Hari libur, kalian ngapain?
Nonton film atau beberes rumah?
Agak berbeda dengan aku yang sedang menulis opini untuk keperluan sesuatu (yang masih rahasia tapi tolong doanya ya semoga lancar. Hehe). Nah aku diminta untuk menuliskan opini dan boleh memilih satu diantara beberapa topik : aktivisme online, kapitalisme, cancel culture dan privilege.
Entah kenapa, tiba-tiba aku keinget dengan obrolan bareng kawan SMP ku di tahun 2024 lalu. Kenapa bisa inget persis tahunnya? Yap, karena ngobrolnya di DM instagram, ketika scroll lagi, muncul persis tanggalnya 27 April 2024. Haha…
Jadi waktu itu aku tiba-tiba menulis di story tentang “sekarang ini di media sosial, tidak sedikit orang yang ingin terlihat 0, terlihat berjuang”. Dan salah satu temenku reply storyku, akhirnya kita ngobrol.
Trigger-nya adalah berita seorang anak SD yang berhasil fashion show di New York. Kolom komentarnya miris menurutku, ya menganggap sang anak mendapat privilege semenjak dini karena orang tuanya konglomerat. Seolah seperti si anak ini tidak ada perjuangannya dan satu-satunya effort hanya uang orang tuanya saja. Padahal saat itu hampir berdekatan dengan kasus Mario Dandy yang tersandung kasus serius sampai berimbas ke karir ayahnya. Dia juga kaya kan? Tapi tidak bisa bijaksana memanfaatkan privilege itu, malah bahkan melakukan tindakan melanggar hukum.
Tapi bagi sebagian orang, harus mlarat dulu lalu berjuang untuk sukses, ketika berhasil maka ini full tepuk tangan apresiasi. Seperti anak tukang becak yang lulus sarjana misalnya. Kolom komentar hampir serempak memuja-muja tanpa cela. Tapi kalau yang berprestasi adalah anak konglomerat, dianggapnya “ah itu sih privilege aja karna ortunya kaya”. Ehhmmm…
Temanku itu pun bercerita, sampai ada teman kuliahnya yang malu jika memakai fasilitas dari pemberian orang tuanya. Karena dicibir privilege tadi. Seolah dia sebagai anak manja, tidak ada effort, dan hanya bergantung dengan kekayaan orang tuanya. Lantas, perjuangan orang tuanya sejak beliau remaja bekerja hingga keuangan stabil seperti sekarang ini, bagaimana? Uang ortu yang dikumpulkan untuk anak, lalu gimana?
Obrolan random ini akhirnya ku putuskan untuk menjadi topik pilihan yang aku tulis. Jujur, beberapa tahun ini lebih banyak nulis untuk script konten video, nulis berita hasil liputan dan esai tentang komunikasi kebijakan publik. Nulis opini lagi, merasa agak kaku ya. Haha.. Tapi kita coba. Let’s go, cekidot!
***
“Tidak sedikit orang di media sosial justru ingin terlihat dari 0, terlihat berjuang!”
Beberapa waktu lalu ada konten di media sosial tentang anak SD sebagai fashion designer termuda Indonesia bisa mengikuti New York Fashion Week. Kolom komentarnya beragam, tetapi tidak sedikit yang berkomentar jika fashion designer dari kalangan keluarga kaya dan bisa ikut fashion show hingga ke luar negeri disebut privilege dan itu biasa aja. Berbeda dengan postingan lainnya yang memberitakan tentang anak tukang becak bisa lulus kuliah. Kolom komentarnya hampir serempak tanpa cela dan memuja-muja dedikasi orang tuanya, dan memberi jempol kegigihan si anak yang dengan keterbatasan tetap bisa menyelesaikan studi bahkan menjadi wisudawan terbaik. Katanya kalau kaya dan berprestasi, itu biasa saja ya karena itu fasilitas dari orang tuanya. Kalau miskin dan berprestasi seolah lebih diapresiasi. Saya pernah menuliskan tentang ini di story instagram, dengan mengcapture komentar-komentarnya.
Ternyata ada salah satu kawan saya yang merasakan hal serupa. Orang tuanya bekerja mati-matian sejak remaja, akhirnya bisa bekerja dengan penghasilan yang stabil. Orang tuanya mengupayakan yang terbaik dengan berinvestasi dan memberikan fasilitas sewajarnya untuk mendukung pendidikannya. Ya, tentu saja ini adalah hal yang dilakukan umumnya orang tua demi anak-anaknya. Kawan saya tentu menghargai jerih payah orang tuanya yang ingin mendukung karir dan kuliahnya, tetapi berbeda dengan respon teman-temannya. Itu disebut privilege karena keluarga kaya dan justru dicibir. Hal ini membuat saya berpikir, kenapa akhirnya kita pilih-pilih untuk mengapresiasi. Padahal kita tidak sedang menjadi panitia seleksi beasiswa untuk masyarakat pra sejahtera.
Sepertinya sudah jarang sekali memaknai kata privilege atau di privilese secara harfiah. Jika melihat di KBBI, privilese memiliki arti hak istimewa. Sepertinya netral saja tanpa ada embel-embel kata lain yang berkonotasi negatif. Bisa saja digunakan untuk kalimat, “kerja keras dan giat belajar adalah privilese utama yang memungkinkan seorang siswa naik kelas”. Adalah hal yang wajar dan sudah seharusnya yang giat belajar dan nilai lulus di semua mata pelajaran maka akan naik kelas. Tetapi sepertinya kalimat ini jarang ya, karena belajar giat dan naik kelas layaknya hukum sebab akibat yang wajar saja terjadi. Tetapi jika kaya dan berprestasi, baru disebut privilese. Seolah yang kaya hanya mengandalkan kekayaan semata, mengindahkan kerja keras. Apakah lantas kata privilese ini sudah menjadi tidak netral lagi sebagai diksi?
***
Esai opininya berakhir sampai sini, tetapi aku ingin menambah cerita dari kawan baikku itu. Menurutku lumayan gong sih.
Dia adalah siswa SMA dengan nilai Ujian Nasional terbaik se-Kab Trenggalek saat itu. Lalu gurunya memberi tahu bahwa ada wartawan yang ingin meliput dan mewawancarainya. Dan dia janjian lah dengan wartawan tersebut untuk wawancara. Selama tanya jawab, temanku ini mendapat sinyal bahwa si wartawan ini seperti kaget karena anak pintar peraih nilai UN terbaik adalah anak berada (kaya), persiapan cukup proper dengan ikut bimbel sehingga raut muka wartawan dinilai “tidak terharu” dengan kisah nilai bagusnya. Menurutnya mungkin karena ini hal biasa, ya kaya bisa bayar bimbel, pinter deh. Berapa banyak sih yang kaya, pintar dan bisa mendapat nilai UN terbaik?? Hmmm…
Akhirnya dia tidak jadi dimuat di koran waktu itu. Kesal pasti ada, tetapi yang disayangkan adalah seolah yang boleh masuk koran hanya anak tidak mampu yang berprestasi.
Hmm… menurut kalian gimana?
(Adm/Zan)












