9/13/15

Duta Kampus UNTAG 2015

Duta UNTAG Surabaya 2015

Memperingati Dies Natalis ke-53, kampus yang memiliki tagline “An Empowering and Networking University ” ini menyelenggarakan acara akbar bertajuk UNTAG Expo yang diselenggarakan Jumat (11/9) lalu. Dalam rangkaian acara tersebut Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya memilih Duta Kampus untuk pertama kalinya. Pemilihan ini melibatkan partisipasi seluruh mahasiswa UNTAG dan kemudian diseleksi menjadi 6 pasang putra-putri yang melaju ke babak final.

Pada tahap penyisihan, peserta dihadapkan dengan tes public speaking dan unjuk bakat. Setelah terpilih 6 pasang finalis,  para finalis masuk ke tahap pembekalan. Dalam tahap ini seluruh finalis dibekali beberapa materi dan skill seperti public speaking, etika dan kepribadian serta pengetahuan mengenai kampus UNTAG Surabaya.

Dengan adanya Duta UNTAG maka kampus UNTAG memiliki perwakilan untuk membantu promosi kampus seperti di acara Campus Expo dan lain-lain.

“Melalui Duta Kampus, UNTAG memiliki delegasi yang bisa mempromosikan kampus UNTAG Surabaya kepada masyarakat. Selama ini promosi kampus masih dilakukan per fakultas, kalau sudah terpilih duta kampus, promosi kampus tidak lagi dilakukan per fakultas namun secara keseluruhan” ungkap salah satu panitia, Festi Limasari ketika diwawancarai di sela-sela acara.

Selain promosi, para pemenang duta UNTAG juga akan menjalankan program untuk pengembangan diri seperti peningkatan skill bahasa asing.


“Untuk program selanjutnya, selama 3 bulan sekali para duta akan dibekali di kelas internasional. Di program tersebut mereka akan dimatangkan lagi untuk kemampuan public speaking dan bahasa inggris. Harapannya, dengan skill tersebut akan menunjang prestasi beirkutnya. Prestasi mereka tidak berhenti hanya di duta UNTAG saja tetapi bisa mengikuti kompetisi atau pemilihan duta yang lain. Ketika mereka bisa lolos tingkat Nasional maka otomatis mereka juga mengharumkan nama kampus UNTAG Surabaya”, ujar ketua panitia duta kampus, Pradana Mahardika.

Duta Kampus UHT, Duta Kampus ITATS dan Duta Kampus UM
Selain dimeriahkan dengan bintang tamu Souljah, acara tersebut juga dihadiri oleh rekan-rekan Duta Kampus dari Universitas Hang Tuah Surabaya, Instititut Teknologi Adhi Tama Surabaya dan Universitas Negeri Malang.

Berikut daftar nama pemenang Duta UNTAG Surabaya 2015 :

Juara 1 Putra UNTAG 2015
Adrian Bagus Prawira (Fakultas Psikologi)

Wakil 1 Putra UNTAG 2015
Azhar Fahmi Wardhana (Fakultas Teknik)

Wakil 2 Putra UNTAG 2015
Bagas Dimas Putra (FISIP)

Putra Terfavorit UNTAG 2015
Muhamad Sholeh (Fakultas Ekonomi)

Juara 1 Putri UNTAG 2015
Imelda Della Aluwerti (Fakultas Hukum)

Wakil 1 Putri UNTAG 2015
Andin Marlina (Fakultas Ilmu Sosial dan Politik)

Wakil 2 Putri UNTAG 2015
Hany Handoko (Psikologi) 

Putri Terfavorit UNTAG 2015
Titah Pinastika (Fakultas Ekonomi)

Ikuti official instagram @dutauntagsurabaya untuk mendapatkan informasi dan menjalin komunikasi dengan Duta UNTAG Surabaya.

****

Dapatkan informasi mengenai Duta Kampus Indonesia dengan mengikuti akun-akun berikut :
Line : @ubl4123g
Instagram : @dutakampus
Facebook : Duta Kampus
Blog : dutakampusindonesia.blogspot.co.id

Salam, Duta Kampus Sukses!

(Admin/Zan)
7/11/15

Informasi Beasiswa DataPrint 2015

Program beasiswa DataPrint telah memasuki tahun kelima. Setelah sukses mengadakan program beasiswa di tahun 2011 hingga 2014, maka DataPrint kembali membuat program beasiswa bagi penggunanya yang berstatus pelajar dan mahasiswa.  Hingga saat ini lebih dari 1000 beasiswa telah diberikan bagi penggunanya.

Di tahun 2015 sebanyak 500 beasiswa akan diberikan bagi pendaftar yang terseleksi. Program beasiswa dibagi dalam dua periode. Tidak ada sistem kuota berdasarkan daerah dan atau sekolah/perguruan tinggi. Hal ini bertujuan agar beasiswa dapat diterima secara merata bagi seluruh pengguna DataPrint.  Beasiswa terbagi dalam tiga nominal yaitu Rp 250 ribu, Rp 500 ribu dan Rp 1 juta. Dana beasiswa akan diberikan satu kali bagi peserta yang lolos penilaian. Aspek penilaian berdasarkan dari essay, prestasi dan keaktifan peserta.

Beasiswa yang dibagikan diharapkan dapat meringankan biaya pendidikan sekaligus mendorong penerima beasiswa untuk lebih berprestasi. Jadi, segera daftarkan diri kamu!

Informasi selengkapnya bisa kamu cek di www.beasiswadataprint.com dan www.dataprint.co.id J
Periode pendaftaran dibuka mulai 1 Juli 2015 hingga 25 Desember 2015.
Pengumuman tanggal 13 Januari 2016.
Semoga bermanfaat!

Salam sukses.


(Admin/Zan)
7/2/15

Nostalgia Permainan Tradisional yang Tenar di Era 90'an

Nostalgia dengan masa kecil, masa-masa dimana ujian terberat dalam hidup adalah tugas Matematika.. wkwkwk... (abaikan) Masa kecil era 90'an yang masih lekat dengan permainan tradisionalnya. Saya paling suka permainan gobak sodor, permainan yang memberi kesempatan bagi kami untuk lari pecicilan dan harus gesit. Supaya bisa lolos dari penjagaan lawan. 

Sayangnya, di era saat ini anak-anak lebih suka bermain gadget di rumah daripada bermain permainan tradisional yang menyatu dengan alam dan berinteraksi dengan teman-teman seusianya. Permainan tradisional dirasa ketinggalan zaman dan tidak menarik bagi mereka. Akibatnya, interaksi sosial anak dengan sekitarnya menjadi minim. Beberapa manfaat yang didapatkan dari permainan tradisional adalah :
  1. Anak belajar berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan
  2. Mengasah kemampuan anak dalam mengatur strategi dan fokus dalam bermain, seperti bermain gundu.
  3. Membentuk mental anak yang tidak cuek terhadap teman dan lingkungan sekitar.
  4. Dengan bermain permainan tradisional, secara tidak langsung turut berperan aktif dalam pelestarisan budaya Indonesia.

5 Permainan Tradisional
Beberapa macam permainan tradisional Indonesia sangat beragam, seperti : engklek, dakon atau congklak, gobak sodor, ular naga, bentengan, gundu atau permainan kelereng, cublak cublak suweng, dan masih banyak lagi. Berikut ulasannya.

Engklek
Engklek adalah permainan tradisional lompat-lompatan dengan 1 kaki menggunakan petak-petak pada bidang datar. Permainan ini berasal dari Jawa. Cara bermainnya adalah sebagai berikut :
  • Pemain yang mendapat giliran bermain melemparkan gacuk pada petak no.1 yang digambar di tanah.
  • Pemain melompat menggunakan satu kaki disetiap petak. Petak yang ada gacuknya tidak boleh diinjak atau ditempati oleh setiap pemain. Di petak no.4 dan no.6 pemain dapat menginjakkan kedua kaki karena merupakan petak istirahat.
  • Sebelum kembali ke kotak awal, pemain berhenti di kotak belakang petak yang terdapat gacuk, dengan 1 kaki, badan membungkuk untuk mengambil gacuk.
  • Pemain yang menyelesaikan satu putaran dapat memiliki sawah. Pemain melemparkan gacuk dengan cara membelakangi engkleknya, jika pas pada petak yang dikehendaki maka petak itu akan menjadi “sawahnya”, artinya dipetak tersebut pemain yang bersangkutan dapat menginjak dengan dua kaki, sementara pemain lain tidak boleh menginjak petak itu selama permainan.
Manfaat: Melatih strategi, ketangkasan, sosialisasi, kesabaran, dan keseimbangan berpikir dan bergerak.
Berikut videonya :

Dakon atau Congklak
Congklak atau biasa disebut Dakon adalah permainan antar 2 orang memainkan biji-biji di atas papan kayu atau plastik. Permainan ini berasal dari Jawa. Cara bermain dakon adalah sebagai berikut :
  • Pada awal permainan, setiap lubang kecil diisi biji congklak sesuai dengan jumlah pasangan congklaknya. Umumnya masing-masing diisi 7 biji.
  • Dua orang pemain berhadapan dengan papan congklak di antara mereka dan mengundi siapa yang memainkan terlebih dulu.
  • Orang yang mendapat giliran untuk memulai terlebih dahulu mengambil biji-biji di salah satu lubang yang dipilih dan meletakkannya satu biji ke lubang di sebelah kanannya, kemudian satu per satu ke lubang-lubang selanjutnya searah jarum jam, termasuk lubang induk sendiri. Lubang induk milik lawan tidak boleh diisi.
  • Setiap biji habis, maka pemain langsung mengambil biji-biji yang ada dilubang terakhir termasuk biji terakhir tersebut dan membagikannya kembali. Demikian terus menerus sampai pemain menemukan lubang yang kosong dan berhenti. Dengan demikian giliran bermain pindah pada lawannya.
  • Untuk menentukan pemenang, dihitung jumlah biji-bijian di masing-masing lubang induk, yang punya biji terbanyak adalah pemenangnya. 
Manfaat : Melatih strategi, kesabaran, dan ketelitian.
Berikut videonya :

Gobak Sodor
Gobak sodor atau juga disebut Galah Asin adalah permainan menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik. Jumlah pemain 6-10 anak, dibagi menjadi 2 tim. Cara bermain gobak sodor adalah sebagai berikut :
  • Pemain dari tim A menjaga garis yang telah ditentukan. Pemain dari Tim B berjaga dan berusaha menyentuh pemain lawan dengan menggunakan tangannya, sehingga pemain lawan tidak bisa melewati garis.
Manfaat : Kerja sama, kekompakan, kekuatan, kesehatan, kecepatan, dan kecerdikan.
Berikut videonya :


Ular Naga
Ular Naga adalah satu permainan berkelompok yang biasa dimainkan anak-anak di luar rumah. Tempat bermainnya di tanah lapang atau halaman rumah yang agak luas sambil menyanyikan lagu : "Ular naga panjangnya bukan kepalang. Menjalar-jalar selalu kian kemari. Umpan yang lezat, itu yang dicari. Kini dianya yang terbelakang."
Jumlah pemain ular naga adalah 2 anak sebagai gerbang dan anak-anak lain berjumlah 5 Orang atau lebih sebagai ekor dari masing-masing gerbang. Cara bermainnya : Setelah kedua gerbang memilih anak yang ditangkap, anak tersebut diberikan kesempatan untuk memilih gerbang mana yang akan dia pilih. Kemudian, anak tersebut ditempatkan di belakang gerbang yang dipilihnya.
Manfaat : Ketangkasan, kekompakan, sosialisisasi, dan kecerdasan.
Berikut videonya :


Bentengan
Benteng adalah permainan menyerang dan mengambil alih benteng lawan. Jumlah pemainnya terdiri dari 4 orang atau lebih, dibagi menjadi 2 tim. Jumlah pemain harus genap agar kedua tim berjumlah seimbang. Cara main : Menyentuh tiang atau pilar lawan dan meneriakkan kata “benteng”.
Manfaat : Melatih strategi, kerja sama, kekompakan, kekuatan, kesehatan, dan kecepatan.
Berikut videonya :


Gundu atau Kelereng
Gundu atau kelereng atau yang disebut neker dalam bahasa jawa adalah bola kaca berukuran kecil rata-rata 1,2 cm – 6 cm. Biasanya permainan ini dimainkan oleh anak laki-laki, namun ada juga anak perempuan yang memainkan gundu. Permainan ini bisa dimainkan 2-5 anak dan mereka membawa gundunya masing-masing. Persiapan yang dilakukan adalah tempat untuk bermain gundu biasanya di tanah berpasir atau lapangan. Cara bermain:
  • Gambar lingkaran kecil di tanah. Semua anak menaruh sebutir kelereng di dalam lingkaran.
  • Lalu semua anak berdiri kira-kira satu meter dari lingkaran, di belakang sebuah garis. Secara bergantian, lemparkan sebutir kelereng lainnya ke arah lingkaran. Anak  yang kelerengnya paling jauh dari lingkaran, boleh main lebih dulu.
  • Dia harus memakai kelereng yang ada di luar lingkaran sebagai “Penyerang” untuk memukul kelereng di dalam lingkaran keluar. Kalau berhasil melakukannya, maka ia boleh menyimpan setiap kelereng yang kena jentik.
  • Cara menjentik kelereng: pertemukan ibu jari dengan jari tengah. Sentilkan kedua jari tepat pada gundu.
  • Kelereng “Penyerang” harus tetap tinggal di dalam lingkaran. Kalau tidak, maka anak yang memilikinya akan kehilangan kelereng tersebut.
  • Pemenang adalah anak yang mengumpulkan kelereng atau gundu terbanyak.

Manfaat: Melatih keterampilan motorik, melatih kemampuan berpikir (kognitif), kemampuan berhitung,  mengasah keterampilan sosial dan melatih anak mengendalikan emosi.


(Admin/Zan)
Sumber : KaskusAyahBunda
7/1/15

Potret Pendidikan di Finlandia


Semasa sekolah dulu, rasanya mustahil kamu bisa dijuluki murid pintar kalau dapat ranking bontot. Apalagi kalau gak lulus ujian nasional, rasanya dunia selesai di titik itu. Ketatnya persaingan waktu sekolah mungkin memang bertujuan supaya kitaa berlomba-lomba jadi lebih pintar. Tapi tahukah kamu, negara dengan pendidikan terbaik dan murid terpintar di dunia yaitu Finlandia justru melakukan hal yang sebaliknya?
Berbeda dengan kita yang harus menghadapi ujian nasional tiap mau naik jenjang sekolah, 
seumur-umur pelajar di Finlandia hanya menghadapi 1 ujian nasional ketika mereka berumur 16 tahun. Tidak hanya minim pekerjaan rumah, pelajar di Finlandia juga mendapatkan waktu istirahat hampir 3 kali lebih lama daripada pelajar di negara lain. Namun dengan sistem yang leluasa entah bagaimana mereka justru bisa belajar lebih baik dan jadi lebih pintar

*** Orang tua jaman sekarang pasti udah rempong kalau mikir pendidikan anak. Anaknya belum genap 3 tahun aja udah ngantri dapat pre-school bagus gara-gara takut kalau dari awal sekolahnya gak bagus, nantinya susah dapat SD, SMP, atau SMA yang bagus.
Di Finlandia tidak ada kekhawatiran seperti itu. Bahkan menurut hukum, anak-anak baru boleh mulai bersekolah ketika berumur 7 tahun.
Awal yang lebih telat jika dibandingkan negara-negara lain itu justru berasal dari pertimbangan mendalam terhadap kesiapan mental anak-anak untuk belajar. Mereka juga meyakini keutamaan bermain dalam belajar, berimajinasi, dan menemukan jawaban sendiri. Anak-anak di usia dini justru didorong untuk lebih banyak bermain dan bersosialisasi dengan teman sebaya. Bahkan penilaian tugas tidak diberikan hingga mereka kelas 4 SD. Hingga jenjang SMA pun, permainan interaktif masih mendominasi metode pembelajaran.
Pelajar di Finlandia sudah terbiasa menemukan sendiri cara pembelajaran yang paling efektif bagi mereka, jadi nantinya mereka tidak harus merasa terpaksa untuk belajar. Maka dari itu meskipun mulai telat, tapi pelajar umur 15 di Finlandia justru berhasil mengungguli pelajar lain dari seluruh dunia dalam tes internasional Programme for International Student Assessment (PISA ). Itu membuktikan faedah dan efektivitas sistem pendidikan di Finlandia.

*** Tahukah kamu bahwa untuk setiap 45 menit siswa di Finlandia belajar, mereka berhak mendapatkan rehat selama 15 menit? Orang-orang Finlandia meyakini bahwa kemampuan terbaik siswa untuk menyerap ilmu baru yang diajarkan justru akan datang, jika mereka memilliki kesempatan mengistirahatkan otak dan membangun fokus baru. Mereka juga jadi lebih produktif di jam-jam belajar karena mengerti bahwa toh sebentar lagi mereka akan dapat kembali bermain.
Di samping meningkatkan kemampuan fokus di atas, memiliki jam istirahat yang lebih panjang di sekolah juga sebenarnya memiliki manfaat kesehatan. Mereka jadi lebih aktif bergerak dan bermain, tidak hanya duduk di kelas. Bagus juga kan jika tidak membiasakan anak-anak dari kecil untuk terlalu banyak duduk.

*** Satu lagi faktor yang membuat orang tua di Finlandia gak usah pusing-pusing milih sekolah yang bagus untuk anaknya, karena semua sekolah di Finland itu sama bagusnya. Dan yang lebih penting lagi, sama gratisnya. Sistem pendidikan di Finlandia dibangun atas dasar kesetaraan. Bukan memberi subsidi pada mereka yang membutuhkan, tapi menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas untuk semua.
Reformasi pendidikan yang dimulai pada tahun 1970-an tersebut merancang sistem kepercayaan yang meniadakan evaluasi atau ranking sekolah sehingga antara sekolah gak perlu merasa berkompetisi. Sekolah swasta pun diatur dengan peraturan ketat untuk tidak membebankan biaya tinggi kepada siswa. Saking bagusnya sekolah-sekolah negeri di sana, hanya terdapat segelintir sekolah swasta yang biasanya juga berdiri karena basis agama.
Tidak berhenti dengan biaya pendidikan gratis, pemerintah Finlandia juga menyediakan fasilitas pendukung proses pembelajaran seperti makan siang, biaya kesehatan, dan angkutan sekolah secara cuma-cuma. Memang sih sistem seperti ini mungkin berjalan karena kemapanan perekonomian Finlandia. Tapi jika memahami sentralnya peran pendidikan dalam membentuk masa depan bangsa, seharusnya semua negara juga berinvestasi besar untuk pendidikan. Asal gak akhirnya dikorupsi aja sih.

*** Disamping kesetaraan fasilitas dan sokongan dana yang mengucur dari pemerintah, penopang utama dari kualitas merata yang ditemukan di semua sekolah di Finlandia adalah mutu guru-gurunya yang setinggi langit. Guru adalah salah satu pekerjaan paling bergengsi di Finlandia. Pendapatan guru di Finlandia pun lebih dari dua kali lipat dari guru di Amerika Serikat.Tidak peduli jenjang SD atau SMA, semua guru di Finlandia diwajibkan memegang gelar master yang disubsidi penuh oleh pemerintah dan memiliki tesis yang sudah dipublikasi.
Finlandia memahami bahwa guru adalah orang yang paling berpengaruh dalam meningkatkan mutu pendidikan generasi masa depannya. Maka dari itu, Finlandia berinvestasi besar-besaran untuk meningkatkan mutu tenaga pengajarnya. Tidak saja kualitas, pemerintah Finlandia juga memastikan ada cukup guru untuk pembelajaran intensif yang optimal. Ada 1 guru untuk 12 siswa di Finlandia, rasio yang jauh lebih tinggi daripada negara-negara lain. Jadi guru bisa memberikan perhatian khusus untuk tiap anak, gak cuma berdiri di depan kelas.
Jika Indonesia ingin semaju Finlandia dalam urusan pendidikan, guru-guru kita selayaknya juga harus mendapatkan sokongan sebagus ini. Kalau perhatian kita ke guru kurang, kenapa kita menuntut mereka harus memberikan yang terbaik dalam proses pembelajaran? Tidak adil ‘kan?

*** Kredibilitas dan mutu tenaga pengajar yang tinggi memungkinkan pemerintah menyerahkan tanggung jawab membentuk kurikulum dan evaluasi pembelajaran langsung kepada mereka. Hanya terdapat garis pedoman nasional longgar yang harus diikuti. Ujian nasional pun tidak diperlukan. Pemerintah meyakini bahwa guru adalah orang yang paling mengerti kurikulum dan cara penilaian terbaik yang paling sesuai dengan siswa-siswa mereka.
Diversitas siswa seperti keberagaman tingkatan sosial atau latar belakang kultur biasanya jadi tantangan sendiri dalam menyeleraskan mutu pendidikan. Bisa jadi gara-gara fleksibilitas dalam sistem pendidikan Finlandia itu, semua diversitas justru bisa difasilitasi. Jadi dengan caranya sendiri-sendiri, siswa-siswa yang berbeda ini bisa mengembangkan potensinya secara maksimal.

*** Tidak hanya jam istirahat yang lebih panjang, jam sekolah di Finlandia juga relatif lebih pendek dibandingkan negara-negara lain. Siswa-siswa SD di Finlandia kebanyakan hanya berada di sekolah selama 4-5 jam per hari. Siswa SMP dan SMA pun mengikuti sistem layaknya kuliah. Mereka hanya akan datang pada jadwal pelajaran yang mereka pilih. Mereka tidak datang merasa terpaksa tapi karena pilihan mereka.
Pendeknya jam belajar justru mendorong mereka untuk lebih produktif. Biasanya pada awal semester, guru-guru justru menyuruh mereka untuk menentukan target atau aktivitas pembelajaran sendiri. Jadi ketika masuk kelas, mereka tidak sekedar tahu dan siap tapi juga tidak sabar untuk memulai proyeknya sendiri.

*** Upaya pemerintah meningkatkan mutu sekolah dan guru secara seragam di Finlandia pada akhirnya berujung pada harapan bahwa semua siswa di Finlandia dapat jadi pintar. Tanpa terkecuali. Maka dari itu, mereka tidak mempercayai sistem ranking atau kompetisi yang pada akhirnya hanya akan menghasilkan ‘sejumlah siswa pintar’ dan ‘sejumlah siswa bodoh’.
Walaupun ada bantuan khusus untuk siswa yang merasa butuh, tapi mereka tetap ditempatkan dalam kelas dan program yang sama. Tidak ada juga program akselerasi. Pembelajaran di sekolah berlangsung secara kolaboratif. Bahkan anak dari kelas-kelas berbeda pun sering bertemu untuk kelas campuran. Strategi itu terbukti berhasil karena saat ini Finlandia adalah negara dengan kesenjangan pendidikan terkecil di dunia.

Emang sih kita gak bisa serta merta menyontek sistem pendidikan Finlandia dan langsung menerapkannya di Indonesia. Dengan berbagai perbedaan institusional atau budaya, hasilnya juga mungkin gak bakal sama.
Tapi gak ada salahnya ‘kan belajar dari negara yang udah sukses dengan reformasi pendidikannya. Siapa tahu bisa menginspirasi adminitrasi baru untuk mengadakan perubahan demi pendidikan Indonesia yang lebih baik **

Source : www.hipwee.com (via FB Bambang Harianto PakDor)









6/19/15

PASSPORT by Rhenald Kasali

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.
Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas menguruspasport. Setiap mahasiswa harus memiliki “surat ijin memasuki dunia global.”. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punyapasport. Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.
“Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?”
Saya katakan saya tidak tahu. Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.
Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.
Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke PulauJawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.
Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.
The Next Convergence
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.
cap-passport
Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memilikipasport .Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.
Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anakIndonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punyapasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.
Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.
Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.
Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punyapasport dari uang negara.
Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
:iloveindonesia

Pra-semifinalis Pemilihan Muda Sabudarta Indonesia 2015


Pencarian sosok Muda Sabudarta di Pemilihan Muda Sabudarta Indonesia 2015 akhirnya resmi dimulai. Pemuda-pemudi berbakat dari berbagai daerah berlomba untuk mendaftar sejak 9 Mei – 20 Juni dan bersiap untuk berkompetisi dalam pencarian sosok inspirator muda yang sadar budaya dan pariwisata. Merupakan wujud nyata dari #EveryoneisTourismAmbassador, program kreatif ADWINDO bersama Gramuda Sabudarta Indonesia ini mengawali kompetisi dimulai dari seleksi awal. Dimana pada tahapan ini para pendaftar diarahkan pada dua jenis seleksi yakni Seleksi On The Spot dan Seleksi Online.

Untuk Seleksi On The Spot tahun ini dibuka di dua kota yakni Malang Raya dan Surabaya, seleksi on the spot tidak hanya bisa diikuti oleh peserta yang berasal dari kota tersebut melainkan semua yang dapat mengikuti atau menghadiri seleksi on the spot dapat turut mendaftar mengikuti seleksi terbuka ini. Sedangkan seleksi online ditujukan untuk memberi kemudahan kepada mereka-mereka yang berada di luar Jawa Timur atau tidak dapat mengikuti seleksi on the spot.


Seleksi On The Spot telah rampung diselesaikan dimana untuk kawasan Malang Raya seleksi on the spot diadakan di Toetie Boutique Villa & Resort Kota Batu pada 5 Juni 2015 sedangkan untuk Surabaya dilaksanakan di BG Junction Surabaya pada 14 Juni 2015. Dalam penilaiannya seleksi on the spot membagi kedalam dua tahapan yakni pre-test dan juga communication skill test. Didalam pre-test peserta diminta mengerjakan soal-soal yang berhubungan dengan budaya, pariwisata serta pengetahuan umum sedangkan di babak communication skill test peserta diminta untuk berbicara serta bercerita seputar daerah yang diwakilinya dengan menggunakan bahasa daerah yang digunakan sehari-hari.

Adapun tamu spesial yang datang ke seleksi on the spot dan juga bertindak sebagai juri ada Saza Azizah Anindyo (Duta Wisata Indonesia 2013) dan Briansyah Dewandri Septiawan (Harapan 1 Duta Wisata Indonesia 2014). Kedua tamu spesial ini turut memberikan motivasi kepada para peserta seleksi untuk mampu menjadi pribadi yang siap dan semangat terutama dalam hal berkarya serta berkontribusi memajukan pariwisata dan melestarikan budaya nusantara. Selain tamu spesial turut hadir membantu sebagai juri on the spot diantaranya Bapak Mario Francois Laquais (PHRI Kota Batu) & Bapak Tato Octavianto (Pengamat Pageant Senior Jawa Timur).

16 Pra-semifinalis Muda Sabudarta Indonesia 2015

Inilah nama-nama 16 pra-semifinalis pemilihan Muda Sabudarta Indonesia 2015 dari audisi Malang Raya dan Surabaya.

1. Fachruddin Irfani - Kota Batu
2. Moch. Deni Malik - Kab. Kediri
3. Filipus Adimas Dwi Cahyo - Kota Batu
4. Millatul Hanifiyyah - Kota Batu
5. Wira Ardiansyah - Kab. Tulungagung
6. Yesintha Octaviani - Kab. Trenggalek
7. Xena Putri Judowati - Kota Malang
8. Marina Berlian S.D - Kab. Sidoarjo
9. Lufi Yuwana M - Kab. Pacitan
10. Nalurita Pratiwi - Kota Palembang
11. Jatmiko - Kab. Banyuwangi
12. Ficca Ayu Saraswaty - Kota Surabaya
13. Ayue Zone Pratitis - Kota Balikpapan
14. Siska Septian A - Kota Surabaya
15. Romy Irwanto - Kab. Sidoarjo
16. Elisa Nuky Desiana - Kab. Lamongan

Ke-16 pra-semifinalis ini akan kembali di screening bersama pra-semifinalis audisi online. Dimana keseluruhan semifinalis terpilih akan diumumkan pada 29 Juni 2015 di website Adwindo www.adwindo.net.

Kamu masih belum mendaftar? Atau belum melihat kota atau kabupatenmu lolos? Segera daftarkan dirimu di Pemilihan Muda Sabudarta Indonesia 2015 melalui website www.adwindo.net.

Jika merasa kesulitan mengakses website Adwindo, bisa langsung menuju link berikut untuk mendaftar.
- Untuk yang memilih daftar via online form bisa langsung menuju link https://www.cognitoforms.com/GSI5/FormulirPendaftaranMudaSabudartaIndonesia2015

- Sedang untuk kamu yang lebih memilih daftar via manual form(mengirim via email) bisa mengunduh file formulir MSI disini http://www.4shared.com/file/8-ciucRqce/FORMULIR_Nama-Lengkap_Asal-Kab.html

Pendaftaran untuk audisi online terakhir tanggal 20 Juni 2015.
Jangan Sampai Ketinggalan ya!

Semangat!
Salam Muda Sabudarta

#SemarakMSI2015 #EveryoneisTourismAmbassador #Pemilihan #mudasabudartaindonesia #AkuMudaSabudartaIndonesia #Duta #Surabaya #Malang

BELAJAR YANG KALIAN SUKA (corbuzier)

Kisah ajaib di siang suntuk saat jemput sekolah...

Azka : "pa.. Tadi lomba renang.. I get urutan ke 5!!!"
Me : "woooow I'm so proud of you.. You are amazing!!!!"
Azka : "yeaaaaaay"

Ibu2 entah arisan di belakang : "Mas Ded.. Yang tanding kan per 6 orang.. Masak anaknya urutan ke 5 malah bangga.. Anak saya aja urutan ke 3 saya bilang payah... Nanti malas mas Ded..."
Me : "Hahaha Iya yah... Wah saya soalnya waktu kecil diajari ayah ibu saya kalau tujuan renang itu Yah supaya gak tenggelam aja sih... Bukan supaya duluan sampe tembok.. Hehehe"
Ibu2 : "Ah mas Ded bisa aja... Jangan gitu mas.. Ngajar anaknya.. Bener deh nanti malas."
Me : "hahaha Azka gak malas kok mbak.. Tenang aja.. Kmrn math nya juara 3, catur nya.. Lawan saya aja saya kalah skrg.. Eh anw mbak.. Saya juga gak masalah punya anak malas.. Di hal yang dia gak bisa... Atau gak suka... Yg penting dia usaha... Daripada anak rajin tapi Stress punya ibu yang Stress juga marahi anaknya karena cuma dapat juara 3 lomba renang.... "
Ibu : "Hehehe... Mas saya jalan dulu Yah.."
Me : "gak renang aja mbak?"
Senyap....

Ya ini kejadian benar dan tidak saya ubah ubah...
Apa sih yang sebenarnya terjadi secara gamblang...
Tahukah si ibu kalau Azka luar biasa di catur nya? (penting? NO... Sama dengan Renang..)
Atau Azka juga mendalami bela diri yang cukup memukau di banding anak seusianya...
Atau.. Azka.. Atau Azka...
Banyak kelebihan Azka..
Sama dengan kalian..
Banyak kelebihan yang kalian punya.. Artinya banyak kelemahan yang kalian. Punya juga..
Tapi apabila para orang tua memaksakan kalian sempurna di semua bidang dan menerapkannya dengan paksaan maka hanya akan terjadi 2 hal :

1. Si anak Stress dan membenci hal itu..
2. Si anak sukses di hal itu dan membenci orang tuanya (Michael Jackson contohnya)

Yuk kita lihat apa yang baik di diri anak kita.. (bila anda orang tua)
Yuk kita komunikasi kan apa yang kita suka (bila kita anak tersebut)
Mengajari dengan kekerasan tidak akan menghasilkan apapun.. 

Memarahi anak karena pelajaran adalah hal yang bodoh...
Saya sampai sekarang masih bingung mengapa naik kelas tidak naik adalah hal yang menjadi momok bagi ortu (kecuali masalah finansial)
Siapa sih yang menjamin naik kelas jadi sukses kelak?
Saya... Saya 2 kali tidak naik kelas... Yes... I am. Proudly to say..
Ayah saya ambil raport.. Merah semua.. Dia tertawa.. "kamu... Belajar sulap tiap hari kan.. Sampai gak belajar yang lain.."
"iya pa"
"sulapnya jago... Belajarnya naikin Yuk.. Gak usah bagus... Yg penting 6 aja nilainya.. Ok?.. Pokoknya kalau nilai nya kamu 6.. Papa beliin alat sulap baru... Gimana?"
Wow... My target is 6.....
Not 8.. Not 9... NOT 10!!!! It's easy..... Its helping... Its good communication between me and my father.... Its a GOOD Deal... Dan Ibu saya? Mendukung hal itu.
Apa yang mereka dapat saat ini?
Anaknya yang nilainya tidak pernah lebih dr 6/7 tetap sekolah.. Kuliah... Jadi dosen Tamu .. Mengajar di beberapa kampus..
Oh.. Anaknya...
Become one thing they never imagine...
World Best Mentalist
(Merlin Award Winner : penghargaan tertinggi di seni sulap dunia) 2 kali berturut turut....
Apa Yang terjadi kalau saat itu saya dihukum... Dimarahi.. Di larang lagi bermain sulap?...

Apa? Maybe I be one of the people working on bus station... ( other Bad... Not Great)
Yuk stop Memarahi anak krn pelajaran nya... Karena ke unik an nya...
Kita cari apa yang mereka suka... Kita dukung..
U never know what it will bring them in the future... Might indeed surprise you...

Sumber: www.thecorbuzier.com/blog/belajar-yang-kalian-suka