11/19/21

Cerita Uji Kompetensi Penyiar TV Level 3 Kemendikbud

 


Salah satu daftar "semoga" yang tercapai (lagi) tahun ini. Ikut sertifikasi atau uji kompetensi profesi. Setelah sekitar satu tahun menunggu, akhirnya dapat beasiswa melalui beasiswa. Yeay! Untuk formasi sertifikasi yang saya dapatkan adalah uji kompetensi untuk profesi Penyiar Televisi Level 3 (atau setara D1 kalau nggak salah *cmiiw) dari Kemdikbud RI. Karena menurutku ini kesempatan emas, maka nggak aku sia-siakan. Aku membeli buku pengantar teori sebagai amunisi tes tulis. Sebenarnya kami mendapat kesempatan untuk ikut kelas upgrading sekaligus sharing dengan pengajar agar persiapan ujian lebih matang. Namun karena jadwal siaran dan dialog ke luar kota lumayan padat, aku pun tidak bisa mengikuti kelas tersebut. Show must go on! Ya belajar mandiri, ya baca-baca buku, ya berdo'a juga.

Oiya salah satu persyaratan untuk mengikuti beasiswa ini adalah tidak berstatus mahasiswa atau sedang berkuliah ya (namun setiap tahun bisa saja syarat berubah dan bergantung dari proses verifikasi data). Untuk syarat lainnya bisa dicek di masing-masing TUK / lokasi kalian ujian.

Hari ujian tiba tepatnya tanggal 17 November 2021.
Sebelum pukul 08.00 WIB saya sudah berada di lokasi. Memastikan semua berkas ujian sudah lengkap meliputi naskah berita (untuk reportase) yang dibuat di lokasi ujian, 1 lembar pas foto ukuran 3x4 berlatar merah, dan print out daftar riwayat hidup. Ujian dimulai pukul 09.00 WIB dengan tahapan pertama yaitu tes tulis.

Salah satu contoh pertanyaan untuk ujian tulis adalah sebagai berikut :


Waktu yang diberikan untuk mengerjakan tes tulis yaitu 60 menit. Lebih dari itu maka peserta tidak bisa submit jawaban. Pastikan beberapa menit sebelum waktu habis, kalian sudah menyelesaikan untuk antisipasi jika tiba-tiba koneksi hilang atau blank maka ada sisa waktu untuk mencari solusi. Setelah peserta menyelesaikan dan menekan tombol "Submit", maka peserta juga akan otomatis mengetahu berapa nilai yang didapatkan. Jika nilai ujian tulis di bawah 60, maka akan sulit untuk dinyatakan kompeten.

Tapi ada beberapa diskusi antara saya dengan peserta lain (yang juga seorang penyiar), kebetulan dia duduk di sebelah saya. Saat kami selesai mengerjakan tes tulis. Kami merasa ada pertanyaan yang membingungkan dan mengganjal. Contohnya sebagai berikut :


Menurut kalian jawabannya apa? Hehehe...
Atau yang ini nih :


Kebetulan seorang penyiar yang duduk di sampingku menjawab jawaban "bencana alam", namun juga salah. Kemudian saya menjawab opsi "berita sosial", dan tetap salah. Menurut kalian, soal ini jawabannya apa ya? Ehm....

60 menit berlalu, tes tulis selesai dan kami diberi waktu beberapa menit untuk ujian praktik. Yaitu membaca naskah berita dan reportase. Meskipun sudah biasa siaran, ternyata masih agak grogi ketika diuji dan ada asesor serta pengawas. Hehehe...

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat ujian praktik ini adalah :


Ujian selesai.
Dan hasilnya, alhamdulillah dinyatakan "Kompeten". Sertifikat masih proses pembuatan, namun pihak LSK sudah mengirimkan surat sebagai pemberitahuan kepada seluruh peserta. Yeay!




Itu tadi cerita sekilas tentang ujian penyiar televisi ini.
Terima kasih sudah mampir.
Sampai jumpa!

8/21/21

Cerita Sertifikasi BNSP Training of Trainer

Peserta ToT BNSP Batch 10

Masih cerita di tengah pandemi covid-19. Hobi yang muncul bersamaan dengan maraknya corona di Indonesia sejak 2020. Bisa tebak nggak kira-kira apa hobi baruku? Webinar hunter. Hahaha....

Selama pandemi ini kayak banyak webinar yang topiknya kece, up todate dan pematerinya pun nggak kaleng-kaleng. Karena lulus kuliahnya sudah sejak 2019, jadi jangan sampai ketinggalan isu-isu terkini apalagi yang berkaitan dengan topik komunikasi, public speaking, isu sosial pembangunan masyarakat, dan lain-lain. Sekali lagi thanks to covid-19, ya tapi aku juga pengen pandemi cepet pergi sih biar saldo lekas normal *oops

Selain pemuja webinar, beberapa bulan terakhir juga ngincer online workshop yang penyelenggaranya juga bergengsi. Seperti DigiTalent yang diselenggarakan oleh Kominfo. Dan beberapa skema sertifikasi profesi yang diselenggarakan oleh BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) juga diadakan secara online selama pandemi ini. Seperti pada April lalu saya juga mengikuti sertifikasi Kepenulisan Buku Non Fiksi dan tanggal 19-21 Agustus 2021 saya mengikuti sertifikasi ToT untuk kualifikasi pelaksanaan program pelatihan tatap muka.

Di hari pertama (19/08) seluruh pertama menerima pembekalan materi dari narasumber mengenai wawasan tentang sertifikasi kompetensi, cara menentukan SKKNI, cara membuat program pelatihan, kurikulum, silabus hingga lesson/session plan. Lumayan panas sih hari pertama. Ditambah kami juga harus menyiapkan materi untuk microteaching yang akan dipraktikkan di ujian akhir. Di hari kedua (20/08) terdapat pra asesmen dan finalisasi untuk kesiapan dokumen portofolio yang sudah mulai dicicil sejak hari pertama (dokumen program pelatihan, kurikulum, silabus dan session plan) sekaligus simulasi microteaching.

Di hari ketiga (21/08) merupakan hari ujian yang menentukan kami kompeten atau belum kompeten. Pertama-tama kami menyelesaikan ujian tertulis yang memuat materi-materi di hari pertama dan kedua. Nilai minimum yang harus didapatkan peserta adalah 80. Lumayan bikin spaneng euy.


Contoh pertanyaan pilihan ganda untuk tes tulis ToT BNSP bisa dibaca di sini.

Usai tes tulis, peserta dibagi menjadi dua kelompok untuk secara bergiliran melakukan microteaching selama 20 menit dan sesi wawancara.



Meskipun sertifikasi dan ujian dilaksanakan secara online, namun tetap sesuai dengan skema kualifikasi kompetensi yang diujikan yaitu pelatihan tatap muka. Sehingga saat melaksanakan microteaching, pemaparan diatur sedemikian rupa seperti seolah-olah sedang melaksanakan pelatihan tatap muka dengan ketentuan minimal 1 peserta yang diajar dalam kelas tersebut.

Begitu seluruh tes tulis dan microteaching selesai, tahap terakhir yaitu sesi wawancara dan konfirmasi asesor terhadap dokumen portofolio peserta. Oiya tips untuk teman-teman yang ingin mengikuti sertifikasi ini, siapkan desain materi dalam power point semenarik mungkin. Karena ternyata penyajian materi dalam ppt juga menjadi salah satu indikator yang diperhatikan oleh asesor.

Akhirnya selesai, dan selamat seluruh peserta sertifikasi ToT angkatan 10 ini di LSP EPI dinyatakan kompeten. Yeay! Tapi sertifikatnya baru rilis 1 bulan lagi. Hehehe...

Semoga berkah. Semoga pandemi lekas berlalu. Aamiin..
Terima kasih sudah mampir.

(Admin/Zan)
7/9/21

Quality Control Hewan Kurban Dompet Dhuafa Jawa Timur

Bersama media partner dan influencer berkeliling DD Farm Madiun

Tidak terasa sebentar lagi Idul Adha 1442 H yang jatuh pada tanggal 20 Juli 2021 nanti. Bagaimana teman-teman, apakah sudah menyiapkan kurban terbaik kalina? Eits, bukan kurban perasaan lho ya. Hehehe...

Tahun ini senang rasanya diajak oleh DD (Dompet Dhuafa) Jawa Timur untuk menyaksikan proses quality control dan pengelolaan kandang domba yang ada di DD Farm sentra Geger, Kab. Madiun (29/06). Untuk di Jawa Timur sendiri terdapat 3 DD Farm yaitu di Malang, Situbondo dan Madiun. Aku kira ya sekedar kandang seperti tempat pengembangbiakan hewan umumnya tetapi ternyata dikelola dengan sangat detail dan profesional. Sambil berkeliling kandang, saya juga ditemani Mas Eko atau aku menjuluki beliau sebagai profesor kandang DD Farm. Hehehe...

Bersama Mas Eko berkeliling DD Farm Geger, Madiun


Domba-domba di DD Farm Madiun ini didatangkan dari berbagai wilayah diantaranya dari peternak-peternak atau pihak-pihak yang bermitra dengan DD Farm karena mereka mengusung konsep pemberdayaan masyarakat.

Situasi Kandang Loading DD Farm, Madiun


Setiap domba yang baru tiba, akan transit sejenak di kandang loading untuk diamati perilakunya. Apakah terindikasi stress karena kemungkinan ada domba yang 'kaget' dengan situasi lingkungan baru atau tidak. Jika memang pengelola mendapati ada domba yang stress atau kurang sehat maka pengelola akan seketika memberikan perawatan intensif. Setelah itu domba akan ditimbang terlebih dahulu dan dikelompokkan sesuai dengan bobotnya. Yaitu terdiri dari kelompok standar, medium dan premium dengan bobot minimal 23 kg.

Proses penimbangan domba di kandang loading

Bagi domba yang sudah diketahui mana kategori kelompoknya, maka akan ditempatkan pada kandang yang sudah diberi sekat dan kose-kode tertentu. Kode tersebut bertuliskan 1Z, 1Y, dan seterusnya guna memudahkan pengelola untuk mengawasi tiap-tiap domba yang berada di dalam kandang tersebut. Dalam satu sekat diisi sekitar 8-9 ekor domba. Dan pada masing-masing domba tersebut juga diberi kalung penanda bertuliskan angka, untuk pengecekan kesehatan dan quality control tiap domba.
Domba dimasukkan dalam kandang bersekat dengan kode tertentu

Jika sampai menjelang hari raya kurban atau Idul Adha, ada domba yang bobot dan kesehatannya tidak memenuhi standar maka hewan tersebut akan diberi perawatan intensif dan dialihkan untuk Idul Adha tahun depan. Sehingga setiap hewan kurban benar-benar dicek kualitasnya. Ya, karena ibadahnya cuma 1 kali dalam 1 tahun, jadi wajar dong kalau menyiapkan yang terbaik. Hehehe....

Oiya, ketika masuk pertama kali di kandang ini ada hal yang juga mencuri perhatianku. Sama sekali aku tidak melihat pemandangan "ramban" alias rumput hiaju-hijau yang umumnya menjadi pakan para domba. Aku pun juga menanyakan pada Mas Eko. Ternyata DD Farm memberikan pakan terbaik yaitu complete feed dengan mencampurkan pakan konsentrat yang mengandung serat, protein, karbohidrat dan mineral. Wah... pantas saja domba-domba disana gemol (gemuk ginuk ginuk) dan sehat ya.

Bersama Pak Kholid, pincab DD Jawa Timur


Bagaimana?
Mungkin tertarik untuk menunaikan kurban melalui Dompet Dhuafa Jawa Timur?
Bisa mengikuti akun instagramnta di @ddjatimorg atau website kurban.dompetdhuafajatim.org ya.

Oiya, bonus nih. Selain diajak berkeliling DD Farm, kami juga diajak ke Kampung Susu Lawu, Magetan yang merupakan salah satu desa binaan DD Jatim bekerjasama dengan pemkab Magetan. Warga disana mayoritas berprofesi sebagai peternak sapi perah dan mengolah olahan susu menjadi berbagai makanan dan minuman bergizi. Ini dia dokumentasi keseruan perjalanannya.





Bersama dengan ibu-ibu di Rumah Susu Lawu

Cek video keseruannya di sini ya :)




Terima kasih sudah mampir.
(Adm/Zan)

7/5/21

Pengalaman di Simposium Indonesia SDGs Summit 1.0 (Part 2)

Beberapa peserta ISS 1.0

H+1 usai penyelenggaraan Indonesia SDG's Summit 1.0, yeay!
Kemasan acara meski virtual tapi asik dan menambah wawasan tentang isu-isu SDG's, apalagi saat sesi simposium 1-4 dihadiri narasumber yang memang pakar di bidangnya, sehingga semakin membuka wawasan kami akan isu-isu tentang "ada apa sih di Indonesia saat ini?".

Cerita persiapanku sebelum summit, juga bisa teman-teman baca di artikel sebelumnya berjudul Pengalaman di Simposium Indonesia SDG's Summit 1.0 (Part 1).

Pada hari pertama, acara diawali dengan simposium 1 bersama Kak Dennis yang merupakan founder Sekolah Saham Indonesia. Membahas mengenai financial freedom dan dunia investasi. Meskipun bukan topik baru, tetapi senang bisa lebih deep mengetahui tentang ini. Setelah  simposium 1 dilanjutkan dengan presentasi 39 peserta yang esainya telah terpilih dari total 90-an esai yang dikirimkan kepada panitia. Tips untuk teman-teman yang mungkin akan mengikuti ISS 2.0 atau forum sejenis, sebaik-baiknya ide tertulis tetapi saat presentasi harus memperhatikan durasi. Dan sampaikan dengan metode "segitiga", yaitu mengerucut ke fokus solusi/inovasi baru ke penjelasan. Jangan segitiga terbalik, karena ketika waktunya habis, maka kalian tidak akan sempat menyampaikan apa fokus solusi dan inovasi dari esai yang telah kalian buat. Aku pun overtime, kayak nyesel gitu nggak bisa tuntas menyampaikan tetapi sangat beruntung fokus dari solusi dan inovasi esai sudah tersampaikan di awal paparan. Sehingga ketika pun kehabisan waktu, dewan juri sudah mendapatkan poin utama dari apa yang ingin aku sampaikan. Kalau ingin belajar tentang powerful presentation bisa DM ke instagram @maestria.id ya.

Oke lanjut. Setelah presentasi usai, kami mengikuti simposium 2 bersama Kak Cania Citta yang membahas mengenai gender. Kak Cania merupakan Head of Content di Geolive ID. Kemudian dilanjutkan dengan pengumuman Top-5 esai dari kesleuruhan peserta yang telah presentasi.


Top 5 Presenter ISS 1.0


Yeay! Seperti penyakit pikiran pada umumnya, ya pasti sedikit insecure tapi benar-benar nggak nyangka bisa lolos Top 5. Untuk persiapan final di hari ke-2 ISS kami berlima mendapatkan briefing dari panitia termasuk poin-poin yang akan menjadi kriteria penilaian, yaitu :

1. Relevansi dengan tema SDG's yang menjadi tema ISS 1.0
2. Originalitas
3. Koherensi antara isu dengan ide/inovasi
4. Performance presentasi dan tanya jawab (gesture, eye contact, dll)

Dan berakhirlan sesi hari pertama ISS 1.0. Di hari ke-2 pun nggak kalah seru + deg degan tentunya. Hehehe...

Acara diawali dengan simposium ke-3. Kali ini membahas topik yang lumayan trending akhir-akhir ini yaitu membahas Quarter Life Crisis bersama Kak Nago Tejena yang merupakan Clinical Psychologist Universitas Padjadjaran. Setelah itu dilanjutkan dengan sesi presentasi dari Top-5 Presenter. Mungkin ada yang akan mendaftarkan diri di ISS 2.0 dan ingin mempresentasikan esai, nah di sesi Top-5 ini ada sesi tanya jawab dari juri-juri handal. Pertanyaan yang aku dapat dari Mas Muflih Dwi Fikri (Founder Global Millenial Group) adalah siapa saja mitra untuk mewujudkan inovasiku, bagaimana teknis pelaksaan dan di akhir sesi QnA juri memberikan kesempatan 30 detik untuk memberikan closing statement. Fiuh, grogi euy. Tapi alhamdulillah sudah selesai.

Setelah itu, sembari dewan juri menentukan siapa presenter terbaik, acara dilanjutkan dengan simposium 4. Yang menurutku insightful banget karena dari sini lebih banyak hal baru yang aku ketahui tentang disabilitas. Dan ternyata pematerinya satu almamater juga di Media & Komunikasi Universitas Airlangga, hahaha.. jadi langsung klop begitu aku DM di instagram dan aku cerita juga satu almamater dengan dia. Simposium 4 diisi oleh seorang awardee beasiswa LPDP yaitu Kak Umar Syaroni. Sekarang dia masih semester 2 di Medkom UNAIR.

Jreeeng jreeeng...

Sebelum pengumuman, panitia ternyata sudah menyiapkan closing party. Ada games dan satu guest star yang menyanyikan beberapa lagu. Jadi berasa ikut konser virtual yak. Hahaha.. tapi seru, ambyar bareng-bareng peserta lainnya.

Dan saatnya pengumuman.

Peringkat 5, 4 dan 3

Peringkat 2

Peringkat 1

Nah ini daftar peringkatnya dari 5 ke 1 ya:

1. M. Audrey Hasanal - Universitas Sriwijaya (188)
2. Cycilia Ernita - Universitas Atma Jaya (199)
3. Berdit Zanzabela - Universitas Airlangga (211)
4. Rosa Diwanegara - Universitas Airlangga (212)
5. Nandasetya Kharisma - Wetrust Initiative (217)

Baru ngeh juga ternyata selisi 1 poin dengan peringkat ke-2, ada masukan dari Kak Muflih yaitu memperkuat branding. Ini masukan bagus jadi selanjutnya bisa semakin diperkuat untuk strategi branding-nya. Terima kasih semua kakak kakak panitia ISS 1.0 :)

Dan kabar gembira untuk teman-teman yang ingin mengikuti ISS 2.0, pendaftaran akan segera dibuka nih. Bisa langsung cek di website Indonesia SDG's Summit. Jika ingin bertanya mengenai kegiatan ini, bisa DM ke instagramku @zanza_bela ya.



Terima kasih sudah mampir.
(Adm/Zan)
7/3/21

Menyisihkan atau Menyisakan?

Uang yang akan kalian tabung, itu karna sudah disisihkan atau disisakan?

Bedanya apa? Kan sama sama nanti ada uang yang akan disimpan.

Kalau disisihkan, artinya sejak awal sudah ada alokasi. Misal dari 100.000, sudah diniati sejak awal "oh 40.000 untuk disimpan", sudah disisihkan. Jadi dia akan menggunakan yang separuhnya saja. Tapi lain kasus kalau tiba-tiba sakit/kena musibah, uangnya kurang dan harus menggunakan uang 40.000 tadi untuk menebus obat.

Tapi kalau "ntar lihat dulu habisku berapa, baru tak tabung". Lha kalau tiba-tiba di tengah jalan, panas dan haus t'rus ngeliat bakul es pisang ijo. Yang semula nggak pengen akhirnya pengen, padahal uangnya ngepas tinggal 10ribu sesuai harga es, ketika dia beli nah habis dong uangnya. Nggak ada sisa dan nggak jadi nabung.

Sama dengan waktu. Katanya waktu sama berharganya seperti uang. Kalau kalian menyisihkan atau menyisakan waktu?

Ketika orang yang kalian sayang atau orang yang membutuhkan bantuan kalian meminta waktu, kalian akan menyisihkan atau menyisakan?

Pilihannya tentu menyesuaikan kondisi kalian saat itu. Rasa-rasanya kalian cukup dewasa untuk mempertimbangkan mana yang sejak awal mereka berhak atas waktumu artinya memang kamu sisihkan, atau mereka yang baru menerima sisa waktumu ketika kamu sudah selesai menyelamatkan dunia.

Tapi, kalau aku pribadi akan sangat mengingat apa yang telah seseorang berikan termasuk ketika mereka memasukkanku dalam daftar penerima waktu mereka. Karna meski hanya beberapa menit mereka menyisihkan, meluangkan, bagiku mereka seperti memberi penghidupan.

Zanzabela
Juli 2021

(Adm/Zan)
7/2/21

Pengalaman di Simposium Indonesia SDGs Summit 1.0 (Part 1)

Simposium ISS 1.0

Halo pejuang pandemi! *aseekkk 

Ceileee pejuang pandemi. Karna sudah begitu sesak dengan berita-berita menyeramkan tentang covid-19, mencoba melawan arus berita-berita itu dengan hal lain. Meskipun produktifitas agak terganggu karna anjuran mengurangi mobilitas untuk mematuhi protokol kesehatan, tetapi jangan kemudian membiarkan waktu berlalu sia-sia ya teman-teman. Mari bersama-sama menjadi pemenang melawan pandemi ini. Bukan hanya menang karena patuh prokes tapi juga tetap mengisi diri dengan aktivitas positif bahkan meningkatkan keterampilan diri. Dan thanks to instagram! Karena berkat algoritma instagram yang membaca keyword apa yang tiap pengguna cari dan sukai, instagram mempertemukanku dengan event kece ini. Yaps, nama kegiatannya adalah Indonesia SDG's Summit 1.0 dengan tema Strengthening Youth’s Action for 2030 Agenda on Sustainable Development Goals.


Dalam simposium ini ada 4 tema yang akan fokus dibahas dan juga menjadi topik esai bagi peserta simposium yang ingin mengirimkan hasil pemikirannya tentang SDG's. Empat tema tersebut adalah  (3)Kehidupan Sehat dan Sejahtera, (4) Pendidikan Berkualitas, (5)Kesetaraan Gender, dan (8)Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Mungkin di penyelenggaraan 2.0 berikutnya akan mengangkat tema SDG's yang lain. Nah kalian ada kesempatan untuk ikut simposium ISS jika memang berminat. Bisa mulai disiapkan esainya mulai sekarang.

Pengenalan Tujuan SDGs ke 3, 4, 5, dan 8 :
Tujuan 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
Menurut Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk miskin Indonesia pada tahun 2020 mencapai 10,19%. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan kehidupan sehat dan sejahtera di Indonesia belum tercapai. Untuk mencapai target tersebut, fokus yang dibicarakan meliputi gizi masyarakat, sistem kesehatan nasional, akses kesehatan dan reproduksi, Keluarga Berencana (KB), serta sanitasi dan air bersih.

Tujuan 4: Pendidikan Berkualitas
Pendidikan di Indonesia belum memiliki kualitas yang baik. Hal ini diperkuat oleh data laporan PISA 2015 yang mengurutkan kualitas sistem pendidikan di 72 negara, Indonesia menduduki peringkat 62. Dua tahun sebelumnya yakni pada PISA 2013, Indonesia menduduki peringkat kedua dari bawah atau peringkat 71. Tujuan pendidikan pun yang akan menjadi tumpuan upaya pemerintah untuk mendorong pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan berkelanjutan dalam era Sustainable Development Goals (SDGs) hingga 2030 guna meningkatkan indeks pembangunan manusia Indonesia perlu ditinjau kembali melalui aspek rasio siswa, pendidik, sarana dan prasarana.

Tujuan 5: Kesetaraan Gender
Kesetaraan gender di Indonesia masih terbilang rendah. Hal ini tercermin dari indeks kesetaraan gender yang dirilis Badan Program Pembangunan PBB (UNDP) Indonesia berada pada peringkat 103 dari 162 negara atau terendah ketiga se-ASEAN. Data tersebut menunjukkan bahwa perempuan masih tertinggal di belakang laki-laki. Untuk itu, diperlukan strategi yang efektif untuk memberdayakan masyarakat baik laki-laki maupun perempuan di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan politik melalui organisasi, media, dan dunia usaha dengan bantuan seluruh pihak agar kesejahteraan masyarakat Indonesia dapat tercapai.

Tujuan 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
Berdasarkan penelitian perbudakan global modern atau Global Slavery Index tahun 2014 Indonesia menempati peringkat 8 dari 167 negara tertinggi di dunia. Indonesia masih mempekerjakan masyarakat tanpa memberikan hak-haknya, termasuk ke dalam perbudakan modern. Untuk itu diperlukan strategi efektif guna menanggulangi masalah tersebut yaitu penciptaan lapangan pekerjaan, peningkatan tata kelola administrasi ketenagakerjaan, dan perlindungan sosial. Penciptaan kesempatan kerja sebagai pusat dari pembuatan kebijakan ekonomi dan rencana pembangunan, tidak hanya akan menghasilkan peluang kerja yang layak namun juga pertumbuhan yang lebih kuat, inklusif dan dapat mengurangi kemiskinan.

Dari ke-4 tema di atas, kebetulan aku memilih tema 4 yaitu Pendidikan Berkualitas sebagai topik esai. Untuk ketentuan penulisan esai adalah menggunakan font Times New Roman ukuran 12 dan spasi 1,5 . Sedangkan struktur esai meliputi judul, analisa isu, faktor penyebab dan ide inovatif serta ditulis maksimal sebanyak 3 halaman (tidak termasuk lembar referensi).

Memang syarat pengumpulan esai ini opsional (tidak wajib). Namun bagi peserta yang mengumpulkan esai pun ternyata tidak semua akan diberi kesempatan untuk mempresentasikan tulisannya pada simposium ISS tersebut (aku pun baru tahu setelah panitia mengumumkan hasil esai yang lolos seleksi). Sejujurnya aku merasa sangat kurang maksimal dalam mengerjakan esainya. Aku hanya menuntaskan selama 10 jam saja di hari terakhir pengumpulan esai karena hari-hari sebelumnya masih harus menyelesaikan pekerjaan di luar kota. Teman-teman yang ingin membaca dan mungkin memberi masukan positif, bisa cek esaiku di sini ya. Nah meski awalnya insecure banget bangetnamun surprise ketika pengumuman seleksi esai hari ini. Dari sekitar 80 esai yang dikirimkan ke simposium, hanya 39 peserta ini yang berkesempatan untuk presentasi.

Hasil Seleksi Esai ISS 1.0

Ada pelajar sekolah menengah juga. Waaa... jadi flashback, dulu waktu aku SMA masih merasa cobaan terberat hidup adalah PR matematika. Hahaha.. sama sekali nggak kepikiran untuk ikut simposium seperti ini :") inginku membayar waktu yang berlalu sia-sia tanpa pengalaman bermakna. Huhuhu.. Tapi mari lanjutkan hidup dan manfaatkan kesempatan selagi "sempat". Beruntung juga pandemi ini membuat pekerjaan tidak sepadat biasanya, sehingga punya cukup waktu untuk mengikuti kegiatan simposium seperti ini.

Oiya, acaranya masih akan berlangsung tanggal 3 dan 4 Juli 2021 besok. Untuk teman-teman yang ingin tahu informasi lainnya atau ingin ikut di ISS 2.0 bisa baca di situs sdgsummit.id atau follow akun instagram ISS di @sdgsummit.id :)

Jika rekan-rekan pembaca ada yang ingin ditanyakan namun sifatnya aku bukan sebagai panitia ya, tapi peserta jadi aku sebatas sharing pengalaman aja. Boleh DM aku di instagram @zanza_bela.

Terima kasih sudah mampir.
(Adm/Zan)

7/1/21

Esai : Pendidikan Membangun Desa

Halo teman-teman. Lama nggak nulis esai nih. Iseng-iseng ikut simposium ISS atau Indonesia SDG's Summit 1.0 yang akan diselenggarakan 3-4 Juli 2021. Untuk yang penasaran tentang programnya, bisa langsung kunjungi websitenya di sdgsummit.id. Baca juga pengalamanku waktu mengikuti ISS ya di tulisan Menjelang ISS dan Pengalaman ISS.

Edisi pertama kali ini mengusung tema Strengthening Youth’s Action for 2030 Agenda on Sustainable Development Goals yang fokus terhadap beberapa sesi simposium yang berbeda. Simposium ini akan terbagi menjadi 4 yaitu (3)Kehidupan Sehat dan Sejahtera, (4) Pendidikan Berkualitas, (5)Kesetaraan Gender, dan (8)Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Karena selama ini concern di bidang pendidikan non formal, jadi setelah menimbang-nimbang akhirnya aku pun mengambil tema Pendidikan Berkualitas. Jika ada masukan untuk tulisanku ini, jangan sungkan untuk tulis di kolom komentar atau kirim ke email zanzabela@yahoo.com ya. Oiya, boleh juga follow IGku @zanza_bela.

*****

PENDIDIKAN MEMBANGUN DESA
Oleh: Berdit Zanzabela

 

Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) desa unggul dan memiliki daya saing berakar dari pendidikan yang berkualitas. SDM berkualitas akan melahirkan manusia-manusia yang mampu berperan aktif mewujudkan kesejahteraan masyarakat, kemandirian bangsa dan mendukung pembangunan nasional. Namun apakah pendidikan berkualitas sudah benar-benar merata dari kota hingga ke desa?

Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki komitmen untuk turut andil dalam SDG’s (Sustainable Development Goals) yang juga merupakan agenda visi pembangunan jangka panjang. Komitmen tersebut diharapkan tidak hanya memenuhi kesepakatan global tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah pinggiran yang menjadi tindak upaya pemerintah melakukan pemerataan pembangunan.

Dilansir melalui Kompas, menurut Abdul Halim Iskandar, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), mengatakan bahwa akselerasi pengembangan dapat dicapai dengan menjadikan desa sebagai pusat pembangunan Indonesia. Hal tersebut didukung dengan adanya aspek kewilayahan. Setidaknya sekitar 91% kawasan Indonesia merupakan wilayah pedesaan. Berdasarkan data yang disampaikan oleh Mendes PDTT pada tahun 2020, mayoritas wilayah pembangunan berada di pedesaan dengan rincian dari 514 kabupaten/kota, terdiri atas 74.953 desa dan 8.430 kelurahan. Dari data tersebut, berkisar 12,06% wilayah kabupaten masih tergolong daerah tertinggal. Mengingat prinsip No One Left Behind, dimana SDG’s memang dirancang untuk tidak meninggalkan satu orang pun termasuk yang ada di desa. Oleh karena itu, komitmen pembangunan Indonesia dari desa juga dituangkan dalam pelokalan SDG’s menjadi SDG’s desa. Hal inilah yang menjadi acuan dan upaya terpadu untuk pembangunan berkelanjutan desa di Indonesia. Jika secara global kita mengetahui salah satu tujuan dalam SDG’s adalah pendidikan berkualitas, maka lebih spesifik, SDG’s Desa bertujuan untuk mewujudkan pendidikan desa berkualitas.

Guna mewujudkan komitmen tersebut, SDM berkualitas yang diperoleh melalui pendidikan berkualitas menjadi pilar penting. Jalur pendidikan yang dikenal di Indonesia dibedakan menjadi jalur pendidikan formal dan non formal. Perbedaan mencolok diantara keduanya yaitu pada penyusunan kurikulum. Pendidikan formal disusun secara terpusat., sedangkan pendidikan non formal lebih bersifat tertentu. Muatan kurikulum pendidikan non formal difungsikan sebagai pelengkap, penambah hingga pengembang potensi melalui pelatihan kerja, kursus, dan lain-lain. Minimnya pendidikan di desa tidak hanya dipengaruhi oleh kurang meratanya penyedia sarana dan prasarana pendidikan, tetapi juga faktor lain yaitu faktor ekonomi seperti yang dirasakan oleh masyarakat suku Akit di Desa Sokop, Riau. Keadaan berdampak  pada banyaknya anak putus sekolah dan tidak bisa melanjutkan pendidikan formal (Husnul Khotimah et al, 2017). Selain itu, kurangnya motivasi belajar akibat persepsi masyarakat terhadap pendidikan juga menjadi salah satu faktor penyebab lainnya. Seperti yang terjadi di desa Pogungrejo Bayan, Purworejo, Jawa Tengah yang menurut keluarga petani di sana pendidikan formal masih dilihat sebagai mesin pencetak diploma untuk kelayakan mencari pekerjaan sehingga cenderung statis untuk kesadaran mengenyam pendidikan tinggi (Syaefudin, 2018). Hal itu pun serupa dengan yang terjadi di beberapa desa yang ada di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Ditambah lagi trend di kalangan pemuda dan usia produktif yang lebih memilih merantau karena minimnya ketersediaan lapangan pekerjaan.

Tidak jarang fenomena tersebut membuat beberapa desa menjadi kekurangan SDM potensial untuk membantu mengembangkan desanya. Olah karena itu, perlu adanya gerakan belajar melalui pendidikan non-formal bagi warga setempat agar bisa turut serta membangun desanya. Sasarannya tidak hanya kalangan muda saja, tetapi juga kalangan pekerja dewasa. Adapun jenis materi keterampilan yang akan diberikan, menyesuaikan dengan kebutuhan warga setempat. Pemberian stimulus guna meningkatkan motivasi belajar, diberikan dengan cara memasukkan unsur muatan lokal seperti menggali potensi-potensi menarik yang ada di desa tempat mereka tinggal. Karena tidak jarang warga setempat melihat sesuatu yang sebenarnya menarik dan potensial sebagai hal yang biasa saja.


Gambar 1.1 Belajar Bersama Pemandu Kapal Wisata di Kec. Watulimo, Trenggalek

Salah satu contohnya adalah daerah yang berada di Kecamatan Watulimo, Trenggalek. Daerah tersebut terkenal sebagai daerah wisata seperti Pantai Prigi, Karanggongso, pantai Mutiara, dan lain-alin. Memang mayoritas warga di sana berprofesi sebagai nelayan. Tetapi saat tidak melaut, mereka mengalihfunsgikan kapalnya sebagai media wisata bagi para wisatawan dengan cara menyewakannya. Tidak jarang para nelayan tersebut menjadi pemandu kapal wisata, dengan hanya mengandalkan 'naluri bertahan hidup' tanpa mengetahui ilmu dan keterampilan penunjang yang semestinya harus dipelajari. Dalam hal ini dapat kita ketahui bahwa jalur pendidikan non formal dapat hadir sebagai solusi guna memberikan pelatihan agar dapat mengembangkan keterampilan dan mencetak pramuwisata kompeten untuk memandu wisatawan.

Melalui kegiatan pelatihan tersebut, kami juga menemukan beberapa kendala yang dirasakan oleh pemandu kapal wisata disana yang tertulis pada Tabel 1.1 berikut :

 

No.

Kendala

Hasil Diskusi dan Evaluasi

1.

Terdapat laporan dari wisatawan tentang pemandu kapal wisata yang kurang ramah

Pramuwisata diajarkan 3S (Senyum, Salam, Sapa) dan materi tentang hospitality untuk menunjang profesi mereka.

2.

Wisatawan kurang bisa mengenali identitas pemandu kapal wisata

Mereka diajarkan dari sisi grooming, agar menyadari pentingnya kostum ikonik untuk memudahkan wisatawan mengenali mereka

3.

Wisatawan menawar harga terlalu murah

Pramuwisata merasa binung dan kesulitan untuk mempertahankan harga, sehingga aspek public speaking juga dikenalkan kepada mereka.

4.

Pemandu kapal wisata hanya fokus mencari wisatawan dan operator kapal. Kurang cakap dalam menceritakan filosofi objek wisata

Pramuwisata juga diajak untuk semakin mengenal daerahnya sendiri sehingga ada aspek filosofi yang juga diceritakan kepada wisatawan yang naik kapal wisata mereka. Dan ditunjang dengan public speaking skills.

5.

Pemandu kapal wisata belum mengenali karakter wisatawan millennial (missal: yang suka berfoto)

Pramuwisata dikenalkan tipe-tipe perilaku wisatawan millennial. Contoh: suka berfoto. Sehingga mengingatkan pramuwisata untuk memberi kesempatan wisatawan berfoto sejenak saat menjelajah lautan.

 

Kegiatan pelatihan untuk mengasah soft skill dalam bidang pramuwisata di atas dapat meningkatkan kualitas SDM dalam menjalankan profesinya. Tidak hanya menyerap materi tetapi juga saling berdiskusi untuk inovasi-inovasi lainnya guna menunjang profesi di bidang ke pariwisataan. Tak hanya itu, upaya ini juga dapat menjadi bagian partisipasi warga setempat untuk turut serta membangun desanya melalui potensi pariwisata.

Mengutip pernyataan Bung Hatta, “Indonesia tidak akan besar karena obor di Jakarta, tetapi Indonesia akan bercahaya karena lilin-lilin di desa menyala”. Dengan turut serta membantu pendidikan warga desa, meskipun dalam terlihat skala kecil namun ketika serentak dilakukan di desa-desa lain maka dampaknya bisa menjangkau lebih luas bahkan merata di seluruh Indonesia.


 

Referensi :

Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), https://www.its.ac.id/drpm/beranda/pusat/pusat-kajian/sdgs/tentang-kami/, diakses 30 Juni 2021

Kurniawan, Alek. 2020. “Mendes PDTT: Desa Jadi Penentu Kemajuan Bangsa Indonesia”, https://nasional.kompas.com/read/2020/11/21/19445111/mendes-pdtt-desa-jadi-penentu-kemajuan-bangsa-indonesia?page=all, diakses pada 30 Juni 2021

Khotimah, Husnul; Hambali; Supentri. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Masyarakat Suku Akit Tidak Melanjutkan Pendidikan Formal Di Desa Sokop Kecamatan Rangsang Pesisir Kabupaten Kepulauan Meranti. Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau, vol. 4, no. 2, Oktober 2017, pp. 1-15.

Syaefudin. 2018. Kesadaran Keluarga Petani Terhadap Pentingnya Pendidikan Formal (Studi Kasus di Desa Pogungrejo Bayan Purworejo Jawa Tengah). Volume 6, Nomor 1: 62-80.  Jurnal Psikologi Integratif


Terima kasih sudah berkunjung.
(Admin/Zan)

5/26/21

Hal Yang 'Terlewat' Saat Memilih Kampus


Ini semacam flashback, ketika beberapa tahun lalu diriku memilih jurusan dan kampus idaman. Bagi gadis desa sepertiku yang saat itu terbatas mendapatkan akses informasi, mading sekolah, guru BK dan kunjungan alumni-lah sumber informasi ter-valid menurutku. Sesekali aku mengakses internet, tapi biaya warnet yang pada saat itu cukup mahal untuk seumuranku, membuatku hanya menyasar informasi inti saja, tidak leluasa berselancar berjam-jam di Google. Maka ku telan saja resiko yang harus ku terima.

Apa pertimbangan kalian ketika akhirnya memilih kampus idaman? Kalau aku bertanya di tahun 2021 ini, jawabannya akan sangat keren dan bervariasi ya.

Tapi ijinkan aku untuk memaparkan beberapa alasan calon mahasiswa baru atau camaba memilih perguruan tinggi yang trend pada zamanku saat itu.

  1. Reputasi: pilih kampus ya yang favorit, ya yang bergengsi dong, keren
  2. Jurusan: mau jadi A, pengen kerja di X (mungkin ini alasan yang masih relevan ya untuk saat ini)
  3. Passing grade: ini PG-nya rendah, peluang buat aku masuk jadi pilih ini aja deh (sumpah ini fatal dan keliru banget bahkan sebagian orang mengutuk pertimbangan pada PG murni ini sangat sesat)
  4. Pacar atau gebetan: pacarku ambil di Y, jadi aku Y juga ah; atau di kampus Z ada senior mirip artis Korea (ada yang kayak begini juga?)
  5. Dipaksa orang tua: mereka maunya aku jadi A, jadi harus kuliah di A deh
Beberapa poin di atas, awalnya ku kira hanya berlaku zaman old-mind ya. Tapi beberapa tahun terakhir, aku masih menerima pesan masuk melalui instagram dari beberapa adik kelas (di Trenggalek). Dan wow, alasan-alasan di atas masih ada sampai 2021 ini. Padahal ketika sharing dengan teman-temanku (di Surabaya), yang punya anak usia sekolah dasar hingga rekan kerja yang anaknya usia mahasiswa, alasan-alasan memilih sekolah lebih new-mind. Misalnya, tersedia program internasional apa di perguruan tinggi tersebut, ada pengembangan diri apa saja untuk mahasiswanya, ketersediaan beasiswa, dan lain-lain. Tapi apapun alasan memilih kampus, pada dasarnya itu hak camaba dan orang tua/wali sih. Tapi menurutku ada satu hal penting juga yang sepertinya terlewat, nggah ngeh untuk dijadikan sebagai salah satu pertimbangan dalam memilih perguruan tinggi. Apa sih?

Sumber: Kompas (15 Maret 2019)

Dilansir dari Kompas, para lulusan sarjana diharapkan tidak hanya puas dengan ijazah tetapi juga harus mengantongi sertifikasi profesi. Meskipun ini sudah berita lama, tapi nampaknya belum banyak orang yang menjadikan sertifikasi ini sebagai prioritas.

Jika kalian memilih perguruan tinggi, coba pertimbangkan juga keberadaan LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi). Di beberapa kampus ada yang dijadikan satu dengan departemen pengembangan karir atau yang sejenis.

Memang, apa manfaat adanya LSP atau sertifikasi profesi?
Dilansir dari LSP Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dengan sertifikasi ini kalian akan mendapatkan lisensi dan pengakuan kompetensi atas keahlian dalam cabang ilmunya sehingga lulusan memiliki daya saing lebih di dunia kerja. Sekaligus komponen pengisi SKPI (Surat Keterangan Pendamping Ijazah).

Masih bingung?
Kita pakai contoh di perguruan tinggi UNTAG Surabaya aja deh. Misalnya, kalian adalah mahasiswa jurusan ilmu komunikasi di UNTAG Surabaya. Selain lulus dan bergelar S.Kom, kalian juga bisa mendapatkan fasilitas sertifikasi profesi untuk skema Penyiar Televisi (KOM.01/SSK/LSP/IV/2017). Jika selama kuliah tidak ada waktu & biaya untuk kursus (penyiar misalnya), manfaatkan LSP ini untuk uji kompetensi sebagai penyiar tv. Sertifikatnya bisa kalian gunakan sebagai pendamping ijazah dan portfolio jika melamar pekerjaan. Tentu kamu juga harus melatih keterampilan penunjang lain ya. Info skema sertifikasi di UNTAG Surabaya, bisa cek di https://lsp.untag-sby.ac.id.

Kita ambil contoh lain lagi ya. Disini ada calon maba prodi tata rias?
Di UNESA terdapat LSP dengan skema sertifikasi Perias Pengantin Gaun Panjang dan Perias Pengantin Solo Putri. Sertifikasi untuk tata busana dan lain-lain bisa cek di https://lsp.unesa.ac.id/.

Atau ada yang berencana mengambil jurusan Perminyakan? Jika kalian mengambil di Kampus UBHARA JAYA, di sana ada LSP dengan skema sertifikasi Ahli Fluida dan Pengeboran Migas dan Panas Bumi. Atau camaba jurusan Teknik, dan ingin jadi Ahli K3 Madya, bisa juga ikut sertifikasinya. Info selengkapnya, cek di https://lsp.ubharajaya.ac.id/.

Masih banyak kampus-kampus lain yang memiliki LSP. Keterampilan kalian bisa diuji dan jika kompeten akan mendapat lisensi dari BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi).

Apa tidak bisa jika saya mengikuti sertifikasi tapi bukan mahasiswa di LSP kampus tersebut?
Mayoritas tidak bisa. LSP kampus X maka hanya bisa diikuti oleh mahasiswa kampus X. Tapi, ada juga kampus tertentu yang menjalin kerjasama dengan BNSP untuk pengabdian masyarakat sehingga mengadakan sertifikasi profesi yang bisa diikuti oleh masyarakat umum. Jadi harus perbanyak update info. Tapi lebih beruntung jika ternyata kamu sudah berkuliah di kampus yang menyediakan skema sertifikasi sesuai prodi dan keahlianmu.

Bagaimana?
Mulai masuk pertimbanganmu dalam menentukan jurusan dan kampus idaman?

Semoga bermanfaat.


(Admin/Zan)


4/8/21

Cerita Sertifikasi Skema Penulisan Buku Non Fiksi


Apa yang kalian bayangkan kalau ikutan sertifikasi kepenulisan buku non-fiksi?

Oh.. sudah harus nerbitin buku banyaaak. Atau
Ooo... bekerja di penerbitan ternama. Atau
Sudah jadi penulis yang karya-karynya viraallll.

Hehehe.. itu pun juga yang ada di benak saya. Namun setelah mengikuti webinar yang diselenggarakan oleh UNITOMO Press bekerjasama dengan LSP PEP Jakarta (1/4), ada beberapa hal baru yang saya ketahui tentang sertifikasi penulis dan editor.

Ada empat pilihan skema yang bisa diikuti dalam ujian sertifikasi kompetensi BNSP ini, yaitu skema penulisan buku non-fiksi, skema penyuntingan naskah, skema penyuntingan akuisisi dan skema penyuntingan substantif.

Waktu itu saya mengikuti skema untuk penulisan buku non-fiksi karena memang tujuannya berkaitan dengan menyusun modul atau bahan ajar. Dan ternyata syarat untuk mengikuti sertifikasi ini terbagi menjadi dua jalur. Yang pertama adalah jalur pendidikan dan kedua jalur non-pendidikan.

Untuk jalur pendidikan, peserta merupakan mahasiswa minimal semester 4 dan atau lulusan dari jurusan Ilmu Budaya, Ilmu Komunikasi dam Ilmu Penerbitan. Dan untuk jalur pendidikan ini, bagi kalian yang sama sekali belum pernah menulis buku atau menghasilkan karya berupa buku, maka kalian bisa mengikuti mekanisme uji kompetensi untuk non portfolio.

Tetapi untuk kalian yang bukan berasal dari ketiga jurusan tersebut, namun sudah memiliki karya buku atau saat ini bekerja sebagai penulis atau editor di suatu perusahaan penerbitan, maka kalian bisa memilih kategori non-pendidikan dengan mekanisme asesmen portofolio (jika tulisan saya kurang tepatm mohon revisinya melalui kolom komentar).

Sedangkan untuk syarat dokumen yang harus dilengkapi adalah ijazah terakhir minimal D2, identitas KTP, pasfoto 4x6 berlatar merah, CV terbaru yang ditanda tangani, sertifikat pelatihan kompetensi di bidang penulisan buku non fiksi (jika ada), cover buku karya (jika ada), surat keterangan bekerja sebagai penulis dari lembaga penerbitan (jika ada), dan tiga buah cover karya buku ber-ISBN (jika akan mengikuti uji dengan metode portofolio). Untuk persyaratan skema yang lain bisa cek di sini.

Setelah mendaftarkan diri, peserta akan mendapatkan konfirmasi melalui email atau SMS dan mendapatkan usernam dan password untuk login di website Sistem Sertifikasi LSP (lsppenuliseditor.id). Jika ada berkas/dokumen yang belum dilengkapi, maka akan ada pemberitahuan dalam email tersebut. Setelah berkas dilengkapi dan lolos verifikasi, bagi yang mendaftar seperti saya untuk kategori pendidikan dengan jenis asesmen non portofolio maka akan muncul tampilan seperti ini :


Jika beberapa saat teman-teman sudah login ke akun dan muncul tanda merah pada poin pertanyaan tulisan dan observasi seperti tampilan di bawah ini, maka segera konfirmasi ke asesor atau panitia setempat agar dibantu untuk proses verifikasi dan Anda lekas bisa mengerjakan soal pertanyaan.


Namun, jika kalian mengikuti uji kompetensi dengan jenis asesmen portofolio, maka tampilannya akan seperti ini :



Nah kembali ke asesmen non-portofolio yang saya jalani. Waktu itu terdapat sebanyak 30 pertanyaan pilihan ganda yang harus saya kerjakan dengan durasi skeitar 25 atau 35 menit (maaf agak lupa hehe). Jenis-jenis pertanyaannya mulai dari hal mendasar seperti menentukan kalimat dengan tanda baca yang tepat, menyebutkan tiga bagian buku meliputi pembuka-isi-penyudah, tahapan pra menulis non-fiksi, imbuhan di-, contoh kalimat mubadzir, menulis memoar, tahapan menulis naskah non-fiksi, dan lain-lain yang berkaitan dengan penulisan buku non-fiksi.

Kemudian setelah selesai submit semua jawaban, dilanjutkan dengan Observasi / Praktek yang terdiri dari 3 soal dan harus dikerjakan kurang lebih sekitar 40-45 menit saja. Pertanyaan pertama, peserta diminta menuliskan dengan menggunakan Style Heading dengan tema Waspada Pandemi Kini dan Nanti, pertanyaan kedua peserta diminta membuat Prakata yang berkaitan dengan tema di pertanyaan pertama maksimal 500 kata dan pertanyaan terakhir adalah menuliskan daftar pustaka dari 5 daftar buku yang tertera di soal pertanyaan. Semua hasil pengerjaan dituliskan dalam format word dengan ketentuan font Times New Roman ukuran 12, spasi 1,5 dan margin normal.

Tahap terakhir yaitu wawancara dengan asesor. Waktu itu saya berkesempatan untuk diuji oleh asesor dari Universitas dr. Soetomo Surabaya yaitu Dr. Dian Ferriswara. Awalnya sudah berpikir yang macam-macam, karena memang saya 1x pun belum pernah menulis buku. Hanya bondo nekat, tapi memang sejak SMA saya senang menulis baik di Karya Tulis Ilmiah, menjadi bagian pewawancara dan redaksi majalah sekolah, suka blogging juga dan sampai saat ini masih gemar menulis artikel, script berita atau untuk keperluan voice over video iklan UMKM. Ternyata setelah dilalui, tidak semenyeramkan seperti yang saya kira. Beberapa pertanyaan tertulis cukup membantu saya secara teoritis menjawab pertanyaan asesor meski sebelumnya belum pernah 1x pun saya mengikuti pelatihan menulis atau workshop sejenis.

Nah, sekedar referensi untuk teman-teman yang ingin mengikuti uji kompetensi seperti saya, beberapa pertanyaan yang diajukan asesor waktu itu berkaitan dengan tahapan pra menulis buku non-fiksi, ciri utama naskah non-fiksi & fiksi, perbedaan Pra Kata dan Kata Pengantar, apa saja yang termuat dalam Pra Kata, bagian-bagian pembuka buku, perbedaan index dengan glosarium, daftar pustaka, tujuan membuat modul atau buku ajar, hal-hal yang diperhatikan dalam menentukan sumber bacaan, cara untuk mendapatkan data bacaan, penulisan berbasis momentum, dan lain-lain.

Hampir secara keseluruhan saya menjawab hanya berbekal pengalaman saya hobi menulis KTI sejak SMA, dan sisanya dari pengalaman menulis skripsi dan tesis selama kuliah. Ada yang "beruntung" cukup familiar sehingga bisa menjawab pertanyaan asesor, tapi ada juga yang saya jawabnya "ngasal" dengan struktur jawaban yang acakadut. Tapi yang membuat saya semangat adalah kata-kata Pak Dian waktu itu, "Saya hanya menilai kompeten dan tidaknya sebagai seorang penulis, kalau untuk pengetahuan atau teori itu bisa dipelajari". Dari situ, ya saya menjawab sebisa saya meski ada beberapa yang kurang tepat tapi ya tidak terlalu zonk lah ya. Masih nyrempet-nyrempet. Hehehe... Setelah kira-kira 20 menit sesi wawancara selesai, beliau juga memeriksa hasil pengerjaan soal praktik saya. Ada beberapa masukan dan evaluasi atas hasil kerja saya.

Ada satu soal yang saya kurang tepat dalam mengerjakan.
Seharusnya saya hanya diminta untuk menuliskan outline saja, tetapi saya justru menuliskannya lengkap seperti artikel. Tetapi ada hikmahnya, Pak Dian justru kaget dengan waktu sangat singkat tetapi bisa menulis sebanyak itu. Hal ini justru membuat Pak Dian semakin yakin meski saya belum pernah menulis buku, tetapi memang ada kompetensi sebagai penulis. Hehehe.. padahal salah jawab, tapi malah ada hikmahnya. Karena memang hanya dalam kurun waktu 2 jam saja, peserta diuji dimana asesor tentu tidak mengenal kita dan kita yang harus benar-benar meyakinkan bahwa kita punya kompetensi di bidang penulisan non-fiksi.

Ketika sudah selesai, asesor pun meminta saya untuk login ke akun dan mengisi beberapa umpan balik. Setelah selesai submit, muncullah hasilnya seperti ini :



Wih.. Tidak menyangka.
Memang terkadang untuk memulai hal baru, musuh terbesar justru bukan orang lain tetapi diri sendiri, asumsi pribadi begitu kejam. Kadang terlalu takut duluan, malah bikin insecure, pesimis. Eeee... ternyata tidak semenyeramkan itu.


Suasana Sertifikasi TUK Unitomo Surabaya di Hotel Ibis Style

Oiya, program sertifikasi ini merupakan kerjasama antara UNITOMO Press dengan LSP PEP Jakarta atas subsidi dari BNSP. Harga normal Rp 1,2 juta, namun karena subsidi peserta dikenai biaya Rp 350.000,- (mungkin harga bisa berbeda antara satu tempat dengan lainnya bergantung fasilitas yang diterima peserta).

Buat teman-teman, bapak/ibu yang akan mengikuti sertifikasi penulis dan editor profesional, salam semangat dan semoga sukses :)

(Admin/Zan)