1/13/14

Problematika Ahli Waris Budaya Bangsa

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai kebudayaannya”, bagaimanakah wujud cinta sebenarnya terhadap kebudayaan? Bagaimana perilaku yang mencerminkan rasa cinta sesungguhnya? Membentangkan banner besar yang bertuliskan cinta budaya? Atau marak berkoar-koar dengan kalimat persuasif dan diplomatis mengenai cinta budaya?
            Remaja, sebagai pemuda yang merupakan generasi penerus sekaligus ahli waris budaya bangsa. Lunturnya rasa cinta dan bangga akan pesona budaya bangsa adalah kurang tertanamnya jiwa cinta budaya dalam diri remaja. Sebagai contoh problematika beberapa remaja terhadap warisan budaya Indonesia terhadap wayang dan angklung.
            Wayang sebagai “Karya Agung Budaya Dunia”, diakui oleh UNESCO sejak tahun 2003. Jenisnya pun ada banyak, seperti wayang Jawa, wayang Krucil, wayang Bali, wayang golek Sunda, dll. Umumnya, wayang yang dimainkan berkisah tentang dewa-dewi, persilatan, percintaan dan kepahlawanan yang pertunjukannya diiringi dengan musik gamelan dan menggunakan bahasa pengantar bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang digunakan pun tidak seperti bahasa jawa ngoko andhap, krama inggil atau seperti bahasa jawa yang digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari, tetapi yang digunakan adalah bahasa Jawa Kawi atau Jawa Kuno. Problematika remaja terhadap jenis budaya ini terlihat dari sini, bahasa. Pantas saja kalau minat remaja terhadap salah satu warisan budaya ini rendah, hal ini karena kurang familiarnya bahasa pengantar yang digunakan dalam pementasan. Dalam skala regional atau nasional, pementasan wayang masih mempertahankan cara pementasan konvensional dengan mengandalkan satu pengantar bahasa aslinya, yaitu bahasa Jawa.
Wayang bersifat universal dan luwes atau mengikuti perkembangan zaman. Seperti contoh dalang Ki Purbo Asmoro yang menyajikan pementasan wayang dalam skala global dan pementasan wayang pun menyesuaikan dengan keadaan global yang ada. Beliau dibantu Kathryn Emerson, dari Kalamazoo, Michigan, USA, seorang penerjemah pementasan wayang dan Yayasan Lontar mengemas pergelaran wayang kulit dalam paket pendidikan wayang kulit dalam tiga bahasa: Jawa, Indonesia, dan Inggris. Ki Purbo Asmoro mendalang dengan tiga kelir atau layar. Layar utama yang terletak di bagian tengah adalah tempat ki dalang mendalang dengan sekotak wayangnya. Dua layar di bagian kanan dan kiri layar utama merupakan tempat teks. Di kedua layar itulah tuturan dalang diterjemahkan dari bahasa Jawa ke bahasa Inggris. Penerjemahnya adalah Kathryn Emerson atau Kathy. Duduk di kanan depan layar, Kathy dengan komputernya menjadi semacam ”dalang bayangan”. Ia menerjemahkan seluruh kejadian di jagat pewayangan yang didalangi Purbo Asmoro.
            Selain problematika dalam bahasa pementasan wayang, beralih ke jenis warisan budaya bangsa yang lain, yaitu angklung. Alat musik yang terbuat dari bambu ini diakui UNESCO sebagai salah satu warisan dunia sejak tahun 2010. Ciri khas alat musik ini adalah satu angklung hanya menghasilkan satu nada, sehingga dibutuhkan beberapa set angklung dengan berbagai ukuran yang dimainkan oleh banyak orang untuk menghasilkan sebuah harmoni atau lagu yang diinginkan, kita lebih sering melihat pertunjukan angklung dalam bentuk orchestra. Namun, ciri khas ini menjadi dilema bagi remaja masa kini yang menilai angklung kurang fleksibel untuk dimainkan. Jika dinilai sebagai pertunjukan orchestra, bermain angklung dengan kuantitas alat atau massa tidaklah repot. Namun, jika dimainkan untuk skala personal, angklung dinilai kurang praktis sehingga menyebabkan para ahli waris budaya enggan dan memiliki minat yang rendah terhadap angklung. Selain itu, majunya teknologi sudah menyediakan alat-alat musik modern yang lebih praktis untuk digunakan. Seperti piano, gitar, bass, atau organ yang bisa diset atau diberi efek suara yang bisa menirukan suara angklung.
            Beberapa problematika di atas muncul di kalangan remaja, karena mereka masih berpikiran awan dan kurangnya jiwa cinta budaya dalam diri mereka. Cinta tidak sekedar diungkapkan dengan kata-kata, tetapi cinta adalah rasa memiliki, ikut berperan aktif melestarikan dan andil dalam mendaya gunakan.
            Wayang memang sejatinya dipentaskan dengan bahasa asalnya yaitu bahasa Jawa, namun untuk mengatasi masalah tingkat apresiasi dari masyarakat khususnya remaja yang ditimbulkan oleh faktor bahasa, solusi persoalan dapat melalui proses pementasan dengan menggunakan bahasa pengantar yang tidak hanya bahasa Jawa, bisa diterjemahkan dalam bahasa Indonesia atau bahasa asing lainnya (dengan tidak menghilangkan keaslian bahasa pengantarnya). Sedangkan angklung, dilema yang dirasakan bagi para remaja sebagai ahli waris warisan budaya bangsa karna kurang pahamnya filosofi dibalik alat musik bambu tersebut bahwa satu alat musik angklung hanya menghasilkan satu nada, tidak mungkin bermain sendiri untuk membentuk harmoni. Memang hidup selalu memerlukan orang lain, dan angklung membawa pesan kemanusiaan bahwa sebagai makhluk sosial tidak bisa hidup tanpa manusia yang lainnya.

0 comments:

Post a Comment