ada sedikit perbedaan dimana tidak ada tes tulis, dan sesi interview terdiri dari 5 juri dengan topik berbeda-beda yaitu pengalaman organisasi, kepribadian, beauty, bahasa inggris, sesi LGD yang dibagi per grup (semoga saya tidak salah ingat hehehe), setelah itu barulah diumumkan siapa 12 finalis Puteri Indonesia Jawa Timur dan mengikuti karantina hingga grand final. Sedangkan untuk audisi Puteri Indonesia pusat (di Jakarta), Miss Grand, Miss Earth, Miss Global, dan kontes-kontes lainnya, sejujurnya maaf penulis belum berpengalaman melihat langsung rangkaian audisinya jadi penulis tidak tahu mendetail, tapi kalian bisa browsing di beberapa portal pageants untuk mengetahui bocoran audisinya atau bisa juga DM finalis tahun-tahun sebelumnya ya.

Oke, lanjut terkait rangkaian audisi.

Make over peserta

Untuk sesi make over, kalian akan dirias oleh tim sponsor bahkan terkadang ada wardrobe yang sudah disiapkan untuk kalian kenakan.









Setelah make over selesai, kalian akan difoto oleh fotografer yang sudah standby disana. Biasanya kalian akan diambil foto close up dengan full badan. Latihan pose ya biar fotonya nggak kaku. Hehehe...

Setelah itu adalah sesi pengambilan video profil. Perlu untuk menguasai bagaimana berkomunikasi melalui kamera, karena bagi yang tidak terbiasa tentu merasa sulit dan canggung. Di hadapan kamera, kalian perlu untuk memperkenalkan diri (menyebutkan nama, usia, asal, motivasi/pengalaman) kemudian jika ada bakat/talenta khusus, tidak jarang tim meminta kalian untuk menunjukkannya (khusus ini tidak selalu kok, kadang-kadang aja kalau memang diminta menunjukkan) dan biasanya kalian juga diminta untuk berjalan catwalk seperti foto ini (detailnya ada di video bawah ya).

Pengambilan video peserta
Berikutnya interview akhir, kalian akan bertemu dengan dewan juri yang berbeda dengan sesi interview awal tadi. Biasanya juri dari kalangan artis, tokoh masyarakat atau dari crew televisi. Jenis-jenis pertanyaannya pun tidak jauh berbeda, tetapi lebih grogi biasanya karna diwawancara langsung oleh artis dan biasanya kamera dan lampu di sesi ini lebih terang, ruangan mendadak panas karena grogi dan lampu yang nyentrong banget. Hehehe... Khusus audisi Miss Indonesia, tidak ada sesi interview lagi usai pengambilan video.

Jadi tips ketiga, tidak ada salahnya banyak update tentang berita/isu terkini, lalu mengasah diri untuk sering brainstorming dan berpikir kritis agar ketika diwawancarai dan mendapat pertanyaan terkait wawasan umum atau berita terkini sudah sedikit familiar dan terbiasa berpikir kritis. Selain itu teman-teman juga perlu mulai mengenal bagaimana grooming atau menata penampilan, belajar bagaimana berbicara di depan kamera, latihan pose untuk sesi photoshoot, belajar bagaimana berjalan catwalk dan hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan diri.

Kalau menurut saya, mengikuti pemilihan duta wisata, kontes kecantikan atau yang sejenisnya bukan sekedar "ikut" tanpa ada persiapan yang proper. Tapi memang tidak jarang kita menemui ada beberapa orang yang katanya "iseng" ikut audisi, baru pertama kali, dan ternyata menang. Tidak bisa disamaratakan ya teman-teman. Kalian silahkan stalking orang tersebut. Dilihat dulu pengalaman organisasi, prestasi, pendidikan atau track record orang tersebut seperti apa 'jam terbangnya'. Karena personality seseorang bisa terbentuk bukan melulu karena sering ikut lomba tetapi mungkin dari dia bergaul, berorganisasi, terjun di kegiatan masyarakat, pendidikan, terbiasa berpikir kritis, sering ikut lomba debat keilmuan, dll. Sisanya tinggal kemauan dia memenuhi kriteria kontes itu sendiri. Dan kontes seperti ini tidak selalu diperuntukkan untuk model ya teman-teman. Kalian bisa stalking dan cek track record, contoh seperti Anindya Kusuma Putri (Puteri Indonesia 2015) dan Alya Nurshabrina (Miss Indonesia 2018) dan tentu masih ada yang lainnya. Anindya dan Alya ini bukan model, tapi meskipun mereka baru pertama kali terjun di kontes kecantikan masing-masing, mereka sudah memiliki segudang pengalaman dan prestasi yang secara otomatis itu membentuk pola pikir mereka dalam berpikir kritis, membentuk karakter, kepribadian, berkomunikasi, cara berinteraksi dengan orang lain, berpenampilan, dll. Secara khusus mereka secara tidak langsung sudah "terbentuk" dengan jam terbang masing-masing.

Nah, dari contoh ini lalu jangan kemudian berpikir "aduh, aku tidak sehebat Kak Anin atau Kak Alya nih. Nggak jadi ikut deh". Wow wow wow.. Jika ada niat, tentu ada kemauan. Terlebih teman-teman yang ingin mengikuti pemilihan duta atau kontes tertentu dengan tujuan mulia seperti ikut aktif di kegiatan sosial atau pengembangan masyarakat, atau dengan membawa visi misi tertentu, harusnya sosok Kak Anin atau Kak Alya justru memotivasi kalian untuk mempersiapkan diri dengan matang. Ketika diri sendiri dirasa kurang mumpuni untuk menyiapkan sendiri, kalian berarti hanya butuh partner dan sahabat untuk mengasah potensi diri. Kalian bisa berpartner dengan Maestria.



Kalian bisa menyaksikan video ini sampai habis (lebih baik pakai headset ya agar suaranya lebih jelas), untuk kalian jadikan gambaran atau referensi. Kalau hanya ditulis, sepertinya kurang jelas ya.

Antar kontes pageants pasti memiliki kriteria pemenang yang berbeda. Tapi melalui video ini semoga sedikit memberi referensi dan mengobati rasa penasaran kalian akan rangkaian audisi Miss Indonesia 2020 (edisi Kota Surabaya).

Bisa sedikit dibayangkan ya, kalian jadi salah satu peerta disana dan di tengah-tengah dewan juri, menjawab pertanyaan dengan puluhan mata dan kamera memandang. Wew... kayaknya serem ya. Hehehe.. jangan cepat menyimpulkan sebelum nonton habis videonya.

Tapi pertanyaannya bukan seperti ujian SBMPTN atau UN kok. Lebih mengenai diri sendiri, bakat, pengalaman, opini mengenai isu-isu tertentu dan wawasan umum.

Tapi memang, semudah apapun jenis pertanyaannya, kalau kurang pandai memanajemen grogi, tidak kontrol emosi, bisa blank dan pertanyaan semudah apapun justru tidak bisa dijawab dengan baik.

Baru ngeh waktu ngedit videonya.
Carla Yules (yang akhirnya jadi pemenang Miss Indonesia 2020) ternyata in frame di video ini (interview berbaju merah, video profil baju merah muda).

Gimana pendapat kalian? Nggak salah ya kalau juri akhirnya ngelolosin si humble Carla Yules ini.

Ada yang mau sharing atau curhat soal pengalamannya di dunia beauty pageants?

Coret-coret di kolom komentar atau jangan sungkan untuk e-mail ke zanzabela@yahoo.com :)

(Adm/Zan)
4/19/20

PPAN 2020 : Seleksi Interview dan LGD

Halo hunters! Bagaimana kabarnya? Masih semangat meraih impian menjelang pertengahan tahun 2020 ini? Ada yang punya impian lolos seleksi Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN)?

Kalau kalian ketika Pertukaran Pemuda Antar Negara, insyaallah referensinya sudah banyak banget. Untuk di Jawa Timur, panitia seleksi PPAN adalah Purna Caraka Muda Indonesia (PCMI) Jawa Timur. Tentu dengan naungan Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Jawa Timur.

Nah tahun 2020, mereka kembali membuka pendaftaran. Syarat dan ketentuan bisa dicek di instagram @pcmijatim atau www.pcmijatim.org. Saran sih, kalau daftar persiapannya jangan mepet ya. Karena form pendaftaran PPAN meskipun bisa kalian kerjakan sambil tiduran, tetap membutuhkan pemikiran yang matang. Karena ada semacam esai assignment (topik tiap tahun berbeda-beda) dan portofolio social project yang harus disusun dengan ketentuan maksimal 250 kata.

Kadang mau mulai nulis esai, nggak ada inspirasi sama sekali. Tapi begitu sudah cliiing ada inspirasi, ngetik terus sampai lebih dari 250 kata. Sampai bingung harus dirangkum kayak gimana. Wkwk. Itulah sensasi menulis esai. Ngangeni. Selain mengerjakan esai, ada beberapa dokumen/berkas yang juga harus diunggah seperti form pendaftaran, KTP, piagam/sertifikat prestasi, dan sertifikat TOEFL/tes kemampuan bahasa inggris sejenis.

Oiya, nggak ada salahnya kalau kalian meminta bantuan sahabat, kakak, dosen atau orang kepercayaan kalian untuk membaca esai kamu. Kalau ada masukan dan saran dari mereka, justru akan membantu penyempurnaan esai. Karena kalau esai hanya dikoreksi oleh penulis sendiri, takutnya terlalu subjektif dan takutnya justru sulit dipahami oleh pembaca. Apalagi semua esai ditulis dalam bahasa inggris.

Setelah semua esai dan dokumen disubmit. Tinggal menanti pengumuman siapa yang lolos di tahap selanjutnya dan mengikuti tes TPA dan bahasa inggris. Karena di tengah pandemi, maka tes tersebut diselenggarakan secara daring.

Satu kata yang aku rasakan saat mengerjakan soal tes, spaneng! Hehe. Yang penting sudah berusaha maksimal. Soal hasil serahkan pada Allah SWT.

Beberapa hari berlalu, tibalah saat pengumuman siapa saja peserta yang akan melanjutkan ke tahap interview dan LGD. Dan alhamdulillah nama saya tertulis sebagai peserta cadangan. Artinya adalah  saya baru bisa melanjutkan ke tahap selanjutnya ketika ada peserta utama yang mengundurkan diri. Tapi, ini kompetisi prestisius dan saya kira tidak akan ada yang mengundurkan diri. Mengingat mengerjakan esai dan tes tertulisnya saja susah payah, ketika dinyatakan lolos sepertinya tidak mungkin mengundurkan diri kecuali hal urgent.

Pengumuman peserta Cadangan (Putri)

Dalam hati sudah tidak terlalu berharap karena tak kunjung ada pemberitahuan di instagram terkait pergantian peserta utama. Jadi, ah ya sudahlah. Dan, tepat sesuai dugaan.



Langsung putar lagunya Bondan.
"ketika mimpimu tak begitu indah, tak pernah terwujud, ya sudahlah".





Dan 2 hari kemudian secara tidak terduga saya dihubungi oleh panitia dari PCMI Jawa Timur terkait peserta utama yang mengundurkan diri dan saya diminta menggantikan. Huwooo.
Rasa-rasanya ini berkat sholat dhuha.

Sesi interview menggunakan Google Meet
Cerita tahap interview hari ini cukup menegangkan. Dan memang bukan pertanyaan salah-benar. Semua pertanyaan bersifat "apa adanya" diri sendiri. Saya masih ingat kata-kata salah satu panitia PPAN saat tahun 2016 atau 2017 (agak lupa) saya mengikuti seleksi, "kalau misal dalam tahap ini kalian tidak lolos, itu bukan jawaban kalian salah tetapi 'mungkin' karena warna karakter peserta bukan warna untuk kriteria PPAN".

"Apa saja yang ditanyakan dalam rangkaian seleksi wawancara?"

Ada 5 dewan juri yang akan mewawancarai peserta dan masing-masing memiliki topik pertanyaan yang berbeda-beda. Ada yang secara khusus mewawancarai social project kita, ada yang khusus wawancara mengenai budaya dan pariwisata bahkan peserta diminta untuk menunjukkan salah satu talenta seni budaya/lainnya. Selain itu ada juri yang akan bertanya mengenai pengalaman kita, jangan lupa untuk membaca lagi CV kalian supaya ingat apa saja yang kalian tulis di CV. Jangan sampai kalian lupa dengan organisasi atau pengalaman kalian kegiatan yang kalian tulis. Hehe... Dan ada yang bertanya mengenai visi diri, kepribadian bahkan wawasan umum dan isu-isu tertentu. Secara tidak terduga saya juga diwawancarai mengenai makna ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Langsung ingat cerita guru SD ku yang dulu sering menyebutkan filosofi semboyan Ki Hajar Dewantara tersebut. Oh ada satu lagi dewan juri yang mewawancarai kita guna menguji kemampuan bahasa inggris kita.

Setelah rangkaian tahap interview usai, seluruh peserta akan dibagi menjadi beberapa grup untuk tahap LGD (Leaderless Group Discussion) yang dikemas seperti talkshow Mata Najwa. Jadi akan ada narasumber-narasumber yang saling memberikan pendapat/respon/tanggapan terkait topik tertentu. Masing-masing grup pun akan membahas topik yang berbeda-beda dan topik tersebut telah dikirimkan ke peserta melalui surel sekitar 2-3 hari sebelum hari H. Kebetulan kelompok saya mendapatkan topik mengenai "Aktivitas Perikanan Illegal". Wew..

Dalam hati, ini beneran topik yang diluar dugaan sih. Hehehe...

Sesi LGD semakin mendebarkan ketika nanti kita akan dibagi menjadi beberapa peran seperti peran pemerintah, LSM, aktivis, pakar kebijakan publik, dan lain-lain. Dan possibility role play kelompok saya dengan topik tentang aktivitas perikanan illegal tersebut terdiri dari 6 yaitu peran sebagai nelayan, aktivis, pakar hukum, pengamat kebijakan publik, United Nations Convention On The Law of Sea (UNCLOS) dan Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Piye, serem ra? (Gimana, serem nggak)

Eits.. ini masih possibility role ya. Karena saat hari LGD tiba, kita baru mengetahui kita akan mendapatkan peran apa. Jadi meskipun topik LGD sudah diberikan beberapa hari sebelumnya, tetap deg degan karena harus mempelajari topik dengan kemungkinan role play yang akan didapat nanti. Nah kemampuan riset disini sangat penting guna mengumpulkan sebanyak-banyaknya informasi dan wawasan berdasar peran-peran di atas. Pendapat akan solusi illegal fishing misal contoh terkait rencana KKP untuk ekspor benur / bayi lobster antara peran aktivis, KKP dengan pakar kebijakan publik tentu berbeda dong.

Maka dari itu, SEMANGAT!
Udah nggak bisa bilang apapun. Bissmillah ya. Hehehe :)

Poin-poin penilaian untuk LGD meliputi : 
- Kemampuan riset
- Kemampuan menyampaikan pendapat
- Kemampuan mendengarkan pendapat orang lain
- Kemampuan memberikan feedback atau tanggapan

Sesi LGD dengan topik "Aktivitas Perikanan Illegal"
Hari LGD pun tiba. Lima menit sebelum sesi dimulai, kami diberikan masing-masing peran yang akan dijalankan saat sesi LGD berlangsung. Dan saya kebetulan mendapat peran sebagai pengamat kebijakan publik. Di 20 menit awal LGD, saya merasa tidak fokus, gupuh dan tidak bisa menyimak paparan diskusi teman-teman. Hal itu dikarenakan microphone headset saya tidak berfungsi dan terpaksa harus merestart google chrome. Entah sudah  berapa hal yang saya lewatkan. Ketika giliran saya berbicara, saya pun tidak yakin apakah 'nyambung' dengan pembicaraan sebelum-sebelumnya mengingat 20 menit saya melewatkan sesi tersebut. Fiuh. Padahal saat sesi interview, tidak ada masalah dengan microphone saya, semua berjalan lancar secara teknis.

Benar kata guru saya, "wong apes ki ora bejo". Lawas mbak.
Bukan hanya perihal teknis, laptop saya juga mengalami lag dan sangat lambat. Bahkan video peserta ketika sesi pemaparan saja macet-macet agak freeze. Sedangkan durasi diskusi terus berlanjut. Mau teriak juga nggak mungkin. Benar-benar berada di situasi yang tidak proper untuk menjalani sesi LGD.

Memang penting teman-teman untuk membentuk mental supaya tidak gupuhan. Supaya bisa tetap mengontrol diri dan emosi saat ada kejadian tidak terduga melanda.

Diskusi sebenarnya berjalan dengan sangat santai, padat dan masing-masing bisa memberikan opini sesuai sudut pandang dari peran masing-masing. Tapi secara pribadi, saya sudah kehilangan setengah fokus akibat kendala teknis dari microphone saya. Sepertinya memang belum rezeki.

Ya sudahlah. Sampai tahap ini pun sudah pengalaman yang luar biasa.
Setidaknya, pengalaman selama seleksi bisa saya bagikan kepada teman-teman Maestria. Nggak seru kan kalau yang diposting hanya yang berhasil aja, sesekali yang gagal juga perlu. Untuk catatan hidup dan belajar dari pengalaman.

Semangat buat kamu yang juga sedang berjuang!
Terima kasih sudah mampir.

(Admin/Zan)
4/16/20

WFH : Kursus di Sekolah Kepribadian Impian

"Thanks to corona part 2"

Tulisan sebelumnya saya awali dengan kalimat yang sama, berterima kasih pada covid-19. Selain karena sudah 'jenuh' mengeluh, dampak pandemi covid-19 ini membuat sekolah kepribadian impian saya membuka pendaftaran kelas baru dengan diskon yang tak tanggung-tanggung, yaitu sebesar 50%. Tapi tetep mahal sih, karena harus langsung lunas dibayar (tidak bisa diangsur).

Setelah saya bertanya-tanya dengan teman yang tahun 2005-2006 juga pernah mengambil kursus di tempat yang sama, biaya yang harus dia keluarkan saat itu lebih mahal sekitar 6jutaan jika dibandingkan dengan harga yang saat ini diskon 50%. Kata teman saya, "itu murceeee saaayyy".

Oke. Saya termakan sugesti 'murce'.
Oke deh. DAFTARR!!!!


Online class perdana di John Robert Powers

"Welcome to the club bebs"

Agak kaget juga, begitu daftar dapat konfirmasi dari admin bahwa di hari yang sama akan dimulai online class yang membahas mengenai Business Presentation, Teknik Persuasif dan AIDA. Online class diberikan melalui aplikasi Zoom dengan durasi sekitar 60 menit.


"Online class harganya jutaan tu mahal deh ciinnnn"

Tunggu dulu esmeralda. Kelas ini tetap terhitung sebagai kelas reguler (tatap muka) dengan total sekitar 20 pertemuan (kalau tidak salah) yang dilaksanakan selama 10 minggu. Kelas tatap muka baru akan dimulai usai pandemi berlalu. Sedangkan kelas daring sebenarnya bak bonus di tengah wabah karena semua kelas libur. Agar tetap ada aktivitas produktif di rumah bagi para siswa.

"Duh kak, aku pengen juga ambil kursus kayak gitu. Tapi masih mahal"

Jangan dipaksakan. Kalau bersabar menabung, silahkan menabung dulu. Kalau ada kemauan pasti ada jalan. Tapi kalau tetap mau belajar dengan solusi perkara 'budget', bisa daftar kelas Maestria di sini (lho kok malah promosi). Bijim. (Baca juga tentang Maestria)

Karena kelas itu hadir selain ingin menyebarkan awareness tentang pentingnya pengembangan soft skills dan pengembangan diri (personal development) untuk menunjang prestasi-karir, ingin  juga membantu teman-teman yang memiliki kendala ekonomi untuk belajar.

Dulu saya kira di Trenggalek ada sekolah begituan, ternyata tidak ada dan harus menunggu lulus SMA dan kuliah di Surabaya (tahun 2012) baru bisa kursus soft skills.

Namun pada tahun 2012 pun saya menahan diri untuk tidak segera mengambil kursus public speaking dan kepribadian. Anu, sebagai mahasiswa baru, perantau, wajib untuk hemat. Hehe.. Jadi ya nabung. Bahkan sembari menabung, saya mengikuti banyak workshop "cuma-cuma" agar tidak ketinggalan ilmu. Nekat ikut-ikut lomba duta-duta juga supaya bisa mendapatkan materi public speaking saat karantina. Biaya ikut lomba tidak semahal biaya kursus saat itu. Hehehe....

Jadi, untuk teman-teman yang memiliki keluhan sama, i know your feeling cah. Tos sik!
Dan itulah kelas Maestria hadir tujuannya juga untuk menjadi solusi untuk teman-teman yang 'terkendala'.

Terlepas senang bisa sekolah di sekolah impian, makin semangat self quarantine atau WFH, karena nemu ramuan pengganti jamu kitiran dengan tetap produktif di rumah. Nulis konten, edit video amatir, siaran, kelas online, nyusun modulnya Alabela, dan MAKAN terosss sampek mancung pipinya.. Huft.

Tapi yang terpenting, memastikan kembali materi personality dan personal development agar ketika mengajar tidak memberikan ilmu hoax, dan makin matang lagi ketika harus membagikan ilmu itu ke adik-adik kelasku yang dilema kalau disuruh "ngomong" di depan publik dan orang-orang yang memerlukan bantuan belajar, kalian bisa juga mendaftar kursus melalui Superprof atau situs Alabela.

Semoga pandemi lekas berakhir. Aamiin.
Situasi kembali kondusif. Aamiin.

Semangat teman-teman!

(Admin/Zan)




4/14/20

WFH : Belajar Membuat Moodboard

"Thanks corona"

Sepertinya sudah bosan kalau harus mengeluh, dimana-mana mengeluh, jenuh. Pasti ada hikmah dibalik wabah. Jadi saya putuskan untuk berterima kasih pada wabah covid-19 ini (meskipun meronta banyak job ketunda bahkan dibatalkan).

Contoh Moodboard by Merachel (online class)
Himbauan work from home atau WFH sebagai upaya memutus penularan covid-19, sepertinya memicu trend dan perubahan cara bekerja, belajar, belanja dan beraktivitas masyarakat dari cara konvensional menjadi daring atau online. Mau tidak mau, masyarakat dipaksa dalam waktu sekejap harus bersahabat dengan aplikasi daring yang digunakan untuk online meeting, online class, situs e-learning, aplikasi editing video untuk vlog, dan lain-lain. Nah, hikmah corona di tengah pandemi seperti saat ini, banyak sekolah fashion yang membuka online class dengan biaya yang sangat terjangkau.

Mulai kemarin (13/04) saya mengikuti online class dari sekolah fashion bernama Merachel. Kelas yang saya ikuti membahas mengenai fashion design concept termasuk membahas mengenai pembuatan moodboard. Saya memang bukan fashion designer, tidak ada keterampilan jahit juga, hehe.. Tapi beberapa tahun terakhir, sering berkecimpung dengan para pelaku industri fashion, termasuk sejak November 2019 lalu menginisiasi komunitas Trenggalek Fashion Enthusiast (TFE), akhirnya semakin menstimulus saya untuk sedikit belajar mengenai fashion concept. Ya biar ndak buntu-buntu banget maksudnya jika sewaktu-waktu diajak diskusi soal moodboard dengan anggota TFE, diriku tidak salah sambung. Hehehe....

Tapi, sebelum sharing ringan terkait moodboard, intip 100 tahun perjalanan sejarah fashion melalui video ini yuk. Lumayan untuk dijadikan referensi daily fashion kalian.





100 Years of Fashion (female and male)

Mengapa kita perlu mengetahui fashion history terlebih dulu?

Kalau kata Miss Meriza (coach dan owner Merachel), fashion itu memiliki cycle yang berpengaruh pada tren fashion yang terus berputar. Ini juga terpengaruh dari sifat alami manusia dimana mereka mudah bosan, ingin mencari hal baru, ingin tampil berbeda. Dan dari referensi tersebut bisa dijadikan  dasar untuk menentukan ide atau konsep desain yang ingin kita buat ke dalam moodboard.

Apa itu moodboard?

Moodboard merupakan analisa tren visual yang dibuat para desainer dari komposisi gambar-gambar berupa foto, kliping, atau sketsa yang memuat suasana, warna dan tema yang nantinya akan diwujudkan menjadi suatu karya. Sedangkan tujuan dari pembuatan moodboard yaitu menentukan tujuan, arah serta panduan dalam proses kreatif sehingga karya yang dibuat tidak menyimpang dari tema yang telah ditentukan. Sebuah moodboard dapat digunakan pada berbagai bidang desain, seperti desain fashion dan interior. Dalam dunia cinematography/video pun juga dikenal istilah moodboard saat awal penyusunan konsep video..

Sedangkan dalam dunia fashion sendiri istilah moodboard dapat diartikan sebagai suatu alat yang digunakan oleh designer untuk mendapatkan ide yang akan dipakai sebagai referensi desain. Secara umum moodboard berfungsi sebagai media pembelajaran yang memberikan gambaran mengenai tujuan dan manfaat yang akan diperoleh dari karya yang akan dibuat. Dapat juga dijadikan sebagai media perencanaan dalam pelaksanaan industri busana dan kriya tekstil seperti garmen dan butik, serta merumuskan berbagai macam ide dan gagasan yang semula bersifat abstrak menjadi sebuah karya yang sifatnya lebih konkret.

Supaya tidak semakin ambyar memahami apa itu moodboard, berikut beberapa contoh moodboard dari Merachel ya.



Setelah tadi kita memahami fashion history yang bisa dijadikan sebagai referensi dalam mendesain dan dituangkan dalam moodboard, berikutnya kita akan membahas mengenai langkah-langkah pembuatan moodboard.

1. PICK A THEME
Lakukan brainstorming berbagai macam ide-ide untuk memudahkan memilih dan menentukan tema yang akan digunakan.

2. IMAGE STYLE
Cari inspirasi style berupa gambar-gambar yang sesuai dengan tema yang telah ditentukan.

3. FIND TEXTURE
Lengkapi dengan corak bahan atau tekstur warna yang mungkin bisa menjadi inspirasi koleksi yang akan dibuat.

4. CREATE COMPOSITION
Buat komposisi menarik dari gambar yang telah dipilih, pastikan susunan gambar dibuat semenarik mungkin dan memiliki vocal point.Vocal point yang dimaksud adalah sesuatu yang ditonjolkan dalam satu desain tersebut.

5. COLOUR CHART
Buat palet warna dari hasil komposisi yang telah dibuat agar lebih mudah saat mendesain koleksi sesuai moodboard.

6. DESIGN CONCEPT
Konsep desain dapat dibuat lebih rinci dengan moodboard sebagai referensi

Sedangkan template yang dapat kalian gunakan untuk membuat moodboard, bisa memakain template di bawah ini :



Nah, ini hasil pembelajaran di Merachel.
Meski #dirumahaja, tetap produktif ya teman-teman.

Terima kasih sudah mampir.

(Adm/Zan)





4/7/20

Maestría | Mastering Skills


Kalau diingat-ingat, tahun 2015 saya mulai memberanikan diri untuk mengisi materi mengenai public speaking. Waktu itu di rangkaian kegiatan pemiliha Duta I Love Trenggalek tahun 2015. Namun saat itu, masih belum ada keberanian untuk serius membuka kursus atau kelas khusus. Usia saat itu masih terlalu dini, perlau jam terbang dan banyak pengalaman sampai akhirnya suatu waktu cukup mumpuni untuk mengajar. Tidak terasa hampir 5 tahun perjalanan mengajar saya di dunia public speaking. Dan sekarang saya juga menerima peserta yang ingin mempelajari basic catwalk



Menemani perjalanan hampir 5 tahun ini, saya berpikir untuk memperbaharui nama Alabela Edu. Harapannya dengan nama baru semoga membawa semangat baru. Makin beragam lagi ide dan inovasi baru terkait peningkatan potensi diri, pengembangan kepribadian dan mengasah soft skill.

Nama yang saya pilih berasal dari kosakata Spanyol yaitu Maestría.
Pemilihan nama ini pun bukan tanpa alasan. 

Bagi saya, pengambilan nama ini didasarkan pada filosofi pentingnya penguasaan skill. Baik hard skill yang telah didapat dari pendidikan formal, dan soft skill yang menjadi fokus kami. Terlebih penguasaan keahlian tersebut sebagai bentuk pengembangan potensi diri, cakap berkomunikasi dan berdaya saing sesuai passion masing-masing. Sehingga dapat membentuk rasa percaya diri, keterampilan komunikasi yang baik hingga siap meraih prestasi dan karir yang gemilang.





Nah untuk penjelasan selengkapnya, saya sudah jabarkan berikut ini ya. Semoga  dengan nama baru membawa semangat baru.


Kami juga mengadakan kelas online dengan membayar seikhlasnya untuk sebagian didonasikan pada program penanggulangan covid-19. Daftarkan dirimu melalui bit.ly/alabela.

(Adm/Zan)

Belajar Public Speaking, Bayar Seikhlasnya

Maestría Online Class

Di tengah pandemi covid-19, kita melihat baik di media konvensional atau media daring pemberitaan mengenai upaya strategis dari berbagai pihak untuk mengatasi penularan covid-19, pengobatan bagi pasien yang positif terinfeksi, pengadaan masker dan APD untuk tenaga medis, pemberian bantuan kepada masyarakat terdampak, dan lain-lain.

Mengingat masa physical distancing diperpanjang hingga 29 Mei 2020, itu pun pemerintah belum sepenuhnya menjamin bahwa situasi akan kembali normal setelah itu, maka tentu imbas ke masyarakat terutama dari sisi ekonomi juga semakin lama dirasakan. Terutama bagi para  pekerja harian yang jika mereka tidak keluar rumah untuk bekerja, maka tidak ada pemasukan untuk makan di hari itu. Tak hanya masyarakat kecil, bahkan pengusaha pun juga menjerit. Karena mereka berpikir keras bagaimana menutup biaya produksi dan operasional usahanya, bagaimana memberikan Tabungan Hari Raya (THR) jelang lebaran nanti kepada karyawan-karyawannya, bagaimana menggaji karyawan sejak bulan Maret hingga Mei nanti yang itupun belum ada kepastian apakah 29 Mei 2020 menjadi akhir bagi pandemi covid-19 di Indonesia, dan kegelisahan-kegelisahan lainnya.

Ketika produktivitas barang dan jasa terus berjalan pun, daya beli masyarakat bisa saja mengalami penurunan drastis karena anjuran untuk di rumah saja dan pendapatan yang tidak seperti biasa. Artinya jika satu orang (normalnya) dalam sehari banyak beraktivitas di luar rumah maka kegiatan konsumsi yang mereka lakukan pun banyak. Misal, meeting di cafe, kebiasaan nongkrong, ngopi, berbelanja, dll. Ketika ada himbauan pemerintah untuk di rumah saja, membuat masyarakat tidak se-produktif biasanya, aktivitas konsumsi tidak setinggi biasanya. Belum lagi beberapa pekerja yang terpaksa dirumahkan, mempengaruhi pendapatan mereka sehingga menyebabkan daya beli mereka rendah bahkan kesulitan untuk membeli makanan untuk dirinya sendiri.

Banyak komunitas, LSM atau lembaga-lembaga tertentu yang menggalang donasi untuk program penanggulangan covid-19. Seperti menggalang donasi untuk pembelian masker dan Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga medis, pemberian sembako dan bantuan bagi pekerja harian terdampak, pembuatan disinfektan-chamber di ruang publik, dll.

Agar penggalangan donasi tersebut semakin besar lagi dampaknya, dan semakin luas menjangkau masyarakat se-Indonesia, maka perlu itikad untuk "bergerak bersama-sama" menggalang donasi. Ada berbagai cara yang bisa dilakukan. Yang terpenting sesuai dengan kapasitas kalian melakukannya. Jangan lupa untuk berdoa, itu senjata mujarab untuk memohon pada Pencipta agar wabah ini lekas musnah. Jika teman-teman ada kelebihan tenaga, dan bisa melakukan hal lain, yuk bareng-bareng.

Bagi kalian yang ingin mengasah soft skill terutama di bidang public speaking, kalian bisa membayar seikhlasnya. Hasil tersebut, sebagian akan kami donasikan ke Dompet Dhuafa melalui kantor cabang Jatim dan komunitas di Trenggalek. Sebelumnya mohon maaf jika Alabela tidak bisa terjun langsung ke masyarakat. Himbauan bagi kami para perantau untuk tidak mudik dulu, sedang kami terapkan meskipun sangat rindu tanah kelahiran. Kami takut justru carrier dan malah menularkan kepada orang lain terutama yang usianya sudah tidak muda lagi. Penyaluran donasi melalui lembaga atau komunitas terpercaya diharapkan lebih tepat sasaran dan bisa menjangkau masyarakat luas.

Jika kalian tertarik, bisa mendaftarkan diri melalui bit.ly/alabela.

Terima kasih.

(Adm/Zan)