4/4/17

Welcome to IRARI Jatim


Sambungan postingan sebelumnya nih. Hehehe.

Usai masa karantina dan grand final yang dihelat tanggal 27 Maret 2017 lalu, akhirnya kami resmi bergabung dalam keluarga besar Ikatan Raka Raki Jawa Timur atau IRARI Jatim.

Di Jawa Timur, kompetisi ini adalah salah satu kompetisi yang selalu disambut antusias oleh masyarakat di Jawa Timur. Karena bagi dinas pariwisata se-kab/kota, mereka antusias melihat pemuda/i daerahnya berkompetisi atas nama daerah, bagi para finalis yang mewakili ini merupakan pengalaman dan kenangan luar biasa. Tidak hanya bertanding tetapi juga mendapatkan teman dan pengetahuan baru.

Untuk kompetisi ini, mungkin ada yang satu tahun atau bahkan bertahun-tahun mempersiapkan diri. Ya, demi perhelatan akbar se-Jatim ini. Kompetisi yang diidam-idamkan ratusan remaja, tetapi setiap tahun hanya 1 putra dan 1 putri saja yang beruntung bisa mewakili daerah.

Ada yang berjuang berkali-kali dari kompetisi atau pemilihan duta wisata tingkat daerah terlebih dulu agar bisa mewakili ke tingkat provinsi. Ada juga yang telah menjadi juara 1 di kompetisi tingkat daerahnya tetapi masih perlu inkubasi setahun atau enam tahun kemudian hingga akhirnya dipercaya paguyuban dan dinas setempat untuk menjadi wakil daerah. Ya, dengan catatan usianya masih memenuhi syarat. Atau ada juga yang harus diseleksi lagi di paguyuban masing-masing. Semua dalam rangka memilih yang siap dan matang berkompetisi.

Semua kabupaten/kota se-Jatim yang mengikuti pemilihan Raka Raki ini tidak mungkin mengirimkan delegasi yang 'remeh temeh'. Mereka sadar betul ini bukan ajang 'receh'. Ada yang bilang, kompetisi ini ibarat film "Hunger Games". Harus jeli dengan trik serta strategi bertarung. Baik dinas dan paguyuban duwis setempat berusaha memilih delegasi yang siap melakukan terbaik, ada yang menyebut siap perang dan siap membawa harum nama daerah di tingkat provinsi.

Amanah yang diemban kadang memang bikin gelisah. Nama diri sendiri, (mungkin) keluarga, paguyuban, sponsor, donatur, coach, sekolah, dinas dan daerah adalah nama-nama yang juga ikut bersama para finalis selama kompetisi.

"Majulah tanpa menyingkirkan orang lain.  Jangan naik tinggi dengan menginjak orang lain"

Bagi saya, kesempatan ini adalah keberuntungan. Ini kesempatan hanya sekali seumur hidup. Ada banyak orang yang mungkin tidak bisa berlenggang di kompetisis ini. Jadi, harus totalitas. Kesempatan ini bisa dijadikan sebagai tempat belajar, berkarya, menggali potensi diri dan mengembangkan jejaring.

Tidak perlu terlalu berambisi menang hingga menghalalkan segala cara. Kalian dikenang dan disambut hangat bukan karena persoalan menang saja. Tapi bagaimana proses perjuangan kalian untuk berusaha mengharumkan nama daerah. Tidak ada yang salah dengan tidak menjadi juara. Tapi kalau tidak mengupayakan yang terbaik, maka itu kekeliruan yang melukai orang rumah (daerah).

Oh iya, agak OOT (out of the topic) ya. Ada salah seorang teman yang menilai saya ini bukan orang Jawa Timur karena menurut dia pembawaan dan cara bicara saya ini 'halus' atau 'kalem' gitu lah. Dia mengira bahwa saya ini mungkin dari Solo atau Yogyakarta. Karna berdasar paradigma yang banyak melekat di masyarakat pada umumnya, orang Jawa Timur itu 'kasar'. Terlebih setelah dia tahu saya termasuk dalam Ikatan Raka Raki Jatim, dia nyeletuk "duwis Jatim gitu ngomongnya kasar trus triak-triak gitu ya?".

Jadi begini pemirsa dan netizen yang budiman, Jawa Timur itu terdiri dari beberapa suku dan budaya. Ada Madura, Osing, Tengger dan Jawa. Nah, kalau berbicara tentang orang Jawa, ini pun masih dibagi lagi. Orang menyebut Jawa Arekan dan Jawa Alus. Yang termasuk dalam Jawa Arekan ini adalah Malang, Surabaya, Mojokerto, dll (daerah bagian timur). Sedangkan yang termasuk dalam Jawa Alus ini seperti Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Pacitan, dll (daerah bagian barat). Nah, saya ini kebagian hidup di bumi bagian Trenggalek alias tergolong Jawa Alus jadi tetap 100% Jawa Timur kok. Hehehe.. Meskipun sejak 2012 merantau dan melanjutkan kuliah di lingkungan Jawa Arekan yaitu di Surabaya, tapi pembayaan dan medoknya tetep Trenggalek. Hahaha... Ini tadi sekilas info aja sih.

Nah, di unggahan kali ini saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada keluarga dan teman-teman yang berjasa dalam membantu saya mempersiapkan persyaratan administrasi, karantina sampai yang rela datang saat grand final. Mumpung di blog nulisnya lebih leluasa yak, hehehe. Semoga netizen yang budiman tidak bosan atau mual membacanya, karna akan sedikit agak panjang.

Yang pertama, keluargaku yang sudah mengijinkan untuk ikut kompetisi ini. Meskipun sebenarnya ini hasil ke-ngeyel-an haqiqi sih. Hakzz. Untuk Dinas Pariwisata Kabupaten Trenggalek dan keluarga besar Paguyuban Kakang Mbakyu Trenggalek yang sudah percaya dan memberi kesempatan berharga ini. Lalu untuk Ricky Zhou (@oktvdo) yang ngebantuin ijin dan jadi translater bahasa Cina dadakan. Kalau nggak dibantuin aku gak bisa balik Indonesia lebih awal. Hehehe.. Trio wayangan Bagus Aditya Susanto dan Agung Mahardika yang nyinyirnya menenangkan hati wkwk. 28 Production yang selalu jadi pahlawan. Mbak Rurik (Batik Setiya Jaya Trenggalek) yang legowo buat lembur ngerjain batik untuk karantina sampai jatuh sakit huhuhu.. maafkan. Mas Eko Budi (Emath) yang juga siap sedia lembur untuk baju karantina kita. Mas Tryan (Kraton Art Photography) yang sabar tiada batas nata pose selama photoshoot. MuA hits Mas Oping (@oping_wo) yang memahami bentuk pipi bunderku, dan sabar sekali disambati. Tante Enni (@alidacostumes) yang selalu membantu dari hati, gaun-gaunnya selalu menter. Anak-anakku Duta ITATS yang nggak berhenti ngasih kejutan. Teman terbaik acuuu si Lula Kumala yang ikutan gupuh blusukan ke pasar Blauran. Mas Rafan (@rafandani) yang ikut ngebangunin pagi waktu karantina. Mas Tahu Kuning alias Alfiandani Prabowo yang bersedia saya gupuhi bikin video profil untuk presentasi Raka Raki. Mas Heru yang udah bantu info dan rekomendasi liputan objek wisata. Terima kasih untuk orang-orang yang diam-diam atau terang-terangan nyinyir dan membuat mental makin 'atos', dan semua malaikat, ibu peri, bidadari, semuanya terima kasih.

Kalau ada yang belum disebutin, comment ya. Biar diedit lagi. Hehehe...

Terima kasih sudah membaca.

(Admin/Zan)
3/21/17

Fenomena Sekolah Hits Favorit


Memang ada, yang pengen 'numpang' dengan masuk ke sekolah / lembaga pendidikan terkenal bahkan kualitas terbaik. Anggapannya, dengan dia masuk sekolah terkenal maka dia bisa ikutan tenar. T'rus dengan dia yang biasa-biasa saja, bisa masuk sekolah yang berkualitas, maka namanya akan ikut dicap berkualitas bak papan atas. Belum lagi adanya sentralisasi fasilitas hingga subsidi yang cenderung diperuntukkan untuk sekolah paporit saja. Belum lagi labeling alumni sekolah paporit yang dianggap kehormatan. Ya, yang katanya layak. Jadi, sekolahnya sudah hits, muridnya tak kalah hits, para pengajarnya pun pasti hits, eh dapet bantuan fasilitas atau subsidi yang bikin makin hits juga, dan diperlakukan sehits-hitsnya. Jadi keluarlah kata-kata, "nguyahi segoro". Artinya bisa tanya tante Google. Fenomena ini berpeluang membentuk generasi muda yang tumbuh depresi. Kok bisa? Karena sejak seumur jagung, para orang tua sudah kebakaran jenggot untuk memasukkan anaknya di sekolah paporit. Ya, namanya juga mengusahakan yang terbaik. Perkara harapan yang tak sesuai kenyataan, cukup legowo. Mengenyam pendidikan di sekolah terkenal dan berkualitas paling baik, mungkin bisa menjadi sesuatu yang membanggakan. Namun, hal yang membuat dirimu dibanggakan orang lain, tetaplah pencapaianmu. Usahamu dan prestasi yang kamu raih. Lembaga pendidikan (sekolah) hanyalah wadah. Di mana pun, yang paling penting adalah usaha untuk tumbuh lebih mandiri. Ada lagi sebuah refleksi, "Orang tidak peduli seberapa hebat kita, seberapa pintar kita dengan nilai-nilai kita. Lulus seberapa cepat dan berapa panjang gelar yang didapat. Yang mereka pikirkan, apakah dengan keberadaan kita akan bermanfaat untuk mereka, untuk orang lain, terlebih untuk membantu sesama?". Terima kasih sudah berkunjung. Instagram: zanza_bela
3/1/17

Desa Wisata Sawahan Trenggalek

Desa Wisata Sawahan Trenggalek


Kab. Trenggalek berjarak 180 km dari kota Surabaya, dengan luas wilayah sekitar 1.260 Km2 Kabupaten Trenggalek dikaruniai kekayaan alam yang melimpah. Dengan posisinya yang berada di pesisir selatan Jawa Timur, Trenggalek juga memiliki ragam objek destinasi tempat wisata yang menarik seperti goa lowo, pantai prigi, dan lain-lain.

Peran wisata tersebut tak sekedar menjadi tujuan perjalanan wisatawan tetapi juga berpengaruh terhadap pembangunan nasional dimana tantangan pembangunan nasional saat ini dituntut memakai prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Bagaimana mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan?
Salah satu konsep yang dapat diterapkan untuk mewujudkan pariwisata berkelanjutan adalah CBT atau Community Based Tourism. Artinya pariwisata dibangun, dikelola dan diolah sendiri oleh masyarakat (community).

Salah satu contoh penerapan konsep CBT adalah desa wisata, dimana suatu desa yang memiliki daya tarik wisata khas dikelola oleh masyarakat setempat secara mandiri. Di Trenggalek terdapat salah satu desa wisata yaitu Desa Wisata Sawahan yang terletak di Kecamatan Watulimo. Desa wisata ini dikelola oleh Pokdarwis Duren Sari.

Wisatawan yang datang dapat memilih paket wisata yang diinginkan sebagai berikut :
Paket wisata bisa berubah sewaktu-waktu, untuk update informasi silahkan kunjungi www.durensari.id

5 Alasan Mengapa Desa Wisata Sawahan harus dikunjungi?
  1. Menjelajahi langsung hutan durian terbesar se-Asia Tenggara
Di desa wisata ini terdapat hutan durian terbesar se-Asia Tenggara atau International Durio Forestry. Jika dalam masa panen, wisatawan berkesempatan untuk memanen durian dan menikmatinya di tengah nuansa hutan durian yang asri.

  1. Wisatawan akan mendapat 3B (Berwisata, Berpetualang dan Belajar)
Jika berkunjung kesini, wisatawan dapat berpetualang ke kebun manggis dan salak sekaligus memetik langsung buah dari pohonnya. Selain itu wisatawan juga berkesempatan untuk belajar mengolah gula aren, pakis dan teh jare (jahe sere). Terdapat paket seni bduaya karawitan juga yang dapat dimanfaatkan wisatawan yang ingin belajar.

  1. Nostalgia dengan permainan tradisional
Wisatawan akan sedikit bernostalgia dengan permainan tradisional yang biasa dimainkan ketika kanak-kanak. Ketika berkunjung ke desa wisata ini, wisatawan akan diajak untuk bermain outbound tradisional seperti klacen atau bermain di sungai, egrang, kekehan,panah-panahan, dll.

  1. Objek destinasi tempat wisata yang lengkap
Desa wisata sawahan terletak di Kec. Watulimo yang memiliki objek destinasi tempat wisata yang beragam. Selain berkativitas di desa sawahan, wisatawan juga dapat berwisata ke destinasi lain yang tak jauh dari lokasi desa seperti menjelajahi Goa Lowo, menyewa perahu di Pantai Prigi, menikmati water sport di Pantai Karanggongso, menikmati pemandangan rumah apung Bangkokan, snorkeling di pantai Bangkokan, di moment tertentu menikmati sajian upacara adat Larung Sembonyo dan lain-lain. Jika wisatawan mencari oleh-oleh, souvenir khas daerah ini adalah miniatur perahu.

  1. Turut Menyejahterakan Masyarakat
Ketika berbicara mengenai pariwisata, banyak sektor lain yang terlibat seperti sosial, seni budaya, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lingkungan. Pariwisata juga merupakan bisnis majemuk dan gotong royong. Banyak sektor usaha yang terlibat dalam bisnis ini. Contoh sebagai berikut: Mulai wisatawan datang dari bandara atau terminal bus, perjalanan menuju penginapan atau homestay melibatkan sektor transportasi seperti taksi atau transportasi umum lainnya. Setibanya di penginapan dan beristirahat sejenak mereka menuju ke lokasi wisata. Menikmati indahnya objek wisata alam atau wisata sejarah dan menyimak berbagai informasi dari pemandu wisata setempat. Mencoba berbagai wahana wisata seperti menyewa perahu. Mencicipi makanan khas dan ketika pulang membeli oleh-oleh berupa jajanan atau produk kerajinan, tentu sektor usaha kuliner dan kerajinan terlibat dalam usaha ini dan masih banyak sektor lainnya yang terlibat. Melihat kasus ini, tentu saja masyarakat sendiri adalah penggerak pariwisata sesungguhnya.
                Jika Anda ingin mengunjungi desa wisata sawahan dapat menghubungi Ibu Unik selaku Ketua Pokdarwis Durensari di nomor 082147714390 atau melalui media sosial instagram @durensari.id dan website www.durensari.id.

****

Terima kasih telah berkunjung.
Instagram: zanza_bela

2/18/17

Road to Raka Raki Jawa Timur 2017


Kompetisi kali ini sensasinya beda dan banyak 'jeglongan' seru kayak jalanan Trenggalek-Surabaya. hakzz..

Jadi, kisahnya diimulai pasca Musyawarah Besar (Mubes) Paguyuban Kakang Mbakyu Trenggalek bulan Desember tahun lalu. Waktu itu saya masih di negeri sebrang, jadi saya tidak bisa hadir. Umumnya kalau anggota tidak hadir di mubes/rakor/kongres/sejenis, ya nggak bisa jadi pengurus. Namun rekan-rekan masih memberi toleransi. Ya jangan dikira saya pasif-pasif aja trus dengan gampang dapet toleransi dan bisa nyelonong jadi pengurus. Ada banyak faktor lah ya. 

Lalu hasil mubes pun dibagi melalui grup. Dan saya mendapat amanat untuk menjadi Koord. Dewan Riset yang saya nggak tahu itu apa dan ngapain. Hakzz.. Akhirnya turunlah pencerahan dari pak ketum. Dan salah satu hajatnya adalah terkait pengiriman delegasi dari KMT yang dikirim ke ajang Raka Raki Jatim.

Berhubung kepulangan saya masih bulan Maret, akhirnya LDR-an membahas persiapannya dan dibantu rekan-rekan lain untuk eksekusinya. Rentetan persiapan mulai dari latihan PS, materi presentasi, photoshoot, desain baju, catwalk, dst kami rembukkan. Sejarah Trenggalek mencatat, delegasi yang dikirim adalah pemenang KMT yang baru terpilih. Saya berniat menjalin komunikasi intensif dengan mereka untuk segala persiapan dan kebutuhan mereka supaya bisa sama-sama dibantu dengan baik. Namun karna sesuatu, rencana pengiriman untuk RR17 adalah saya dan Septa. Saya sih nggak yakin bisa, kita orang sudah tua kan ya. Wkwk.. Namun untuk memastikan, perlu koordinasi lebih lanjut dengan dinas pariwisata setempat. Tapiiii karena akhir tahun, organisasi pemerintah mengalami evolusi, jadi baru bisa ditemui ketika awal tahun nanti.

Sambil Menunggu waktu, pak ketum bertanya yang intinya menanyakan kesiapan saya jika memang nanti dari dinas diijinkan untuk mewakili. Yaaa karna rencana kepulangan sebenarnya bulan Maret, yaaa harus ngurus kepulangan lebih awal kan yaaa. Ehmm.. Akhirnya saya menemui dekan untuk ijin pulang lebih awal. Dan keseruan pun dimulai.

Untuk berbicara dengan dekan, saya ngajak teman saya yang bahasa mandarinnya lebih jago daripada saya. Ya ala-ala punya translater gitu lah. Soalnya meskipun sedikit-sedikit mereka bisa bahasa inggris, tetap aja banyakan bahasa cinanya waktu percakapan. Kita orang terpontal-pontal enggak paham. wkwk. Big thanks untuk Ricky yg berjasa dalam proses perijinan ini. Wkwk.. Ketika meminta ijin untuk pulang Februari dengan alasan ada kompetisi, dekan pun bertanya, "Kompetisi apa? Sepenting apa kompetisi itu?". Nah.. sebisa mungkin dijelaskan tentang apa itu pemilihan tourism ambassador. Tapi susah..susahnya ya karna mereka asing dengan sebutan itu dalam bahasa inggris, mungkin istilahnya beda kali ya dan teman saya pun bingung translatenya. Wkwkwk.. Dan buka kamus, buka internet, jadi kayak ujian open book. hakzz..

Pertanyaaan lagi, "Nanti setelah kompetisi balik kesini lagi? Tanggal berapa kompetisinya?". Mungkin bayangannya kayak cerdas cermat yang cuma sehari gitu ya.. Ya andai tiketnya kayak harga kacang bisa bolak balik nah. Karna jadwal pemilihan belum keluar, ya saya cuma ngejawab antara bulan Feb-Maret. Jadwal tanggalnya belum keluar. Ngeliat raut wajahnya, mungkin dalam batin mereka bilang, "Mbak iki geje, pamit pulang Feb tapi ternyata jadwal kompetisinya belum ada. Mbujuk ta pean?" hakzz..

Setelah ngulik asik akhirnya dapat yes untuk pulang Februari. Namun pihak Kampus tidak mengantarkan ke bandara karena kepulangan di luar rencana program, jadi harus pulang sendiri. #NP "Sudah terlalu lama sendiri, sudah terlalu lama aku asik sendiri" *eeaaa. Ah ada teman-teman saya yang mendampingi kok.

Deng Deng Deng, Januari 2017 datang. Akhirnya dapet kepastian. Bukan kepastian untuk bersamamu tapi *halaahhh. Kepastian dari dinas tentang kebijakan pengiriman delegasi. Dan yes. Langsung hunting tiket, wuhuuu ketersediaan tiket waktu sebelumnya ngecek bulan Desember masih ekonomis ya dan ngecek lagi di Januari bikin pedih. Udah banyak yang sold juga untuk tiket balik di minggu pertama Februari. Akhirnya dapat tanggal 11 Februari. Baiklah...

Seminggu sebelum tanggal kepulangan saya menerima informasi terkait agenda Take Profil dan Talenta dilaksanakan tanggal 21 Feb. Wuuu lemes. Setiap peserta juga masih harus mengurus kelengkapan berkasnya. Dan satu persyaratan yang agak mengguncang, yaitu membuat video promosi wisata. Uyeeee...

Tong tong tong, tanggal kepulangan tiba. Mari kita sambut dan ucapkan," Selamat datang dan selamat kembali ke rumah, kitiran!"
Tanggal 11 Nanjing-Singapura, tanggal 12 Singapura-Surabaya, tanggal 13 mider persiapan berkas + ke Dispora, tanggal 14 balik Surabaya, tanggal 15 ngangkut perkakas ke Trenggalek, tanggal 16 liputan video wisata, tanggal 17 photoshoot, tanggal 18 Talkshow komunitas & Wabup, tanggal 19 nafas bentar sambil deg degan, tanggal 20 persiapan, tanggal 21 eksekusi mati. Wkwkwk.

Dibalik drama 'jeglongan sewu' ini banyak aktor terlibat.
Ada mami dan papi yang geleng-geleng ngeliat putri ragilnya wara wiri sambil nahan emosi tapi berusaha juga memahami. Ada Mami Monique​ yang bersedia mendengar curhatan dan minjemin motor buat wara wiri. Lalu pak ketum Dendit​ dan PKMT yang sudah percaya dan membantu persiapan. Pihak dinas pariwisata Kab. Trenggalek yang mengijinkan saya merasa punya rumah di aula, wkwk dan menemani ke Surabaya kemarin. Mas tahu kuning Alfiandani​ yang membantu liputan sekaligus liburan tipis-tipis dan memecah rekor edit video cuma 2 hari se-Indonesia Raya, Meskipun ada cerita zonk dibalik video itu (sensor) Wkwk. Mas éthés Syaiful Yasin Saimo​ yang sabar dan totalitas ngelatihnya, wkwk Oiya dia jomblo lho *oops. Tak lupa tim terhebat sepanjang masa, mas Ryan​ yang paham angle fotoku meskipun nggak mau ngedit pipiku jadi tirus, haha. Mas Oping​, MuA cetarrr apalagi Hijab-do nya yang hitsss pol, bisa bikin efek tirus pipiku ini..huhuii. Tante Enni Alida​ yang selalu support dengan baju-bajunya yang kekinian polll. Dan semua-semua yang mendoakan, memberi semangat dan bentuk dukungan lainnya, terima kasih.

Masih banyak aktor/aktris dibalik drama 'jeglongan' ini, disimpan dulu nama-namanya untuk adegan nanti. hihihii..

Menunggu adegan selanjutnya~

***

Terima kasih telah berkunjung.
Instagram: zanza_bela
2/1/17

Assalamualaikum Beijing


Assalamualaikum Beijing!

Masih cerita dari negara tirai bambu. Satu lagi impian yang tak hanya berdebu dalam bentuk tulisan, tetapi berakhir indah dengan kenangan.

Ketika saya SD dan mendapatkan pelajaran IPS, saya dikenalkan dengan peta. Kami dikenalkan dengan provinsi-provinsi yang ada di Indonesia, jenis Sumber Daya Alam, flora dan fauna serta 7 keajaiban dunia. Saat itu hati saya berbisik, “Saya ingin mengunjungi tempat-tempat ‘ajaib’ ini. Di gambar ini, Tembok Besar Cina sangat menarik. Tapi bagaimana caranya kesana? Kan jauh…”
Mengenyam pendidikan selanjutnya, saya masih menyimpan dalam-dalam impian itu, saya hanya percaya mungkin suatu saat bisa tercapai. Tapi saya tetap tidak tahu caranya mencapai impian tersebut. Lambat laun saya membaca banyak kisah pemuda Indonesia yang berhasil lalu lalang ke negeri orang dengan beragam cara, ada yang ikut program pertukaran pemuda, konferensi internasional, beasiswa kuliah, dan lain-lain. Dalam hati saya bilang, “Mungkin caranya seperti ini supaya bisa ke tempat ‘ajaib’ itu”. Sebenarnya bisa saja kalau saya menabung dan semata-mata pergi ke berbagai negara untuk jalan-jalan, tapi saya kira banyak misi yang lebih mulia daripada sekedar ‘jalan-jalan’.

Tahun 2016 merupakan tahun ke-2 dimana saya pergi ke negeri orang, setelah di tahun sebelumnya saya mengikuti program pertukaran pemuda ke Kamboja (baca juga: IYCE 2015 - Cambodia).  Saya tiba di Cina bulan November, perjalanan panjang saya kesini adalah untuk mengenyam program short course di perguruan tinggi Jiangsu Institute of Commerce yang terletak di kota Nanjing, provinsi Jiangsu selama 1 semester.

Tak terasa hampir 3 bulan lebih kami di Cina, dan sekarang kami sedang memasuki libur musim dingin sebelum masuk semester baru di bulan Februari ini. Tentunya sebelum memasuki masa libur, jauh-jauh hari saya sudah memiliki rencana untuk mengisi waktu libur kami. Mewujudkan impian masa kecil, mengunjungi salah satu 7 keajaiban dunia, ya Tembok Besar Cina. Namun setelah mencari-cari informasi, perjalanan dari Nanjing ke Beijing memakan waktu cukup lama yaitu 12 jam dan harga tiket keretanya cukup tinggi bagi kami mahasiswa. Namun, karena sudah jauh-jauh hari direncanakan, akhirnya saya menabung dan puasa jajan selama disini. Hahaa…

Tanggal 30 Januari 2017 pukul 18.00 waktu Nanjing, kami berangkat  dari asrama berjalan ke stasiun metro NMU-JIETT dan menuju Nanjing Railway Station. Perjalanan ini memakan waktu kurang lebih 35 menit. Sesampainya di Nanjing Railway Station, kami check in dan menunggu keberangkatan kereta kami ke stasiun berikutnya yaitu Beijing Railway Station. Kereta kami berangkat pukul 21.30, tapi kami sengaja datang 2 jam lebih awal untuk berjaga-jaga jika birokrasi check in tiket yang lama, mengingat kami baru pertama kali ke stasiun ini. Lebih baik menunggu lebih awal kan daripada terlambat? Hehehe.. Perjalanan dari Nanjing Railway Station menuju Beijing Railway Station adalah ± 12 jam. Kebayang kan bagaimana bosannya di kereta? Terlebih di kereta ekonomi yang kami naiki tidak ada colokan untuk charger HP, huhuhu… Tapi ya sudahlah, nikmati saja suka duka menjemput impian. Asseekkk…

Tanggal 31 Januari 2017 pukul 10.00 waktu Beijing kami tiba di Beijing Railway Station.  Berbekal nasi ala kadarnya dan roti, kami sarapan terlebih dulu di stasiun setelah itu kami akan melanjutkan perjalanan untuk menuju Tembok Besar Cina atau Great Wall. Cukup membutuhkan banyak waktu dan tenaga untuk bisa sampai ke Great Wall. Dari Beijing Railway Station kita menuju metro Jishuitan lalu ke  stasiun metro Dawang Road  dan antri bus  menuju ke Great Wall.  Untuk bus umum yang disediakan khusus  menuju Great Wall ada 2 yaitu kode 877 dan 919. Jika kondisi jalanan normal, harusnya kita hanya butuh 1 jam untuk sampai ke Great Wall, tetapi saat itu kondisi jalanan sangat penuh. Kami sampai di Great Wall sekitar pukul 15.00 waktu Beijing. Tanpa pikir panjang, kita langsung membeli tiket dan mulai mendaki. Bersama ratusan umat lainnya, kami berjuang untuk mendaki sampai puncak.

Bagi teman-teman yang berencana pergi ke Tembok Cina, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti :

Musim Berkunjung
Harga tiket masuk Tembok Cina sesuai musim berkunjung
Musim terbaik untuk berkunjung ke Tembok Cina adalah di musim semi dan gugur yaitu bulan April -Oktober. Matahari cerah, udara tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Tapi, jika kesempatan kalian berkunjung di bulan November-Maret, maka bersiaplah dengan pakaian musim dingin kalian. Datanglah sepagi mungkin karena semakin pagi Anda datang maka Anda memiliki kesempatan untuk leluasa berfoto dengan jumlah pengunjung yang masih sedikit.

Pakaian.
Kebetulan kesempatan saya berkunjung kesini di bulan Januari, kebayang kan bagaimana suhu di puncak nanti? Terlebih anginnya kencang. Jadi pastikan memakai jaket tebal, sarung tangan, penutup kepala dan syal. Jangan sampai anggota badan beku kena dinginnya udara dan angin di atas. Kalaupun kalian mendaki saat musim panas, ada baiknya untuk berjaga-jaga kalian tetap memakai jaket dan penutup kepala, mengingat angin di puncak cukup kencang.

Barang bawaan.
Karena Tembok Besar Cina itu cukup panjang dan menanjak, jika kalian bertekad berjalan kaki sampai puncak perhatikan barang bawaan kalian. Jangan terlalu banyak  ya. Jika kalian membawa tas punggung, pastikan isinya jangan terlalu berat. Karena ketika kalian mendaki, tanjakan makin menukik. Akan sangat kerepotan jika barang bawaan kalian banyak. Oiya.. kalian diperbolehkan membawa bekal makanan dan minuman. Eits… Ingat, jangan buang sampah sembarangan!
Awalnya kami pesimis bisa mengejar waktu untuk sampai puncak dengan menyaksikan keindahan panoramanya. Karena kami baru mulai menanjak sekitar pukul 16.00. Tetapi justru kami bisa menyaksikan sunset dari atas. Subhanallah…


Oiya ada yang terlewat, ketika kami mengantri bus sebelum menuju ke Great Wall, kami berkenalan dengan teman baru. Namanya / Su, dia berasal dari Chóngqìng. Meskipun lahir dan besar di Cina, ternyata dia juga baru pertama kali mengunjungi Beijing. Tak disangka setelah mengantri bus, kami bertemu lagi di puncak Great Wall. Tentu ini moment yang tepat untuk bertukar id WeChat dan berfoto bersama. Hahaha…


Don’t let your dreams just become day dreams. When you stop dreaming, you stop living.”


Nanjing, 2017
Zanzabela

****
Terima kasih sudah berkunjung.
Instagram: zanza_bela
7/11/16

TRENGGALEK : Njajah Desa Milang Kori


Sabtu (9/7) lalu saya dan rekan-rekan Asidewi (Asosiasi Desa Wisata) Trenggalek diundang di acara Nggalek.co | Njajah Desa Milang Kori.

Ketika duduk di deret meja terdepan, saya dan teman-teman tergelitik dengan tajuk yang tertulis di banner acara.

TRENGGALEK NGUMPULNE BALUNG PISAH
"Njajah Desa Milang Kori"

Njajah desa = menjelajah desa.
Milang kori = menghitung pintu.


Terjemahannya, bepergian jauh menjelajah desa, menghitung pintu. Maknanya, melakukan perjalanan untuk mencari pengalaman hidup ke berbagai wilayah guna mengenal kehidupan di daerah yang dikunjungi. Serta memahami watak perilaku penduduknya.

Ketika acara dimulai, barulah prolog acara dibacakan. Intinya adalah forum ini dapat mengumpulkan lagi saudara yang lama berpisah, yang lama merantau untuk duduk berdiskusi membahas mengenai perjalanan Trenggalek hingga saat ini. Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Bapak Emil Elistianto, selaku Bupati Trenggalek. Saya cukup tercengang menyimak cerita panjang beliau terkait program kerja beliau, perkembangan dan progress menggembirakan lainnya. Mulai dari masalah pertanian, peternakan, pariwisata hingga rencana bandara yang akan dibangun. Beberapa kata-kata sadis berbau provokasi di media sosial yang saya baca, "Kenapa tidak membangun jalur kereta saja? Kenapa bandara? Tiketnya mahal, saya tidak sanggup membeli tiketnya" dan bla bla bla. Saya dapatkan jawabannya di acara pagi itu.


Beliau menjelaskan, biaya untuk membangun stasiun kereta hitungannya adalah triliun, belum lagi membuka jalur kereta yang zaman dulu sudah dihilangkan saat zaman Belanda lebih sulit. Jika dibandingkan dengan membangun bandara dari segi biaya hitungannya hanya milyar, dan pesawat tinggal landing. Tentu sebagai bupati yang sebelumnya banyak mengawal proyek infrastruktur lebih berpengalaman dan paham. Satu lagi yang paling saya ingat kata-kata beliau.


"Masyarakat banyak berkomentar, kalau ada bandara mereka tidak sanggup beli tiketnya karna mahal. Bandara dibangun sebagai akses jalur transportasi yang dapat mempermudah investor, perdagangan dan lain-lain. Tidak semata untuk Anda naiki. Kalian coba hitung letak bandara terdekat dari Trenggalek dimana? Nah itu tujuannya. Ada lagi yang bilang saya membangun bandara supaya Ibu Arumi Bachsin gampang bolak balik Jakarta-Trenggalek. Tolong kalimat-kalimat yang sifatnya menghambat ini jangan dipikirin deh", jelas Pak Bupati di tengah forum.


"Ya, meskipun terbilang bupati yang masih belia. Tapi memang pintar!", ucap saya dalam hati.


Bagi pemuda/i Trenggalek yang merantau untuk menimba ilmu dan pengalaman nan jauh disana, kembali, bagi dan mari ikut andil untuk Trenggalek tentunya sesuai dengan kapasitas ilmu, kemampuan dan pengalaman masing-masing #selfreminder
7/10/16

Ramadhan bersama Care Share Family

Penyerahan bantuan sembako secara simbolik

Hari Sabtu (2/7) lalu Care Share Family berbagi kepada anak-anak yatim piatu di Panti Asuhan Al Muhajirin, Trenggalek. Donasi yang diberikan berupa sembako dan peralatan sholat.

Terima kasih untuk pelanggan Gabucu (store of Alabela.ID) yang telah mendukung Care Share Family campaign dengan membeli produk Hijab Batik dan Hijab Lurik. Semoga sedikit bantuan ini dapat bermanfaat bagi anak-anak di panti asuhan dan berkah. Aamiin.

Penyerahan bantuan alat-alat sholat secara simbolik