5/19/20

Apa Kalau Sudah Menikah Artinya "Jodoh"?

Memang ini bukan pengalamanku, tetapi cerita-cerita dari orang di sekitarku akhirnya membuatku gemas. Salah satunya adalah yang ingin ku tuliskan disini. Belakangan seseorang yang ku kenal sejak tahun 2012 sebut saja anggrek, bercerita tentang keluarganya tanpa pernah sekali pun aku bertanya. Karna bagiku urusan keluarga adalah privasi, dan aku terlalu sungkan untuk kepo. Jadi meskipun sudah lama kenal, tapi ini kali pertama dia mau bercerita dan terbuka tentang kondisi orang tuanya kepadaku.

Ayah dan ibunya sudah lama tidak hidup satu atap. Ayahnya sudah lepas tangan dari tanggung jawab untuk memberi nafkah keluarga, bahkan anggrek dibiayai oleh tante dan saudara-saudaranya untuk menuntaskan kuliah. Saudaranya juga tidak berat hati jika harus ikut membiayai pernikahan anggrek jika suatu saat nanti menikah dan ayahnya tidak mau menanggung. Bahkan ayahnya juga sudah memiliki wanita lain. Tapi saktinya,  orang tua anggrek tidak bercerai. Masih berstatus suami istri hingga saat ini.

Rasa penasaranku muncul, dan dengan hati-hati aku menanyakan mengapa bisa demikian.

Secara terbuka temanku itu menjelaskan. Karena status si ayah yang seorang abdi negara (ASN) dan dulunya pernikahan didaftarkan secara aturan negara (maaf teman saya lupa tentang ini jadi tidak menjelaskan lebih lanjut). Hal itu membuat perceraian tidak mungkin dilakukan antara keduanya, prosesnya sulit katanya. Dan ketika bercerai maka gaji sang ayahnya akan dipotong (tidak sebanyak saat ini). Padahal gajinya pun tidak diberikan ke anggrek dan ibunya, justru untuk "wanita lain" tadi.

Padahal ayahnya sudah tidak memberi nafkah dan bahkan sudah punya wanita lain. Berarti secara tidak langsung, ibu anggrek membiarkan si ayah untuk menafkahi wanita lain tadi dengan gaji utuhnya sebagai ASN. Padahal sepeser pun dia tidak mendapat nafkah. Kok bisa seolah-olah seperti legowo gitu ya? Ah, tentu isi kepala mereka punya sudut pandang sendiri, yang tidak ku ketahui apa pertimbangannya.

Anggrek, kakak dan ibunya juga masih rukun dengan ayahnya. Masih sering ku lihat anggrek berkomunikasi dengan ayahnya melalui telepon. Ya seperti yang selama ini biasa ku lihat, dan karena sebelum-sebelumnya tidak tahu, ku pikir keluarganya baik-baik saja dan bahagia.

Selama ini, banyak sinetron, film atau novel yang begitu mengagung-agungkan cinta sejati, hubungan keluarga harmonis, pasangan setia sampai akhir hayat, romantisme keluarga yang hangat dan lain-lain. Tapi melihat anggrek, ku lihat masih damai saja, harmonis dengan jalannya masing-masing. Maksudku, mereka masih "berdamai" dan melanjutkan sebagaimana kehidupan musti berjalan. Anggrek juga bukan anak yang pemurung, dia lulus tepat waktu dan karir pekerjaannya cukup bagus. Ya baginya, kebahagiaan mamanya adalah yang utama. Tapi meski berkonflik dengan ayahnya, lantas itu tak dijadikannya alasan untuk membenci, memberontak atau mengeluh sepanjang waktu.

Sesekali waktu, diriku mulai berpikir dan mencoba menggali sudut pandang lain.

"Apa ibu anggrek sudah move on ya? Makanya bisa sesakti itu untuk tidak bercerai dan membiarkan suaminya hidup sesuka hatinya."

Begitulah pemikiranku. Pemakluman seseorang terhadap pasangan, memilih diam atau mungkin sudah level "terserah dia saja", ku maknai itu langkah move on. 

"Moving on doesn't mean you forget about things. It just means you have to accept what happened and continue living".

Ya, move on itu tidak berarti memaksa kita untuk melupakan sesuatu. Tapi menerima apa yang telah terjadi dan melanjutkan hidup. Dan membenci juga bukan cara terbaik untuk melupakan.

Memfokuskan diri untuk mendapatkan kehidupan lebih baik, untuk diri sendiri dan anak. Berpikir bagaimana esok dan selanjutnya masih bisa produktif, daripada terbelenggu dengan kebencian dan kekecewaan. Ah, aku juga heran bisa ngetik kayak gini dapat wangsit darimana. Wkwkwk.

T'rus cinta itu yang kayak gimana?
Cinta itu apa sih?

Inginku berkata EMBUH.. Hakzz...

Diriku seperti teringat dengan nasihat yang entah datangnya dari dalam pikiranku sendiri atau sebelumnya ada yang pernah berbisik ke telingaku. Ini nasihat sudah sangat lama ku-Aamiin-i.

"Semua orang memaknai bagaimana cinta bekerja dengan kisah yang berbeda. Ada yang menuntut untuk saling membalas, yang artinya memegang teguh kesetiaan dan antara satu sama lain adalah sumber kebahagiaan. Tapi ada juga yang memaknai dimana cinta artinya membiarkan dia (orang yang kita cintai) bahagia tanpa harus memaksa kita sendiri yang akan jadi sebagai perantaranya. Perantara bisa melalui orang lain"

Kondisi kedua ini seperti kisah anggrek tadi. Pikirku, hebat ya. Kalau disandingkan dengan kisah asmara remaja yang sedikit-sedikit cemburu, rasanya kok childish sekali. Hehehe.

Lalu, apa orang tua anggrek tadi benar "berjodoh"?
Apakah kalau sudah menikah lantas disebut sudah bertemu "jodoh"?
Bagaimana ciri kalau seseorang itu adalah "jodoh"?
Apakah mungkin ketika sudah menikah di dunia (seperti kisah anggrek), lantas bertemu "jodoh sebenarnya" di surga?


5/13/20

Lingkungan Keluarga Membentuk Persepsi "Cinta"

Sedang gemas jemariku ingin ikut membahas mengenai salah satu trending topic dan banjir komentar di Twitter. Sebenarnya sudah jadi trending beberapa hari lalu, tapi diriku perlu waktu untuk mengalahkan rasa malas dan mulai menulis panjang. Hahaha...

"Emang apa sih yang trending itu?"

Untuk teman-teman yang mungkin belum tahu. Ini cuitannya.


Bagaimana pendapat teman-teman?

Tapi dalam tulisan ini yang akan menjadi fokus pembahasan adalah pengaruh lingkungan keluarga (orang tua) seseorang "bertumbuh" kemudian membentuk persepsi (frame of reference dan field of experience) orang tersebut dalam memaknai dan menjalin hubungan asmara. Bahkan memaknai "ketidaknyamanan" yang sebenarnya menurut lawan alias pasangannya dirasa normal, namun bagi satu lainnya dinilai sebaliknya. Seperti ada ketidaknyamanan sepihak.

Oh, sebelum dilanjutkan, ini detail cuitannya.




Keluarga memang tempat "bertumbuh" yang akhirnya membentuk karakter dan pola pikir anak. Nah, berangkat dari cuitan dan beberapa pengalaman teman terdekat, menurut saya ada dua jenis kategori keluarga (dimana lingkungan "bertumbuh" tadi) yang kemudian mempengaruhi seseorang memaknai hubungan asmara tersebut.

Yang pertama, seseorang yang "bertumbuh" dari orang tua yang menikah tanpa cinta (mungkin dijodohkan/sejenisnya). Anak yang tumbuh dari keluarga ini bisa jadi memiliki persepsi berbeda dengan kondisi yang kedua, yaitu seseorang yang "bertumbuh" dari orang tua yang menikah berlandas saling cinta.

Saya berharap rangkaian kata saya tidak mulek alias tidak membingungkan hehehe. Karena sejujurnya bagi saya agak sulit untuk menemukan diksi yang tepat demi mengekspresikan apa yang ada di pikiran saya mengenai topik ini.

Kondisi keluarga pertama.
Bagi anak dalam kondisi ini, memaknai pasangan yang tidak nyambung, pasangan yang tidak memberi rasa nyaman, bisa jadi hal biasa baginya. Ia terbiasa melihat figur orang tuanya bersikap dingin dan bertahan antara satu sama lain bukan semata-mata karena cinta dan rasa nyaman. Jangankan mengedepankan "nyambung", mungkin masing-masing sudah mengabaikan rasa nyaman itu sendiri. Dengan seiring berjalannya waktu, mereka mengesampingkan kenyamanan diri (yang didapat dari pasangan) dan mereka semata-mata bertahan hanya karena anak-anak dan keluarga besar. Sudah mulai mulek? Sama. Saya yang nulis juga mulek, wkwk. Di keluarga ini, pasangan orang tua sudah tidak lagi menuntut untuk saling memberi rasa 'nyaman', kehidupan terus berlanjut ada hal-hal urgent yang menguras fokus dan lebih mereka pikirkan daripada mengedepankan "kenyamanan" personal. Sehingga anak yang "bertumbuh" dari keluarga ini bisa jadi terbiasa memendam ketidaknyamanan, menganggap ketika merasa tidak nyaman atau tidak nyambung dengan pasangan, ya itu normal. Karena figur orang tuanya pun demikian.

Berbeda dengan kondisi keluarga yang kedua.
Dalam kondisi ini, anak lahir dari pasangan orang tua yang saling mencintai, hangat di tengah keluarga, pokoknya pasangan ideal deh. Memberi rasa nyaman dan memiliki pasangan yang "nyambung" bisa jadi hal yang have to get (keharusan) bukan nice to get. Referensi si anak pun juga akan menerapkan hal serupa ketika ia menjalin hubungan asmara. Ketika ia tahu pasangannya merasa tidak nyaman bersamanya, tidak nyambung, maka bisa jadi ia akan menilai hubungan itu cacat, tidak ideal. Dia mengharapkan hubungan asmaranya akan seperti lingkungan dimana dia "bertumbuh". Yang hangat, saling memberi kenyamanan, saling memahami, ideal.

Yang menyengsarakan adalah ketika perempuan dan laki-laki dari dua kondisi keluarga ini menjadi pasangan yang menjalin hubungan. Semisal perempuan (P) dari kondisi keluarga pertama, laki-laki (L) dari kondisi kedua.

Si P akan merasa sangat normal ketika melihat kenyataan bahwa pasangannya tidak nyambung yang berakibat tidak memberikan rasa nyaman. Baginya, sebuah kenyamanan adalah hal yang nice to get (bukan keharusan), selama keduanya saling menghormati dan bertanggung jawab. Si P memiliki rasa maklum karena ia melihat kedua orang tuanya saja bisa bertahan dan melanjutkan hidup tanpa mengedepankan rasa nyaman personal antara satu sama lain. Si P akan sangat tidak mempermasalahkan jika ia mendapat hal serupa seperti apa yang dirasakan orang tuanya. Namun, ketika si L mengetahui fakta ini, kemudian dia merasa menjadi pasangan yang cacat dan nantinya tidak bisa menjadi suami ideal bagi si P (seperti figur ayahnya). Ya, karena referensi dan pengalaman dia "bertumbuh" dari keluarga yang hangat, ideal. Ketidaknyamanan yang dirasa si P, dan menurut si P sebenarnya tidak menjadi masalah, bahkan lumrah akan berkebalikan dengan yang dirasakan si L. Tak jarang L akan mempermasalahkan hal ini dan terjadilah ketidaknyamanan sepihak tadi.

Inginku menulis lebih jauh bagaimana peluang kisah antara P dan L ini. Apakah berakhir atau justru bermuara ke jenjang yang lebih serius? Ehmmm.... tapi tulisan ini hanya berfokus membahas tentang faktor keluarga membentuk persepsi soal "cinta".

Sekali lagi, semoga tidak mulek dan easy reading. Hehehe..
Terima kasih sudah mampir.