6/10/20

TPK dan Motivasi SPL Nasional 2020


Ada yang tahun ini mendaftarkan diri sebagai pejuang SPL Nasional 2020?

Nah, sepertinya kita seperjuangan ya. Waktu itu iklan SPL ini muncul dari instagram ads, karena membaca sekilas tentang pendidikan dan literasi akhirnya tertarik untuk stalking ke akun instagram GMB_Indonesia. Untuk tahun angkatan 2020, mereka mencari sebanyak 100 Sosialisator Program Literasi (SPL) yang berada di seluruh Indonesia.

Program SPL merupakan rekrutmen pegiat pendidikan dan literasi untuk mengkampanyekan dan mengembangkan program literasi di 34 provinsi di Indonesia.

Untuk ketentuan program ini, saya kira tidak terlalu berbeda dengan program SPL tahun 2019.
1. Pria/wanita berusia 18-50 tahun
2. Ditempatkan sesuai kota domisili
3. Minimal lulusan SMA/SMK/sederajat
4. Masa bakti 3 bulan
5. Jam kerja fleksibel

Untuk mengetahui berbagai program dari Gerakan Menulis Buku (GMB) Indonesia, kalian bisa akses ke situs www.gmb-indonesia.com. Kalian yang termasuk pegiat literasi, dijamin akan tertarik dengan berbagai program yang diadakan oleh GMB. Mulai dari Adi Acarya Award, GSMB (Gerakan Sekolah Menulis Buku) Nasional, DigiLite, GMB Akademi, ICLEISR (International Conference on Literature, Education, Economics, Interdiciplinery Studies, Social Science and Humanities Innovation Research), Karya Bersama, Sejuta Buku, Festival Literasi Daerah dan Undang Kami.

Setelah mengisi form pendaftaran dengan berbagai pertanyaan esai di dalamnya, tibalah pengumuman untuk nama-nama yang dinyatakan lolos seleksi administrasi tanggal 9 Juni 2020. Sedangkan tahap berikutnya adalah Tes Kemampuan Dasar (TKD) dan Motivasi yang diadakan tanggal 10 Juni 2020 pukul 16.00-16.45 WIB.

Pertanyaan-pertanyaan motivasi dan TKD cukup memaksa berpikir. Haha.. setelah beberapa waktu libur berpikir karena banyak kegiatan off selama pandemi. Hahaha... Lumayan agak kaget sih ngeliat soal-soal angka berderet, gambar pola, silogisme, entimem dan soal-soal yang terakhir ku temui saat tes masuk SBMPTN tahun lalu (tuwaaa bangetttt) :D

Selain 2 jenis pertanyaan yaitu TKD dan motivasi, ada juga beberapa pertanyaan tambahan. Pertanyaan lebih mengenai diri kita sendiri contoh inovasi kegiatan untuk mengembangkan literasi di daerah, tokoh yang ingin diajak berkolaborasi, kegiatan-kegiatan yang pernah kalian lakukan berkaitan dengan pendidikan & literasi, potensi perkembangan literasi di daerah, dll. Namun, dalam form tersebut dituliskan untuk pertanyaan tambahan tersebut tidak mempengaruhi nilai atau poin tes. Tapi tetep aja, lumayan berpikir untuk menguraikan jawabannya.

Tips untuk teman-teman yang mengikuti tes tertulis apapun. Jangan lupakan waktu. Awas terlena. Entah pasang alarm atau pakai jam tangan, karena kalau pengerjaan melebihi waktu, form tes otomatis tidak bisa disubmit dan bisa saja peserta langsung didiskualifikasi.

Kayak saya nih. Saking asyiknya menguraikan jawaban, merangkai kata demi kata, nengok jam udah 16.43 WIB dong. Padahal form dibuka cuma sampai 16.45 WIB. Auto ngebuuutt. Dan pas banget, saya submit pukul 16.45 WIB. Sempat deg degan server down dan kendala jaringan lainnya, karena takut server sibuk mengingat ratusan pendaftar mungkin juga submit di jam yang sama.

Tapi Alhamdulillah... submit sukses.

Iya submit-nya sukses, entah hasil tesnya. Kita lihat 19 Juni mendatang.


Terlepas berhasil atau tidak, semoga postingan ini bisa sedikit membantu memberi gambaran untuk teman-teman yang sedang mempersiapkan untuk mendaftar di SPL tahun berikutnya ya. Sukses selalu :)

Terima kasih sudah mampir.

6/7/20

Dunia Event dalam New Normal?

Wacana pemberlakuan new normal. Di provinsi Jawa Timur sendiri sudah ada beberapa wilayah yang perlahan membuka kembali pusat perekonomian dengan penerapan pola hidup baru atau new normal. Sebut saja di daerah LumajangSidoarjo dan mungkin disusul Kab/Kota lainnya yang juga bersiap-siap menerapkam new normal.

Vaksin covid-19 yang diprediksi baru 2021 akan selesai masa uji coba dan kehidupan yang terus berlanjut menjadi pertimbangan dimana manusia diminta "berdamai" dengan covid-19, beradaptasi dengan adanya covid-19 di tengah-tengah kehidupan. Yang akhirnya memaksa untuk menerapkan pola hidup baru tersebut.

Kebetulan hari ini saya berdialog dengan Dokter Atok salah seorang dosen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Beliau menyatakan rate of transmission covid-19 di Jawa Timur sudah di angka 1,1. Sedangkan WHO menyatakan untuk suatu wilayah dikatakan bisa menerapkan new normal, salah satu indikatornya adalah rate of transmissionnya di bawah angka 1. Jawa Timur sedang on track menuju kesana. Beliau juga menambahkan jika new normal diberlakukan dalam waktu dekat ini, justru khawatir 'kecolongan' dan akhirnya jumlah kasus positif bukannya turun tapi sebaliknya. PSBB jilid III yang berakhir 8 Juni 2020 mendatang, prediksi Dokter Atok harusnya dijadikan momentum evaluasi agar penularan covid-19 semakin bisa ditekan. Meskipun mungkin akan berganti istilah bukan PSBB lagi, intinya pembatasan harusnya tetap ada (dialog selengkapnya bisa cek di sini).

Tapi, terlepas dari wacana pemberlakuan new normal di berbagai wilayah. Saya masih penasaran dengan bagaimana ya penerapan new normal di dunia "event"?

Event hampir selalu identik dengan kerumunan. Membatasi jarak berdiri antar pengunjung apalagi penonton konser, membatasi jumlah pengunjung masuk tempat pameran justru berpotensi memperpanjang antrian dan ujung-ujungnya berkerumun lagi.

Oh atau akan ada penjadwalan bagi pengunjung? Jadi sudah ada aturan jam berapa sampai jam berapa dia boleh masuk ke acara/event, sehingga yang bukan waktunya jam masuk nggak menimbulkan antrian yang berpotensi menimbulkan kerumunan. Cukup nunggu antrian di rumah masing-masing.

Apa ini bisa jadi solusi?

Tapi bagaiman sistem backstage?
Runway model untuk persiapan 1 model bisa dikeroyok 1 desainer, 2 asisten, 1 make up artist, 1 hair do, 2 fotografer, belum crew EO, crew panggung/blocking lan seperanakannya.

Ini belum kalau gladi bersih acara sejenis fashion week. 1 desainer rata-rata bawa 9-10 baju, ya berarti 10an model lah ya. Ada 10 desainer aja total 100 model. Belum koreografernya, asisten koreo, crew panggung, lighting lan pasukan huru hara lainnya.

Oh tentu disemprot disinfektan dulu dan pembatasan jumlah orang yang masuk backstage kali ya.

Apa ini solusi? Ehm.

Tukang panggung, lampu aka lighting, sound system yang biasanya usung-usung berjamaah, biasanya melibatkan puluhan orang buat masang karna yang dipasang banyak, gede, abot dan dikejar durasi. Panggung / terop / dekor / stand bazar sak lapangan atau ballroom gede tapi waktunya nggak lebih 48 jam kadang ada yang cuma dikasih waktu pasang 12 jam. Berasa syuting stripping, kejar tayang.

Bagaimana ya?
Ada pendapat?