9/2/26

TRENGGALEK : PERDA PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF

 Seringnya kalau nyebut ekonomi kreatif, kepikirnya kota besar kayak Jakarta atau Surabaya.

“Ah… Trenggalek, kabupaten doang. Sawah (pertanian) dan wisata cukup kok!”

Perda Pengembangan Ekraf sudah masuk prolegda perubahan tahun 2026

Pernah denger tentang diversifikasi pangan? Biar nggak melulu hanya bergantung sama beras. Tapi juga makan kimpul, singkong, dan variasi sumber karbo lain. Kan tujuannya nggak kemudian nggak boleh makan nasi kan?

Sumber perekonomian yg didiversifikasi, maka ada alternatif sumber perekonomian juga. Membuka lapangan pekerjaan dari ide-ide kreatif. Dan ketika memberikan konsentrasi terhadap pengembangan ekonomi kreatif lokal bukan lantas mengeliminasi komoditas pertanian, sawah, laut apalagi potensi wisata. Terus biar apa?

Pertemuan Komite Ekraf Trenggalek

Biar pelaku kreatif lokal yg concern di fashion, kriya, film, desain, musik, animasi dll punya ekosistem di daerah asalnya. Contoh promosi paket wisatanya sambil include jasa drone, hasil kreativitas video ini kan juga masuk sub sektor ekonomi kreatif. Next, anak-anak yang bikin brand dan punya IP nggak melulu harus merantau. Ya merantau juga gpp tapi pas pulang, ekosistemnya mendukung untuk tetap berkreativitas. Stay di #Trenggalek dan punya clientnya luar Nggalek juga gpp ding. Hehe..

Terus yang disebut punya aset nggak melulu berupa tanah dan seribu rumah tetapi bisa juga dalam bentuk intellectual property (IP). Orang-orang udah sepaham dengan ini. Kalian create acara, punya kanal podcast atau IP lain, rawatlah.

Oiya.. penentuan jenis sub sektornya bukan sekedar unggulan tetapi yang menjadi sub sektor lokomotif. Sub sektor yg bisa menarik pertumbuhan di sub sektor lain. Kayak gerbong lokomotif kereta yang narik gerbong belakangnya.

Seni pertunjukan yang digarap serius, maka imbasnya ke pelaku sektor lainnya. Kalau ditulis terus bisa se-koran, jadi segitu dulu aja. Hehe..

Dan komitmen pengembangan ekraf ini selain komunitas dan komitmen hexahelix, juga perlu payung hukumnya. Nah yang punya peran terkait perda (peraturan daerah) ini tentu saja legislatif. Terima kasih Ketua DPRD, Pak Doding Rahmadi dan Ketua Komisi II DPRD, Pak Mugianto Obeng 🙏🏻 Matur suwun rekan-rekan segenap Komite Ekraf Trenggalek sudah membersamai 🩵

(Adm/Zan)

9/1/26

JADI TUTOR UNIVERSITAS TERBUKA

Blog usang ini aku jadikan museum tertulis untuk mengabadikan jejak-jejak masa muda *aszekkk

Mungkin nantinya akan dibaca oleh cucu cicit kalau tingkah polah eyang buyutnya ini adaaaa aja, nggak berhenti-henti. Ya biar mereka nggak mageran, ada role model eyang buyutnya Hehe.. kidding..

Tulisan kali ini sharing tentang tutor tuton Universitas Terbuka. Sebenarnya rangkaian pendaftaran dan seleksi, lanjut pelatihan tutor sudah berlangsung beberapa pekan lalu tapi baru sempet nulis.

Bagi yang punya passion ngajar, interaksi dengan orang baru kayaknya kalian akan cocok menjadi tutor. Syarat dan ketentuannya gimana? 

Pendidikan minimal jenjang S2 di PTN/PTS minimal akreditasi B, memiliki pengalaman kepraktisian yang sesuai dengan mata kuliah yang akan dipilih, memiliki pengalaman mengajar/memberi pelatihan minimal 2 tahun, belum pernah menjadi tutor untuk Tutor Tatap Muka maupun Tutor Online Universitas Terbuka, mampu mengoperasikan komputer, tidak berstatus sebagai mahasiswa UT baik jenjang S1, S2 maupun S3, dan lain-lain bisa akses di websitenya ut.ac.id.

Alur Pendaftaran Tutor Universitas Terbuka

Sedangkan alur pendaftaran, aku capture ya dari official websitenya. Pendaftar harus login dan membuat akun di website tutor.ut.ac.id terlebih dahulu dan mulai melengkapi biodata dan dokumen persyaratan. Setelah itu, akan ada jangka waktu seleksi dan bagi yang lolos akan lanjut ke tahap pelatihan tutor. Untuk webinar tidak memakai platform zoom, tetapi Microsoft Teams. Jadi usahakan untuk install terlebih dahulu. Oiya, semua pemberitahuan informasi link webinar hanya akan disampaikan melalui e-mail yang terdaftar pada akun. Pastikan mengecek berkala e-mail Anda ya.

Sesi webinar pelatihan

Setelah 1 hari webinar pelatihan, dilanjutkan dengan pengerjaan tugas-tugas di website etraining.ut.ac.id sekaligus kelas simulasi agar calon tutor mendapatkan gambaran bagaimana nanti menjalankan fitur di dalam etraining.

Catatan penting untuk rekan-rekan yang ingin berhasil di tahap pelatihan, tugas harus dikerjakan sesuai dengan instruksi. Jangan improvisasi yang tidak perlu. Misalnya diminta untuk membuat video maksimal 2 menit, maka hal-hal yang disampaikan jangan melebihi, lebih baik buat batasan misalnya maksimal 1 menit 50 detik. Menurut saya, bahkan kelebihan 1 detik pun jangan. Diikuti saja sesuai instruksi. Tapi kalau kreativitas dalam membuat video perkenalan, boleh sekreatifnya namun tetap dalam tataran video pembelajaran (pembawaan formal atau semi formal) bukan pembawaan seperti video konten TikTok ya. Nggak perlu visual hook, text hook dan efek transisi yang jedag jedug. Hehehe…

Contoh Tugas Video Perkenalan Tutor Universitas Terbuka

Contoh Video Sapaan Tuton Universitas Terbuka

Bagi pengguna ipad, ada fitur link embed yang tidak bisa kita copy melalui kanal YouTube sehingga memerlukan laptop atau pc. Jangan seperti saya, kebingungan karena tidak bisa menemukan fitur copy link embeded di youtube. Untung kecurigaan saya terbukti, karena ipad. Akhirnya saya meminta bantuan teman untuk meng-copy link embeded melalui komputer miliknya dan dikirimkan ke saya.

Bagi yang lolos, di akun kalian akan tertulis Lulus di bagian hasil pelatihan (kanan)

Setelah selesai, saatnya menunggu pengumuman hasil pelatihan. Jika lulus, Anda dinyatakan resmi menjadi tutor Universitas Terbuka dan akan mendapatkan surat tugas dari fakultas.


Tutor online masih akan berjalan tanggal 14 September - 2 November 2026.

Ada yang tertarik menjadi tutor di UT? (Adm/Zan)




6/2/26

ADA APA DENGAN POLITIK INDONESIA?

Keresahan tentang apa yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia, akhirnya membuat tidak sedikit orang bertanya-tanya, ada apa dengan Indonesia? Jika beberapa waktu lalu, Survei Indikator Politik Indonesia mengatakan bahwa 41% responden tidak percaya dengan DPR. Sedangkan survei ISEAS-Yusof Ishak Institute menunjukkan anak-anak muda di Indonesia paling merasa pesimis terhadap situasi politik dan ekonomi di negaranya dibanding anak muda dari lima negara ASEAN lainnya. Tetapi jika mengurai dari dasar lagi, ilmu politik sendiri digunakan untuk mempelajari hubungan antara masyarakat dan negaranya. Lalu kebanyakan orang buru-buru menerjemahkan hal itu ke arah partai dan pemilu semata. Padahal relasi itu tidak bisa terjadi tanpa komunikasi. Bagaimana komunikasi masyarakat dengan negara dan sebaliknya?

Tidak adakah yang menyadari penyebab fundamental permasalahan politik di Indonesia bermula dari bagaimana komunikasi yang seharusnya menjadi jembatan tetapi justru menjadi tembok pemisah antara masyarakat dan negara. Seorang pengamat politik, Dr. Abdul Haris Fatgehipon yang juga seorang akademisi Universitas Negeri Jakarta juga berpendapat bahwa keterampilan komunikasi adalah keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh setiap politisi dan pejabat publik. Dan itu dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pendidikan formal, lingkungan sosial dan pengalaman berorganisasi. Ia juga menyampaikan, cukup disayangkan banyak politisi yang duduk di Senayan, tidak ditempa lewat pengalaman berorganisasi.

Ada hal-hal lain terjadi seperti ruang publik diwarnai oleh buzzer, gap komunikasi antara pemerintah dan masyarakat berdampak pada kebijakan yang tidak dipahami oleh masyarakat serta banyak pejabat yang tidak piawai berkomunikasi di hadapan publik membuat kondisi politik Indonesia kian mendung. Bahkan imbas komunikasi pejabat yang buruk memicu kegaduhan hingga memicu demonstrasi di beberapa wilayah di Indonesia. Alih-alih membangun kepercayaan, komunikasi yang buruk justru sebaliknya, melunturkan reputasi politik.

Ketika kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah kian melemah, maka sepertinya komunikasi kebijakan apapun juga rentan untuk tidak dipercayai oleh publik. Dan ini tidak sekedar terjadi di tingkat pusat tetapi juga hingga di tingkat desa. Segala aspirasi warga desa yang dititipkan melalui musrenbangdes hanya berakhir sebagai forum reguler saja. Kurangnya tindak lanjut atas aspirasi yang telah disampaikan membuat warga lelah berharap. Tidak ada juga konfirmasi kenapa aspirasi mereka tidak masuk prioritas, apa fokus pemda saat ini sehingga aspirasi mereka belum bisa dieksekusi. Usai forum aspirasi digelar, warga seperti dibiarkan menunggu tanpa kepastian dan kejelasan. Jika menilik pada teori ilmu komunikasi, tanggapan atau feedback adalah hal yang natural muncul antara komunikator dan komunikan. Fenomena ini memperlihatkan bahwa partisipasi masyarakat desa masih bersifat simbolik dan bukan substantif.

Kebijakan publik ada, program pembangunan tingkat nasional hingga desa juga ada, anggaran pun tersedia tetapi kepercayaan dan keterhubungan negara dengan masyarakatnya dirasa tidak ada. Akar masalah terhadap situasi sosial politik saat ini bukan sekedar lemahnya kebijakan atau konflik elit politik melainkan hal fundamentalnya adalah sumbangsih dari krisis komunikasi politik yang terlalu lama disepelekan dan dianggap bukan hal mendesak untuk diperbaiki.

Kalau menurut kalian gimana??


6/1/26

Memaknai Privilege atau Previlese


Hari libur, kalian ngapain?

Nonton film atau beberes rumah?


Agak berbeda dengan aku yang sedang menulis opini untuk keperluan sesuatu (yang masih rahasia tapi tolong doanya ya semoga lancar. Hehe). Nah aku diminta untuk menuliskan opini dan boleh memilih satu diantara beberapa topik : aktivisme online, kapitalisme, cancel culture dan privilege.


Entah kenapa, tiba-tiba aku keinget dengan obrolan bareng kawan SMP ku di tahun 2024 lalu. Kenapa bisa inget persis tahunnya? Yap, karena ngobrolnya di DM instagram, ketika scroll lagi, muncul persis tanggalnya 27 April 2024. Haha…


Jadi waktu itu aku tiba-tiba menulis di story tentang “sekarang ini di media sosial, tidak sedikit orang yang ingin terlihat 0, terlihat berjuang”. Dan salah satu temenku reply storyku, akhirnya kita ngobrol.


Trigger-nya adalah berita seorang anak SD yang berhasil fashion show di New York. Kolom komentarnya miris menurutku, ya menganggap sang anak mendapat privilege semenjak dini karena orang tuanya konglomerat. Seolah seperti si anak ini tidak ada perjuangannya dan satu-satunya effort hanya uang orang tuanya saja. Padahal saat itu hampir berdekatan dengan kasus Mario Dandy yang tersandung kasus serius sampai berimbas ke karir ayahnya. Dia juga kaya kan? Tapi tidak bisa bijaksana memanfaatkan privilege itu, malah bahkan melakukan tindakan melanggar hukum.


Tapi bagi sebagian orang, harus mlarat dulu lalu berjuang untuk sukses, ketika berhasil maka ini full tepuk tangan apresiasi. Seperti anak tukang becak yang lulus sarjana misalnya. Kolom komentar hampir serempak memuja-muja tanpa cela. Tapi kalau yang berprestasi adalah anak konglomerat, dianggapnya “ah itu sih privilege aja karna ortunya kaya”. Ehhmmm…


Temanku itu pun bercerita, sampai ada teman kuliahnya yang malu jika memakai fasilitas dari pemberian orang tuanya. Karena dicibir privilege tadi. Seolah dia sebagai anak manja, tidak ada effort, dan hanya bergantung dengan kekayaan orang tuanya. Lantas, perjuangan orang tuanya sejak beliau remaja bekerja hingga keuangan stabil seperti sekarang ini, bagaimana? Uang ortu yang dikumpulkan untuk anak, lalu gimana?


Obrolan random ini akhirnya ku putuskan untuk menjadi topik pilihan yang aku tulis. Jujur, beberapa tahun ini lebih banyak nulis untuk script konten video, nulis berita hasil liputan dan esai tentang komunikasi kebijakan publik. Nulis opini lagi, merasa agak kaku ya. Haha.. Tapi kita coba. Let’s go, cekidot!


***


“Tidak sedikit orang di media sosial justru ingin terlihat dari 0, terlihat berjuang!”


Beberapa waktu lalu ada konten di media sosial tentang anak SD sebagai fashion designer termuda Indonesia bisa mengikuti New York Fashion Week. Kolom komentarnya beragam, tetapi tidak sedikit yang berkomentar jika fashion designer dari kalangan keluarga kaya dan bisa ikut fashion show hingga ke luar negeri disebut privilege dan itu biasa aja. Berbeda dengan postingan lainnya yang memberitakan tentang anak tukang becak bisa lulus kuliah. Kolom komentarnya hampir serempak tanpa cela dan memuja-muja dedikasi orang tuanya, dan memberi jempol kegigihan si anak yang dengan keterbatasan tetap bisa menyelesaikan studi bahkan menjadi wisudawan terbaik. Katanya kalau kaya dan berprestasi, itu biasa saja ya karena itu fasilitas dari orang tuanya. Kalau miskin dan berprestasi seolah lebih diapresiasi. Saya pernah menuliskan tentang ini di story instagram, dengan mengcapture komentar-komentarnya.


Ternyata ada salah satu kawan saya yang merasakan hal serupa. Orang tuanya bekerja mati-matian sejak remaja, akhirnya bisa bekerja dengan penghasilan yang stabil. Orang tuanya mengupayakan yang terbaik dengan berinvestasi dan memberikan fasilitas sewajarnya untuk mendukung pendidikannya. Ya, tentu saja ini adalah hal yang dilakukan umumnya orang tua demi anak-anaknya. Kawan saya tentu menghargai jerih payah orang tuanya yang ingin mendukung karir dan kuliahnya, tetapi berbeda dengan respon teman-temannya. Itu disebut privilege karena keluarga kaya dan justru dicibir. Hal ini membuat saya berpikir, kenapa akhirnya kita pilih-pilih untuk mengapresiasi. Padahal kita tidak sedang menjadi panitia seleksi beasiswa untuk masyarakat pra sejahtera.


Sepertinya sudah jarang sekali memaknai kata privilege atau di privilese secara harfiah. Jika melihat di KBBI, privilese memiliki arti hak istimewa. Sepertinya netral saja tanpa ada embel-embel kata lain yang berkonotasi negatif. Bisa saja digunakan untuk kalimat, “kerja keras dan giat belajar adalah privilese utama yang memungkinkan seorang siswa naik kelas”. Adalah hal yang wajar dan sudah seharusnya yang giat belajar dan nilai lulus di semua mata pelajaran maka akan naik kelas. Tetapi sepertinya kalimat ini jarang ya, karena belajar giat dan naik kelas layaknya hukum sebab akibat yang wajar saja terjadi. Tetapi jika kaya dan berprestasi, baru disebut privilese. Seolah yang kaya hanya mengandalkan kekayaan semata, mengindahkan kerja keras. Apakah lantas kata privilese ini sudah menjadi tidak netral lagi sebagai diksi?


***


Esai opininya berakhir sampai sini, tetapi aku ingin menambah cerita dari kawan baikku itu. Menurutku lumayan gong sih. 


Dia adalah siswa SMA dengan nilai Ujian Nasional terbaik se-Kab Trenggalek saat itu. Lalu gurunya memberi tahu bahwa ada wartawan yang ingin meliput dan mewawancarainya. Dan dia janjian lah dengan wartawan tersebut untuk wawancara. Selama tanya jawab, temanku ini mendapat sinyal bahwa si wartawan ini seperti kaget karena anak pintar peraih nilai UN terbaik adalah anak berada (kaya), persiapan cukup proper dengan ikut bimbel sehingga raut muka wartawan dinilai “tidak terharu” dengan kisah nilai bagusnya. Menurutnya mungkin karena ini hal biasa, ya kaya bisa bayar bimbel, pinter deh. Berapa banyak sih yang kaya, pintar dan bisa mendapat nilai UN terbaik?? Hmmm…


Akhirnya dia tidak jadi dimuat di koran waktu itu. Kesal pasti ada, tetapi yang disayangkan adalah seolah yang boleh masuk koran hanya anak tidak mampu yang berprestasi.


Hmm… menurut kalian gimana?


(Adm/Zan)

1/1/26

Perjalanan 2016-2025 Trenggalek Menuju Kabupaten Kreatif

 Perjalanan 2016-2025 Trenggalek menuju KaTa Kreatif atau Kabupaten/Kota Kreatif. Dulu program ini di Kemenparekraf namun sekarang di Kementerian Ekonomi Kreatif.

Kilas balik secara singkat apa langkah tiap tahun sudah ada di gambar tapi saya ingin membahas perihal lain. Yes, garis koordinasi + komunikasi lintas OPD yang menantang. Apa ada yang relate?

Kata-kata sinergi dan kolaborasi sangat manis didengar, tapi nyatanya di birokrasi harus jelas tupoksi dan “cantolannya”. Sebaik apapun inovasi, tidak dihalalkan mengingkari birokrasi. Apalagi kami di kabupaten hanya makmum dengan template administrasi pusat.

2016-2025, ada momen kepala daerahnya berganti, kabid pensiun, staf yang kena rolling, kepala dinas juga berganti akhirnya harus “berkenalan” lagi, bagaimana merawat notulensi tiap pertemuan, balada covid, perubahan nomenklatur bidang ekonomi kreatif yang akhirnya “cantolannya” berubah dan mempengaruhi proses koordinasi banyak pihak, dst. Hampir saja jejak komunikasi menguap menyublim yang bertahun-tahun dibangun karena dinamika ini.

Ternyata tantangan komunikasi bukan sekedar kurang komunikatif tapi memanajemen daya ingat atau manajemen lupa untuk sebutanyang lebih pas?

Setiap sesi forum pertemuan, peserta rapat tidak selalu sama. Ada yang diwakilkan bahkan absen karna bersamaan dengan agenda lain. Ini kalimat angker yang sering disampaikan :

“Maaf saya kurang paham, karena yang hadir kemarin, staf satunya dan saya tidak tahu. Masih dijapri.”

Tidak jarang, kami bukakan kitab notulensi untuk membantu merunut keputusan + rangkuman cerita nabi-nabi di meeting sebelumnya. Forum rapat tindak lanjut yang harusnya sudah bisa mengambil keputusan terpaksa terjegal seperti ini (berulang kali). Memahami birokrasi dimana pengambilan keputusan bukan di staf, maka memberikan jeda waktu koordinasi rasa-rasanya sudah pas. Tapi ternyata belum tentu juga. Jika undangan mewajibkan harus “kepala pimpinan” yang hadir, sulit. Kita mengenal warisan harta dan asset tapi tidak warisan notulensi. Hehe

“Ekonomi kreatif ini gimana? Sub sektor kuliner, penjual cenil dan pecel ini termasuk ekraf?”

Boom. Saya dan tim Trenggalek Creative Network (terbentuk) mulai concern di KaTa Kreatif ini terhitung sejak 2019. Dan bahkan sampai 2025, masih ada saja selisih kesepahaman dalam memaknai ekonomi kreatif. Karna OPD lain juga memiliki binaan UMKM lain. Sebut saja Dinas Komidag punya binaan, Dinas Perikanan, Dinas Pariwisata, dan lain-lain. Lantas yg membedakan pelaku-pelaku ini dengan unsur ekonomi kreatif, apa?

Jangankan masyarakat, ternyata internal komunitas bahkan OPD juga sulit memahami. Gagal memahami definisi, maka akan lebih rumit untuk mengkaji subsektor lokomotif dan memetakan potensi.

Kebijakan publik yang sebutannya dari-oleh-untuk rakyat, ternyata narasinya sering sulit dicerna untuk rakyat sendiri bahkan pihak regulatornya. Tantangan komunikasi kompleks, tidak hanya soal silent treatment.

Mau lanjut nulis, tapi sudah harus meeting. Semoga ada waktu untuk sambung kembali.

Oh selamat Trenggalek!

4/6/25

Pre-departure Program YSEALI Creators Co-Lab 2025

Lanjutan tulisan yang ini, tentang YSEALI Creators Co-Lab 2025. Ternyata aku baru ngeh kalau pendaftarannya diperpanjang. Makanya aku ngerasa "Kok lama ya. Nggak ada kabar, kayaknya aku nggak lolos deh!". Ternyata karena diperpanjang, akhirnya pengumumannya pun juga agak lama.

FYI, aku menyadari satu hal. Berdasarkan pengalaman banyak "gagal" ketika mendaftar program-program internasional apalagi penyelenggaranya sangat prestisius, maka yang perlu kalian pahami adalah peserta yang "gagal" atau dinyatakan "tidak lolos" pun akan tetap mendapatkan pemberitahuan melalui e-mail. Aku pun baru sadar, "oiya ya, nggak ada e-mail sama sekali", haha.. akibat terlalu ovt ya gini ini *lol jangan ditiru!

Sampai akhirnya di tanggal 19 Maret 2025, aku mendapatkan e-mail dari panitia. Dan tarrrraaaaaa.....


Kata-kata "..for being SELECTED.." ini langsung jadi fokus utamaku. Tapi karena masih kaget, nge-freeze dalam beberapa detik, aku merasa nge-blank dadakan dan nggak ngerti bahasa inggris *lol sampek akhirnya aku capture surel ini dan aku kirim ke temenku. Dan yaps, dia ketawa karena aku menanyakan hal konyol.

"Ini maksudnya email ini apa ya? Aku mendadak nggak bisa bahasa inggris", tanyaku polos lugu sambil agak freeze, hahaha...

Soalnya persiapan pendaftaranku sejak 20 Desember 2024, dan submit sekitar akhir Desember itu. Belum ada tanda-tanda sampai bulan segini, jadi aku berpikir ya kayaknya nggak lolos deh. Dan akhirnya kita sampai di sesi pre-departure program yang diadakan secara daring tanggal 5-6 April 2025.


Nggak sekedar say hi dengan 60 delegasi dari berbagai negara tapi kita juga ada sesi sharing dengan 2 konten kreator asal Filipina dan Kamboja. Masing-masing ngajak kita diskusi tentang gimana bikin konten yang impactful untuk masyarakat, isu sosial, dan positive movement. Aku sangat agree dengan ini karena gerah ngeliat konten kreator yang punya "power" bahkan louder voice, tapi nggak dia manfaatkan untuk hal-hal yang impactful ke sosial masyarakat.

Semoga segala persiapan diberi kelancaran, dan sesuai jadwal kita akan mulai opening ceremony di tanggal 28 Mei 2025 di Manila, Filipina. Bissmillah..

Oiya, referensi video yang aku submit sebagai salah satu syarat wajib untuk mendaftar program ini bisa kalian cek di link ini ya. Barangkali ada program serupa di tahun mendatang dan kalian butuh referensi videonya, bisa dijadikan gambaran.

Nanti cerita-cerita serunya akan aku update di blog ini dan medsos aku di instagram @zanza_bela atau youtube Alabela. See you!


(Adm/Zan)

1/29/25

Magang WFH di MIP [Maestría Internship Program]


Wah, nggak terasa nih udah sampai batch 7 di tahun 2025 ini. Yaps, selamat datang di Maestría Internship Program [MIP]. Sedikit lagi langkah kalian akan semakin dekat dengan rumah baru kalian. Semoga platform sederhana ini bisa menjadi ruang berkarya, berekspresi dan bertumbuh secara positif untuk kalian ya. Aamiin...

Kilas balik kenapa aku ngadain program MIP ini. Pertama, karena saat pandemi ada mahasiswa yang mengirimkan pesan dan menanyakan program magang WFH di Maestría. Setelah aku telusuri, ternyata saat pandemi dan kegiatan perkuliahan luring ditiadakan, akhirnya banyak mahasiswa yang mudik dan beberapa mahasiswa yang saat itu harusnya mengambil magang mengalami kendala. Banyak orang tua yang juga masih parno jika anaknya harus magang offline. Apalagi saat itu belum ada vaksin covid-19, kalian yang mengalami era itu pasti sudah bisa membayangkan betapa mencekamnya saat itu. Di sisi lain, mahasiswa juga tetap ingin bisa lulus tepat waktu, sehingga mereka mencoba mencari-cari tempat magang yang menyediakan program magang WFH. Salah satu mahasiswa juga bercerita, karena situasi mencekam saat itu akhirnya kampus tempat dia belajar mengijinkan magang WFH dan dapat dikonversikan ke SKS mata kuliah asalkan mendapatkan bukti magang seperti surat keterangan magang atau sertifikat apresiasi.

Tapi ada alasan kedua, yang saat itu cukup banyak dituliskan oleh beberapa netizen di kontenku tentang Review CV Anak Magang. Banyak yang menilai bahwa program magang zaman sekarang terlalu "berat". Karena syaratnya harus memiliki "pengalaman". Aku berpikir bahwa :

Kalau semua pendaftaran magang hanya menerima yang sudah berpengalaman, lantas siapa yang akan memberi pengalaman untuk mereka yang belum berpengalaman agar jadi berpengalaman?

Maaf agak mbulet yak kata-katanya. Haha.. semoga bisa dipahami.

Pertimbangan ketiga, kenapa program MIP ini mantab untuk dilanjutkan adalah karena seiring berjalannya program ini aku juga memperhatikan bahwa magang bisa jadi metode self development yang cukup ampuh. Karena langsung praktik, langsung megang project dan seluruh peserta memiliki karya/portofolio yang bisa mereka jadikan bahan flexing ketika nanti mencari beasiswa atau terjun di dunia kerja. Jadi mereka nggak "kosong", ada something yang sudah dia lakukan selama magang ini. Dan tentu ini sejalan dengan visi Maestría sebagai platform pengembangan diri melalui aktivitas pendidikan non-formal.

Sistem seleksi kami tidak sulit tapi kami sedikit mencoba mengadopsi sistem rekrutmen program management trainee di Indonesia dengan harapan sedini mungkin teman-teman calon peserta agak mulai familiar dengan sistem ini dan mulai bisa mengukur diri.

Usai teman-teman dinyatakan lolos seleksi administrasi meliputi CV, portofolio, short esssay, tahapan selanjutnya adalah FGD, presentasi dan wawancara panel dengan tim Maestría. Untuk tugas presentasi, silahkan teman-teman siapkan hal-hal berikut :

  1. Materi presentasi dengan power point atau canva yang memuat satu ide program kalian sesuai dengan divisi yang telah kalian pilih maksimal 5 slide (tidak termasuk slide judul dan slide penutup). Ide program boleh dilaksanakan secara online maupun offline. Pertimbangkan sistem magang WFH yang artinya semua koordinasi dan komunikasi akan lebih dominan dilakukan secara online. Namun tidak menutup kemungkinan jika akan ada pertemuan offline apabila memungkinkan.
  2. Tidak ada format khusus tapi hal terpenting bisa memberikan gambaran ide program dan bagaimana strategi kalian melaksanakan ide program tersebut secara realistis, boleh ditambahkan analisa SWOT dan kaidah 5W+1H. Sangat diperbolehkan jika ingin berkolaborasi dengan narasumber, tokoh, institusi, organisasi lain selama bisa menyukseskan ide tersebut.
  3. Presentasi maksimal 4 menit sehingga teman-teman perlu fokus terhadap inti program saja dan dilanjutkan FGD.
  4. Urutan presentasi akan diinformasikan lebih lanjut oleh admin Min Mae.
  5. Materi presentasi mohon direname dengan format [nama lengkap]_[divisi yang dipilih] contoh: Berdit Zanzabela_Divisi Edukasi
  6. Materi presentasi dikirimkan sesuai dengan batas maksimal yang diinformasikan oleh Min Mae melalui WA
Bagi kalian yang masih bingung, harus membuat ide program seperti apa? Nah, teman-teman bisa mengamati program-program yang sudah berjalan di Maestría. Semua aktivitas kami baik online maupun offline sudah diunggah di akun instagram @maestria.id jadi selamat stalking! Kalian juga sangat boleh memodifikasi program-program dari platform lain namun tetap dimodifikasi sekreatif mungkin.

Gambaran program rutin di Maestría :

  • Program BERKELAS, ikutan kelas yang bikin kamu berkelas! = program cuma-cuma untuk memberikan fasilitas belajar public speaking dengan menggunakan aplikasi Whatsapp group call atau dikemas dengan konsep webinar. Program ini biasanya dilaksanakan rutin tiap 1 minggu 1x
  • Program Resolusi = konseling dengan psikolog untuk mengenal karakter diri dan pemetaan karir sedini mungkin
  • KOPDAR (Kopi daring) = ngobrol seputar pengembangan diri melalui live instagram / TikTok
  • Program sertifikasi profesi, Jadi Kompeten = pelatihan dan uji kompetensi berlisensi BNSP atau Kemdikbud untuk skema public speaking, master of ceremony, public relation, dll
  • Daily konten = berbagi konten-konten edukasi seputar pengembangan diri berupa video, microblog, info grafis, dll.
  • Fun Challenge = belajar seru dengan berbagai challenge seperti VO challenge, baca berita, MC challenge, dll
  • Maestría Goes to School/Campus = bekerjasama dengan akademi, pondok pesantren, sekolah menengah hingga perguruan tinggi untuk workshop atau kuliah tamu mengenai public speaking, konten kreator dan pengembangan diri
  • Casting Call = program kerjasama dengan stasiun TV untuk mengadakan workshop dan seleksi penyiar tv (berita maupun hiburan)
  • News Presenter Competition = kompetisi baca berita tingkat nasional yang dilaksanakan secara virtual
  • Ramadhan Gathering = meet up dan sharing seru dengan Gengstría yang ingin belajar hal baru. Bisa diisi dengan kegiatan beauty class, melukis, merangkai bunga, dll. Kegiatan ini diadakan luring dengan menjalin kerjasama dengan mitra
  • Offcamship = program mentorship pengembangan diri dan sesi curhat dengan mengizinkan peserta menggunakan akun fiktif jika dirasa tidak percaya diri/malu
  • Lomba fotografi dan poster dalam rangka peringatan Hari Batik Nasional
Semangat ya teman-teman. Jika ada yang ingin ditanyakan, bisa DM atau WA Min Mae. See you!