10/1/17

Teori Gebyah Uyah Pengamen

Sekarang saya sedang duduk di bus Pelita Indah jurusan Surabaya-Trenggalek (keberangkatan sekitar pukul 03.00 WIB dari terminal Bungurasih). Sekitar 10 menit sebelum postingan ini ditulis, ada pengamen dalam bus yang dengan 'bijaksana' berkata "Owalah Mbak..nggak cocok sama jilbabnya. Sampean kayak gitu itu bukan Islam". Celetuk lantang pengamen.

Setelah ditelisik, perkaranya karena ada seorang penumpang berjilbab tidak memberi uang kepada pengamen tadi.
Kira-kira beginilah potret masyarakat sumbu pendek yang berkeliaran di luar sana. Seolah-olah punya alat ukur sendiri dimana dengan mudah memberi label kepada orang lain, bahkan perkara agama yang jelas-jelas itu urusan seorang Hamba dengan Pencipta-nya.

Cara pandang pengamen itu, dengan cara pandang saya dan juga cara pandang kalian sebagai pembaca tulisan ini tentu berbeda. Walaupun seperti ini, sebagai seorang pengamen pun menurut saya juga kurang tepat jika tiba-tiba berperan instan sebagai 'hakim agama' di dalam bus. Ini bukan syuting sinetron bung, dimana 1 aktor bisa memerankan peran dokter, polisi, jaksa di sinetron.

Jika si penumpang tadi salah, lantas apakah si pengamen itu benar? Profesi 'pengamen' nya saja masih dipertanyakan, kalian tentu paham apa maksud yang saya sebut dipertanyakan ini. Dan bukan ini yang mau saya bahas.

RIP mental positif.

Mungkin ini yang benar-benar sedang darurat diderita masyarakat sumbu pendek. Dan orang-orang seperti ini bisa saja sangat vokal, ber-drama dengan peran seolah-olah paling teraniaya. Sehingga yang terekspose adalah tagline penumpang berjilbab tidak mau bersedekah.

Duh kah, seenaknya saja memakai teori gebyah uyah (menyama ratakan), dimana pengamen itu berasumsi bahwa seorang penumpang berjilbab yang tidak memberi uang dianggap bukan Islam. Saya juga tidak mengingkari realitas ketika di luar sana mungkin memang ada orang yang memilih tidak mau bersedekah pada pengamen atau realitas orang pelit. Tapi kan belum tentu penumpang tadi. Belum tentu penumpang berjilbab tadi pelit. Lagipula pengamen yang keluar masuk bus jumlahnya banyak, penumpang memberi secara random belum tentu semua diberi. Kebetulan saja pengamen itu yang tidak diberi. "Kok ya pas bukan rezekimu paling pak", batinku.

Ya, pengamen itu pun tidak akan pernah punya pikiran bahwa mungkin penumpang yang dia tuduh tadi punya versi bersedekahnya sendiri.

Mungkin di panti asuhan atau lainnya. Dan di jaman sekarang, lembaga penyalur zakat dan sedekah yang mengalokasikan sedekah dari donatur untuk social empowering itu banyaaaakkkkk. Harapannya, sedekah tidak serta merta habis diberikan dalam bentuk uang dan oleh penerima sedekah hanya dibelanjakan senbako dan sudah, amblas. Sedekah diberikan dalam bentuk modal berwirausaha atau pemberdayaan lainnya dengan orientasi sedekah jangka panjang dan sustainable. Entah itu bantuan dalam bentuk hewan ternak, usaha warung, pelatihan keterampilan seperti menjahit, dan lain-lain. Lembaga-lembaga ini tentu tersertifikasi sedemikian rupa, dan lebih jelas. Mungkin saja ini menjadi landasan beberapa kaum memilih cara sedekah lebih cerdas dan jelas. Apalagi kalau tahu pengamennya macam orang tadi, atau mengetahui ada fakta uang hasil ngamen hanya untuk judi, aduh mungkin orang-orang akan berpikir 7x untuk memberi.


Ya, kembali lagi. Cara pandang saya dan bapak pengamen tadi dalam menghadapi dunia tentu berbeda, termasuk dalam menilai penumpang berjilbab tadi. Nggak bisa dipaksakan. Dan setelah membaca postingan ini pun, lantas janganlah menerapkan teori gebyah uyah kepada semua pengamen bahwa semua pengamen bus sama seperti orang tadi. Ada pengamen yang memang terpaksa melakukan pekerjaan itu, ada yang hobi mengamen, ada yang memang mengamen hanya untuk lahan ekspresi diri.

Pemikiran seperti ini tidak hanya berlaku untuk pengamen dan penumpang saja. Banyaaakkkk hal serupa. Jangan punya mental suudzan ya, jangan jadi kaum sumbu pendek, jangan sibuk berteori gebyah uyah. Ya saya sih juga tidak bisa memaksakan cara pandang kalian dalam menghadapi dunia. Hehehe.

Lantas di ujung tulisan saya ini, saya terharu dengan pesan orang tua saya terutama mama dalam perihal pendidikan. Ingat ya, pendidikan setinggi-tingginya bukan serta merta digebyah uyah juga dengan ijazah yang setinggi-tingginya. Belajar nggak harus di dalam kelas. Ini terkait pola pikir, berpikir kritis dalam realitas sosial. Membentuk pribadi yang Tidak serta merta mengedepankan asumsi tanpa bukti. Tidak menjadi generasi pencaci tapi pemberi solusi. Sekalipun seapes-apesnya tidak memberi solusi, ya jangan nambah-nambahi caci. Alam pun bisa murka, kalau tidak bisa merawat minimal jangan merusak.

Lakukan apapun sesukamu, kecuali menjadi Tuhan.

Salam,
Mbak Kitiran Ngitir yang sedang menuju Trenggalek sendirian. Jarang nyetatus, sekali status captionnya panjang-panjang.

Instagram : zanza_bela

0 comments:

Post a Comment