12/26/24

ERASMUS MUNDUS JOINT MASTERS : JOURNALISM

Masih edisi memburu beasiswa! Karna kalau memburu cintamu, aku tak sanggup :) lol candaaaaaaa ya. Biar nggak spaneng.

Kali ini aku meninggalkan jejak di lapak virtual ini untuk membahas tentang salah satu program beasiswa bergengsi untuk kesempatan berkuliah di Uni Eropa. Yaps! Erasmus Mundus Joint Masters program. Program jenjang Master ini bagian dari Erasmus+ yang digagas oleh Uni Eropa untuk mendukung bidang pendidikan, pelatihan, pemuda dan olahraga. Secara teknis, dilaksanakam bersama-sama dengan konsorsium internasional yang terbentuk berkat kerjasama berbagai institusi pendidikan di Uni Eropa.

Nah, bagi kalian yang suka tantangan, suka kitiran (followers lamaku pasti paham), suka explore tempat baru, suka travelling, maka beasiswa ini akan cocok untuk kalian. Karena kuliah tiap semesternya akan berpindah-pindan kampus bahkan negara. Wowwww! Informasi lain tentang beasiswa ini udah banyak yang mengulas, aku mau lanjut membahas lebin teknis lagi ya. Lanjut!

Pertama-tama, cek bidang studi yang ingin kalian perdalam di jenjang master EMJM ini dengan mengunjungi situs Erasmus Mundus Catalogue (klik disini) yang memiliki total 212 konsentrasi jurusan. Setiap tahun jumlahnya akan berbeda-beda ya. Tampilan halaman akan muncul seperti ini :

Kemudian cari prodi atau bidang minat kalian dengan menuliskan pada keywords atau kata kunci di kolom sisi kiri. Misal, aku mencari dengan kata kunci journalism karna memang aku mengincar bidang ini yang masih satu rumpun dengan ilmu komunikasi.

Kemudian kalian bisa mengunjungi website resmi milik konsorsiumnya dan cek kapan deadline pendaftaran, persyaratan, kampus, dll.

Nah ternyata untuk Mundus Journalism, batas waktu pendaftarannya sampai 10 Januari 2025 guys uhuy mepet syekaliiiii dari tenggang waktu aku buka sekarang. Ehmm.. kita upayakan yang terbaik, semoga terkejar. Semisal pun enggak, tahun depan akan dibuka lagi. Jadi anggap sekarang ini mencicil berkas persyaratan. Hehe...

Untuk Mundus Journalism, di tahun pertama semua mahasiswa akan berkuliah di Aarhus, Denmark, di tahun kedua ada spesialisasi yang ditawarkan seperti konsertasi Politics & Communication di Unuversity of Amsterdam, atau konsentrasi Totalitarianism & Transition di Charles University di Prague, atau konsentrasi Crisis & Conflict di City St George's, University of London di United of Kingdom atau konsentrasi Cultures & Contexts di Ludwig-Maximilians University of Munich (LMU). Kalian bisa memilih salah satu konsentrasi untuk tahun ke-2 sesuai dengan peminatan yang kaoian ingin pelajari.

Apa saja yang perlu disiapkan? Banyak beuuttssss. Alurnya kira-kira seperti ini. Wah mulai ngetik sambil keringat dingin. Hehehe.. Ini daftar berkas atau dokumen yang diperlukan :

  1. Application form
  2. Academic documents
  3. Journalistic documents
  4. Language documents
  5. Curriculum Vitae
  6. Academic and journalistic reference letters
  7. Documentation of nationality
  8. Special needs/Chronic illness/disabilities
  9. Application package title
Jika kalian sama denganku, ingin memilih program Mundus Journalism, kalian bisa klik situs resmi di sini. Untuk online registration bisa diakses di alamat ini

Pastikan ijazah dan transkrip kalian sudah dalam berbahasa inggris ya, jika belum, segera urus ke penerjemah tersumpah atau bagi yang kampusnya menyediakan translate bisa ke kampus masing-masing.

Kemudian, bagian termenguras energi lainnya selain belajar IELTS adalah menulis esai. Tapi esainya sudah dalam bentuk menjawab pertanyaan ya. Aku spill pertanyaannya:


Gimana? Mayan kan? Haha.. Namanya juga beasiswa bagus, pasti susah hikss..

Tapi ternyata untuk tahun 2025-2027, Mundus Journalism hanya memberikan 2 beasiswa konsorsium saja. Wah.. ketir-ketir nih. Perlu untuk menjelajah informasi lebih deep lagi deh. Terutama soal biaya hidup, dll.

Penting untuk 'tidak mepet' dalam menyiapkan aplikasi beasiswa, termasuk membaca semua syarat, ketentuan, jika ada hal-hal seperti ini bisa segera mencari prodi lain, melakukan proofread esai secara optimal, belum lagi jika tes TOEFL/IELTS belum memenuhi skor target, dan belum lagi menggalaunya haha.. intinya jangan mepet!

Sementara ini dulu karna jari udah lemes mau ngetik, mau menggalau dulu. Terima kasih sudah mampir ya.


(Adm/Zan)




UJI KOMPETENSI WARTAWAN (Part 1)

Awal mula menggeluti bidang jurnalistik, dimulai saat aku duduk di bangku SMP dan berlanjut di SMA. Karena memiliki kesenangan dalam bidang tulis menulis, ku tuangkan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia khususnya Karya Tulis Ilmiah. Dan kebetulan waktu SMA, ada salah satu tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia yang menurutku sangat memorable. Yaitu tugas untuk mengadakan praktik talkshow dimana kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan tiap kelompok akan dibagi perannya. Dan kelompokku menunjukku sebagai host sedangkan temanku lainnya berperan sebagai narasumber. Mulaikah kami berdiskusi tentang topik, membuat pertanyaan, menyusun jawaban narasumber, aku pun menyusun scriptku dengan kemampuan ala kadarku. Haha..

Ternyata diam-diam, guruku, bu Tatik, memperlombakan performa tiap kelompok dengan kelompok antar kelas lain. Angkatanku waktu itu itu terdiri dari 3 kelas jurusan IPA dan 4 kelas jurusan IPS. Per kelas bisa saja terdiri dari 3-4 kelompok. Setelah masa tugas selesai, seluruh kelompok sudah tampil, guruku mengumumkan host terbaik dari seluruh kelas. Dan ternyata, akulah yang dianggap memberikan performa terbaik. Dari sejak saat itu, melakukan presentasi atau berbicara di depan umum tidak lagi hanya sebuah syarat belajar mengajar di kelas, tapi bagiku udah seperti hobi dan passion. Aku mencoba mencari kesempatan entah melalui lomba, forum, pertemuan rapat organisasi atau lainnya untuk menyalurkan hobiku berbicara. Bahkan diam-diam aku mulai mencari-cari topik apa yang harus aku sampaikan di depan forum.

Menulis dan berbicara, bagiku hal yang menyenangkan. Walaupun saat itu belum mempelajari ilmu khususnya. Ya, hanya berbekal pelajaran bahasa Indonesia dan tugas sekolah, tapi lumayan untuk menumbuhkan kecintaanku terhadap dua hal ini.

Saat duduk di kelas 2 SMA, aku mengikuti sebuah kompetisi pemilihan duta wisata Kakang Mbakyu Trenggalek. Dan akhirnya membuatku memiliki banyaj teman baru yang berasal dari sekolah lain bahkan ada yang sudah mahasiswa. Saat bertemu, kami berdiskusi banyak hal termasuk salah satunya tentang majalah sekolah. Saya yang waktu itu sebagai anggota MPK, juga akhirnya baru sadar bahwa di sekolah kami belum ada majalah sekolah sebagai ruang sarana ekspresi pelajar dan ruang apresiasi. Saat pertemuan rutin OSIS-MPK, aku mulai membahas tentang majalah sekolah. Dan temanku bernawa Wahyu Fajar Bahari, dia ketua divisi publikasi OSIS menyepakati usulanku tersebut. Dan mulailah kami menyusun anggota, membagi tugas, berkonsultasi dengan guru pembina, mencari narasumber, menyusun rubrik, hingga menyusun layout majalah.

Nah disinilah bidang jurnalistikku mulai lebih diasah. Tak hanya sekedar teori, tetapi langsung praktik sembari menulis banyak artikel dan sumber wawancara kemudian dimuat di majalah sekolah yang kami beri nama paperMagz. Menjadi tantangan baru ketika bisa berburu berita, meliput acara, melakukan investigasi, berkenalan dengan orang baru dan banyak hal menyenangkan lainnya.

Berlanjut saat kuliah, ternyata dua kesenanganku ini tetap istiqomah ku lakukan. Awalnya aku kira hanya hobi sesaat, ya kan pelajar labil ya. Hehehe.. Aku kira setelah lukus SMA, aku nggak akan hobi menulis atau berbicara lagi. Ternyata salah! Aku masih konsisten melakukannya bahkan aku mendapat banyak info lomba yang mengedepankan 2 hobiku itu. Bonusnya, di setiap lomba itu, keterampilan public speakingku kian meningkat. Sampai pada akhirnya, ketika menang suatu lomba, aku ditawari salah satu TV lokal di Surabaya untuk menjadi penyiar dan ikut casting

Sampai akhirnya menjadi penyiar, reporter dan ternyata tugasku tidak hanya bersiaran di studio tetapi juga melakukan reportase dan menulis berita hasil liputan. Wah.. jadi flashback pengalaman sebagai crew majalah sekolah saat SMA.

Setelah 4 tahun sebagai insan media, akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti UKW atau Uji Kompetensi Wartawan. Sebelum pelaksanaan ujian tatap muka, kami wajib mengikuti pembekalan dan pra asesmen secara daring. Termasuk kami diingatkan kembali mengenai Undang Undang dan Peraturan yang mengatur Pers dan Jurnalis di Indonesia oleh Bu Ninik Rahayu dari Dewan Pers. Dilanjutkan dengan materi-materi lainnya.




Baca juga lanjutan part 2 ya untuk pelaksanaan Uji Kompetensi Wartawan 2023.