2/2/21

Daftar Kuliah Kewirausahaan Sosial UGM

Wah, sudah Februari 2021. Selain permasalahan pandemi yang belum kunjung usai, bahkan di beberapa wilayah di Indonesia kasus positifnya kian naik, lalu what's next? 

Apa yang sejauh ini kalian sudah dapat? Atau hal baru apa yang sejauh ini kalian punya? Atau pengalaman menarik apa yang kalian lalui selama 2020 hingga awal 2021 ini? Ya, selain narasi rebahan di rumah bisa menyelamatkan dunia yak. Hehehe...

Di awal kemunculan pandemi sekitar bulan Maret lalu hingga pemberlakuan PSBB di beberapa daerah termasuk di kota Surabaya, memang membuat produktivitas keseharianku menurun. Biasanya harus berdrama dengan rentetan event, kuliah tamu, seminar, dan lain-lain. Tapi... ah ya sudah. Bukan ini yang menjadi topik utama tulisan kali ini.

Dalam kondisi tidak pandemi alias keseharian normal, waktu 24 jam seperti sudah habis untuk mengurus urusan pekerjaan. Belum lagi jika dalam satu hari harus nomaden ke 1-3 kota. Ingin sekedar mengambil kelas kursus, mempelajari hal baru tentu sudah tidak ada waktu. Tapi, dalam masa pandemi ini ada rindu yang terbayar. Yaps, rindu belajar. 

Rasa-rasanya sudah tidak terhitung berapa jumlah kelas virtual atau forum webinar yang sudah saya ikuti sampai detik ini mulai dari yang cuma-cuma sampai yang berbayar. Sampek mblenger (Indo: bosan, jenuh). Mulai dari kelas di John Robert Powers, kelas moodboard, kelas copy-writing, dan lain-lain. Mblenger sih, tapi pesona kelas-kelas virtual yang akhir-akhir ini semakin banyak ditawarkan tetap saja menggiurkan. Apalagi pematerinya tidak kaleng-kaleng. Jika saja kelas ini tidak diberikan virtual (karena alasan prokes), maka tentu biaya perjalanan, penginapan, registrasi, dll akan lebih mahal.

Mungkin ada beberapa dari kalian yang familiar dengan program Kewirausahaan Sosial yang diselenggarakan oleh FISIPOL Universitas Gajah Mada. Nah, bulan ini mereka membuka kembali pendaftaran untuk batch ketiga. Tertarik mendaftar? Kalian bisa langsung intip informasi programnnya di instagram @kewirausahaansosialugm.

Program kuliah untuk batch 3 ini lumayan bikin pusing. Karena satu pendaftar hanya boleh memilih 1 jenis program saja. Huhuhu.. Sedangkan topik-topiknya banyak yang menggiurkan, pematerinya juga dari institusi yang nggak kaleng-kaleng dah. Emang programnya apa aja sih?

Ada kelas yang concern dengan perkembangan dunia digital oleh Buka Lapak, Komunikasi Pemasaran oleh PR Institute, Industri Radio dari Prambors, LinkedIn sebagai penunjang karir, Impactful Content dari Narasi TV, membangun bisnis di era digital dari Nutrifood, Inovasi Sosial dari Paragon, Social Entrepeneur dari Rumah Millenials, BUMDes Academy dari Usaha Desa, Product Development 360 bersama Gojek, Kampanye Lingkungan dari Greenpeace, Membangun Komunitas Sosial bersama Gusdurian, Passion 101 oleh ID Next Leader, Inno-preneur oleh Innovative Academy, Digital Marketing oleh Asosiasi Digital Marketing Indonesia, Social Ecommercepreneur dari Blibli, Personal Financial Planing oleh Finansialku, Sustainable Business Practice oleh Forum CSR DKI Jakarta, dan lain-lain. Lengkapnya ada di bawah ini.







Meskipun masih tanggal 2 Februari 2021, namun sudah ada beberapa kelas yang penuh. Wow, antusiasnya keren kaliikkkk. Syarat pendaftar bagi masing-masing program berbeda-beda, jadi teman-teman perlu teliti membaca semua syarat kelasnya. Ada yang memang terbuka untuk masyarakat umum tetapi tidak sedikit juga yang hanya terbuka untuk mahasiswa/i aktif. Dan satu pendaftar hanya boleh memilih 1 program saja, jika melanggar ketentuan maka siap-siap tidak terpilih.

Nah, mempertimbangkan syarat kelas dan jam kuliah yang tidak terbentur dengan jadwal kantor, akhirnya saya memilih program Innovative Leadership dari pemimpin.id. Kuliah mengenai leadership juga jarang saya temui jaman perkuliahan dulu, beruntung bisa ikut program ini. 


Informasi program "Innovative Leadership"

Kuliah perdana dimulai tanggal 19 Februari 2021.
Hmmm... semoga menarik. Lama nggak kuliah euy. Hehehe.

Ada yang mau ikutan sekelas? :D

Terima kasih sudah mampir.

(Admin/Zan)


Media Penyiaran : Pengertian dan Sejarah

Mata kuliah Penyiaran membekali mahasiswa pengetahuan praktis tentang media penyiaran (radio dan televisi) yang diajarkan secara integrasi dengan melibatkan empat kemampuan atau ‘skills‘ berbahasa: yaitu mendengar (listening), berbicara (speaking), membaca (reading) dan menulis (writing).

Penyiaran merupakan suatu keterampilan dasar manusia saat berada pada posisi tidak mampu untuk menciptakan dan menggunakan pesan secara efektif untuk berkomunikasi atau menyampaikan informasi. Penyiaran merupakan kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaran atau sarana transmisi di darat, laut atau antariksa dengan menggunakan spectrum frekuensi radio (sinyal radio) yang berbentuk gelombang elektromagnetik yang merambat melalui udara, kabel dan/atau media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran. Langkah-langkah secara umum meliputi penggagas ide yang dalam hal ini adalah komunikator, kemudian ide tersebut diubah menjadi pesan atau informasi yang dapat dikirimkan baik secara verbal maupun non verbal melalui saluran dan sarana komunikasi sehingga dapat diterima ranah umum sebagai penerima pesan atau juga disebut sebagai komunikan. Unsur-unsur penyiaran disebut dengan istilah Trilogi Penyiaran yaitu studio, transmitter dan pesawat penerima.

Sejarah media penyiaran secara umum dibagi menjadi dua bagian, yaitu sebagai penemuan teknologi dan sebagai industri. Sejarah media penyiaran sebagai penemuan teknologi berawal saat ditemukan radio oleh para ahli teknik di Kawasan Eropa dan Amerika. Sedangkan sejarah media penyiaran sebagai suatu industri dimulai di negara Amerika.

Sejarah media penyiaran di dunia dimulai ketika seorang ahli fisika Jerman bernama Heinrich Hertz pada tahun 1887 berhasil mengirim  dan menerima gelombang radio, yang kemudian dilanjutkan oleh Guglielmo Marconi (1874-1973) dari Italia yang sukses mengirimkan sinyal morse berupa titik dan garis dari sebuah pemancar kepada alat penerima. Sinyal yang dikirimkan Marconi itu berhasil menyeberangi Samudra Atlantik pada tahun 1901 dengan menggunakan gelombang elektromagnetik.

Dalam teori media dan masyarakat, massa dikatakan bahwa media memiliki asumsi untuk membentuk masyarakat, yakni:

1. Media massa memiliki efek yang berbahaya bagi masyarakat. Tahun 1920-an di Eropa penyiaran dikendalikan oleh pemerintah. Hal ini berdampak buruk di Jerman karena digunakan untuk propaganda Nazi.
2. Media massa memiliki kekuatan untuk memengaruhi pola pikir audiensnya. Rata-rata orang yang terpengaruh oleh media dikarenakan mengalami keterputusan dengan institusi sosial yang sebelumnya melindungi dari efek negatif media. “John Dewey” berkata bahwa efek negatif media dapat disaring melalui pendidikan.

Seiring dengan perkembangan teknologi, muncul konsep media baru atau new media. Karakteristik new media tersebut antara lain sudah memasuki era digital bahkan sangat samar perbedaannya antara media cetak dan elektronik, bersifat interaktif dan tidak terbatas dengan wilayah suatu negara. Menurut kajian Canadian Broadcasting Corporation (CBC) yang dituliskan dalam situsnya bulan Desember 2006, new media khususnya bagi dunia penyiaran merupakan proses streaming di jaringan internet atau mobile. Berdasarkan penjelasan tersebut yang bisa dimasukkan dalam kategori new media adalah televisi-televisi kabel dan internet yang dalam hal ini streaming).

Referensi Bacaan :

Sulvinajayanti, Sulvinajayanti (2018). Manajemen dan Konvergensi Media. Penerbit Aksara Timur, Parepare, Indonesia

Djamal, Hidajanto dan Andi Fachruddin (2011). Dasar-dasar Penyiaran: Sejarah, Organisasi, Operasional dan Regulasi Edisi 2. Jakarta : Kencana


Kontak :

E-mail : zanzabela@yahoo.com
IG : zanza_bela

1/2/21

Agility dari Pambudi Sunarsihanto

Minggu yang lalu, ada topik viral yang dibahas banyak orang. Presiden melantik beberapa menteri, termasuk seorang Menteri Kesehatan yang baru, dan bukan seorang dokter. 

Langsung topik ini viral, “Kok Menkes bukan seorang dokter?”

Dan kemarin Menteri Kesehatan yang baru pun tampil di depan publik untuk menyampaikan update tentang penanganan krisis yang sedang berjalan.

Saya melihat YouTube nya dari awal sampai akhir, mengamati communication style, caranya menangani krisis dan saya berkata,”He is not a medical doctor, he is a great leader” (Dia memang bukan Dokter, tapi dia seorang Leader). And that’s the inspiration for our future.


Dan, dalam suasana krisis seperti saat ini, bukankah kita memerlukan seorang Leader? Apakah seorang CEO perusahaan telekomunikasi harus seorang insinyur? Apakah pelatih sepakbola harus pernah menjadi pemain sepakbola terbaik? Dan daftar pertanyaan itu bisa diperpanjang …?


Padahal ternyata, ada seorang CEO perusahaan minyak yang bukan lulusan perminyakan. Ada seorang CEO sebuah bank internasional yang lulusan Teknik Kimia. Dan ada pelatih sepakbola yang hebat (Jose Morinho) yang dulunya tidak pernah bermain di Liga sepakbola yang top.


Bee, seorang sahabat saya dulunya pramugari, sekarang menjadi Managing Director, sebuah perusahaan consulting terkenal. 


Saya adalah seorang insinyur computer (Master saya dalam bidang Artificial Intelligence) yang sekarang menjadi HR Director. Saya pernah bekerja di bank, dan merekrut seorang lulusan Micro-biology, dan sekarang dia menjadi banker yang ulung.


Kadang ada yang bertanya,” Terus ngapain kuliah di satu bidang, dan kemudian kerja di bidang lain?”

Well, Bahasa humornya adalah HIMASALJU (Himpunan Mahasiswa Salah Jurusan). Itu yang untuk lucu-lucuan. Tapi secara serius, tentu saja kita bisa menganalisa dua hal. 


Pertama, semua orang berhak untuk memilih pekerjaan apa yang sesuai dengan passion-nya, dan membuat dia bermanfaat bagi lebih banyak orang kan?


Kedua, bukankah kita memang harus selalu belajar terus, meng-update diri kita dengan ilmu baru sesuai perkembangan jaman? 

Memangnya lulusan ekonomi harus selalu belajar ekonomi? Bagus dong kalau dia belajar IT? Memangnya lulusan perminyakan harus terus belajar perminyakan? Bagus dong kalau dia belajar tentang business management?


Banyak di antara kita yang tenggelam dalam bidang yang kita tekuni. Lupa untuk belajar something new. Padahal skills apapun yang kita kuasai suatu saat akan tergantikan oleh CPU yang senilai hanya 3 juta rupiah. That’s life. Your strength can kill you.


Seorang sahabat saya baru saja kehilangan pekerjaannya, terkena efisiensi dari perusahaannya, karena industri di mana dia bekerja sedang terkena krisis, dan tren bisnisnya terus menurun.


Sekarang dia kebingungan mencari pekerjaan karena dia hanya menguasai skills itu. Padahal dia pintar sekali. Lupa untuk mempelajari hal-hal lain di luar bidang keilmuannya.


Kenapa gak buka usaha sendiri? Buka usaha sendiri juga perlu kemampuan finance, marketing …dll, di luar bidang yang dia dalami selama ini.


Kuncinya adalah belajar terus, dan menghargai orang lain yang pernah berhasil membuktikan dirinya mampu mempelajari beberapa bidang keahlian, di luar bidang yang tadinya dialami di kuliahnya. That’s agility.


Artificial Intelligence sudah membuktikan bahwa komputer sudah bisa menggantikan penjaga tol, teller bank, sopir mobil, dokter, lawyer, guru, pembaca berita TV, peramal saham ...dan lain lain. Sebentar lagi hal ini akan semakin merajalela.


Apa yang harus kita lakukan? Belajar sesuatu yang baru, yang belum bisa digantikan oleh komputer atau robot. Apa saja! Karena itu akan mendidik kita untuk mengembangkan agility, sehingga kita mampu mempelajari hal yang baru.


Banyak orang yang hanya mempunyai satu skills dan suatu saat mereka akan berada dalam bahaya karena skills mereka tidak relevan lagi. Your skills can kill you (if you don’t learn new/other skills).


Makanya, harus membiasakan diri untuk belajar sesuatu yang baru, every year. Anak saya yang pertama tahun ini belajar Finance (meskipun dia kuliah Chemical Engineering), anak saya yang kedua belajar menjalankan online shop, anak saya yang ketiga belajar tentang pasar saham pada usia 16 tahun, istri saya kuliah lagi (dan menjadi mahasiswi yang paling tua di kelasnya). 


They all learn new things this year.


The question is ... Apa hal baru yang anda pelajari tahun 2021?


What is the new thing that you learn on 2021?


Your strength can kill you, if you are not ready to learn the new skills.


Your skills, your diploma, your certificate, will not be relevant in the future.


Kemampuan anda mempelajari hal yang baru akan menyelamatkan anda di masa depan!


Terus bagaimana dong untuk mengembangkan agility kita?

Kita bisa melakukan beberapa hal di bawah ini:


a) Learn something new everyday. 

Pelajari sesuatu yang baru setiap hari. Apa saja. Bisa bidang ilmu baru, olahraga baru, cabang seni baru, bahasa asing baru. Anything!

Ini akan melatih otak anda untuk selalu bersiap menerima dan mengolah informasi baru, yang belum pernah dipelajari sebelumnya


b) Challenge yourself. 

Bee, sebagai pramugari, dulu banyak belajar tentang bisnis di waktu senggangnya, sementara teman-temannya asyik main-main.

Anak saya belajar Finance untuk membuktikan apakah dia mampu menguasai ilmu lain selain Chemical Engineering.

Anak saya yang kedua belajar bahasa Perancis untuk membuktikan apakah dia mampu mempelajari bahasa Perancis yang katanya sulit.

Do not limite your challenges.

Challenge your own limit!


c) Add variety to your routine. 

Kerjakan sesuatu dengan cara yang berbeda.

Kalau anda terbiasa menggunakan slide pada saat presentasi, coba suatu saat gunakan story telling tanpa slide.

Kalau anda terbiasa berdiskusi menggunakan flip chart, coba gunakan Post-It.

Kalau anda terbiasa meeting dengan duduk, coba semuanya berdiri.

Dengan begitu, otak anda tidak melakukan sesuatu berulang-ulang.

Ingat repetitive and routinity are the enemy of creativity and innovations.


d) Be the dumbest person in the room. 

Kadang-kadang hadirilah meeting yang anda tidak familiar dengan isinya. Jadilah orang yang paling bodoh di meeting itu.  Kalau anda orang HR coba ikuti meeting sales. Kalau anda orang Finance coba ikuti meeting marketing. Kalau anda orang sales coba ikuti meeting compliance...etc ...etc...

Kalau anda merasa bodoh, anda akan mencatat, menanyakan kemudian dan mempelajari hal yang baru. Kalau anda merasa pintar, anda tidak merasa perlu belajar.

Jangan setiap meeting menjadi orang bodoh, tapi Dua atau tiga kali dalam seminggu, jadilah orang yang paling bodoh dalam ruangan itu, dan belajarlah!


Jadi ingat ya, untuk mengembangkan agility kita, kita bisa lakukan empat rekomendasi ini:


a) Learn something new everyday

b) Challenge yourself

c) Add variety to your routine

d) Be the dumbest person in the room, and learn


Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto


[Saya share dari grup ISWI Jawa Timur, karena beberapa kisah agak mirip-mirip (terutama soal HIMASALJU dan passion wkwk ini topik yang selalu seksi menurutku) dan bisa jadi refleksi sekaligus belajar dari sudut pandang lain yang mungkin sebelumnya belum pernah terpikir oleh saya sendiri. Semoga bermanfaat 🙏😇]

(Adm/Zan)

9/25/20

Download Buku Visi Trenggalek 2030


Barusaja berakhir diskusi virtual yang membahas mengenai Visi Trenggalek 2030.

"Kok adoh nemen yak sampek 2030?"

Itu pertanyaan yang sama ketika pertama kali dihubungi konsultan Markplus selaku penyelenggara. Namun penjelasannya cukup panjang dan 100% itu bukan ranah saya menjelaskan. Hehehe...

Tentu saja, visi ini tidak disusun dalam waktu semalam. Sebelumnya sudah ada riset yang dilakukan oleh tim Markplus selama 1 bulan dan juga rangkaian FGD yang diadakan secara daring.

Lalu, siapa yang terlibat dalam FGD itu? Ini dia datanya.

Paparan Markplus (25/09/2020)


Peserta yang terlibat dari latar belakang yang beragam. Terdapat internal dan eksternal stakeholder. Dan apa hasilnya? Rekan-rekan bisa unduh bukunya di bawah ini.
Pranala materi paparan narasumber Mochamad Nur Arifin, silahkan unduh disini.

Terima kasih sudah mampir.

 

9/13/20

Pantai Nggisik, Ngulungwetan, Munjungan

 

Pantai Nggisik atau Pantai Ngulungwetan, Munjungan, Trenggalek

Hampir setahun nggak ke pantai, akhirnya mencoba memenuhi asupan nutrisi vitamin sea. Haha..
Kali ini melipir ke salah satu pantai yang ada di kawasan Munjungan, Kabupaten Trenggalek. Karena kami belum terlalu familiar dengan jalanan menuju lokasi, sehingga kami pun diantar oleh teman yang tinggal di kawasan perbatasan Panggul-Munjungan. Kondisi jalan yang lumayan terjal dan berkelok-kelok membuat kami harus perlahan-lahan menyusuri jalan. Sehingga hampir total 3,5 jam barulah kami tiba di lokasi. Tapi kalau teman-teman yang sudah akrab dengan kondisi jalan Munjungan, katanya bisa lebih cepat sih.


Foto diambil dari pemilik akun instagram @mint_morris88

Sesampainya di lokasi, langsung saya terhipnotis dengan keindahan panorama di sana. Seolah terjalnya perjalanan terbayar lunas deh. Oiya, kalau meihat dari bentuknya sekilas seperti telaga atau semacam danau kecil ya (sisi kiri pada foto). Airnya beniiiiing bangeeett. Masih sangat natural dan bersih. Tepat di sebrang telaga terdapat pantai yang keindahannya tak kalah dengan pantai-pantai lain yang ada di Trenggalek. Berdasarkan informasi dari seorang teman yang juga warga lokal Ngulungwetan, ketika kondisi air sedang pasang maka air pantai akan menutup seluruh daratan telaga (yang berwarna hijau). Namun ketika kondisi tidak pasang, beruntung teman-teman akan menyaksikan keindahan panorama seperti foto di atas.

Warga lokal menyebut pantai ini dengan nama pantai nggisik, tetapi ada juga warga yang menyebut dengan nama pantai ngulungwetan. Meskipun belum secara resmi dibuka sebagai kawasan wisata, menurut warga setempat pantai ini sudah cukup ramai pengunjung terlebih di akhir pekan. Bahkan banyak muda-mudi yang menghabiskan waktu untuk camping pada hari Sabtu-Minggu di pantai tersebut.


Nah, untuk teman-teman yang penasaran dengan bagaimana situasi jalanan menuju Pantai Nggisik, bisa cek video di atas ya.

Jika kalian tertarik untuk datang ke Pantai Nggisik, tetap bantu menjaga lingkungan, kebersihan dan jangan membuang sampah sembarangan ya.

(Admin/Zan)

9/1/20

Keluarga "Dispenser"

 

Ada yang melabeli kategori keluarga itu ada 2. Yaitu keluarga "hangat" dan "dingin". Kayak dispenser yak *eh

Dan spontan keluar pertanyaan, "Keluarga hangat dan dingin itu yang bagaimana?". Dia memang tak pandai berkata-kata, jadi hanya nyeletuk, "ya pokoknya begitulah". Lalu mlengoslah dia. "Ciri-cirinya gimana wes yang hangat dan dingin itu?", tanyaku lagi berharap yang kali ini bisa terjawab.

Panjaaang kaliikk jawabannya. Dia yang bicaranya "irit" seketika bisa panjang dan no dead air ngomongnya. Singkatnya begini (supaya muat ditulis di caption), keluarga yang hangat itu penuh romantisme, menjunjung tinggi komunikasi antar keluarga, kira-kira kadar perhatian antar anggota keluarga bisa 70-95%.

"Contoh praktik secara tindakan yang nyata gimana?", tanyaku lagi karena ngerasa jawaban teoritis itu 'kesuwen' hehehe. Butuh contoh nyata.

Katanya, ya selalu meluangkan untuk makan bersama dalam 1 meja. Bagi keluarga ini, momen makan bersama adalah saat-saat dimana antara satu dengan lainnya bisa bercerita tentang aktivitas masing-masing atau bahkan jadi momen demokrasi dimana satu sama lain menyuarakan aspirasi. Karna begitu menjunjung tinggi komunikasi, anggota keluarga ini mengupayakan agar tidak telat bales chat kecuali lagi di jalan/ada agenda yang kurang memungkinkan jempol mengetik chat. Tidak heran jika hal sekecil dan sereceh apapun diceritakan antar anggota keluarga, ya karena faktor kebiasaan juga karna selalu terbuka. Benar-benar menomorsatukan komunikasi dan juga kebersamaan bahkan menjadwal setiap 1x dalam seminggu harus ada agenda JAJAKA (Jalan Jalan Keluarga). Katanya itu akan jadi momen langka terlebih ketika anak-anak sudah kuliah jauh, bekerja apalagi menikah. Mumpung masih ada kesempatan, maka momen kumpul keluarga jadi skala prioritas kuadran 1. Ketika mendengar ini, teringat keluarga di film NKCTHI. Sosok ayah yang pengennya selalu bersama-sama memanfaatkan momen dengan keluarganya. Bahkan ngerjain tugas si bungsu aja juga berjamaah sekeluarga kan.

Nah, ku jadi nyeletuk, "Kalau keluarga yang ber-AC alias "dingin" tadi apa kebiasaan makannya terpisah gitu (nggak semeja)?". Dia mengangguk. Makannya ya bisa nomaden dan LDR. Bisa jadi ayah makan di ruang tv, ibu di meja makan, kakak di dalam kamar, adik di ruang tamu. Wes mencar-mencar dengan mencari PW-nya (posisi wenak) masing masing. Kalau pun ketika anggota keluarga ini ingin membahas sesuatu, kepala keluarga perlu mengadakan panggilan khusus dan kemudian berkumpullah keluarga itu dalam satu ruangan. Itu pun kadang bukan duduk di satu meja atau sejajar di sebuah kursi/sofa. Mereka tetap mencari posisi PW-nya masing-masing. Ada yang ndlosor di lantai karena katanya 'isis' (adem, maklum keluarga "dingin" wkwk), ada juga yang posisinya sambil 'jigang', ada yang posisi duduknya paripurna, ada juga yang senden (bersandar) tembok. T'rus kadang yang diceritain adalah hal-hal yang krusial dan perlu-perlu aja untuk diceritain. Kalau anggota keluarga ada masalah, mengedepankan penyelesaian masalah secara mandiri dulu. Kalau selesai ya sudah, cenderung disimpan sendiri. Kalau belum bisa nyelesaiin mandiri, barulah ngomong ke keluarga. Semoga bisa dibayangkan. Lumayan susah ya nyeritain lewat ketikan jempol. Hehehe... Lanjut.

Lalu di keluarga ini, hakikat "late response" apalagi tidak balas chat adalah sesuatu yang plat mobil Jakarta alias B aja. Bukan kemudian dijadikan sebuah alasan untuk komplain atau malah berantem. Misal ketika ayah menghubungi si kakak, dan dalam waktu sangat lama tidak dibalas, ya si ayah langsung telepon. Ketika diangkat ya pertanyaannya "lagi sibuk apa ini?" dan bukan pertanyaan "kok chatnya ndak dibalas?" dan nggak juga ada pertanyaan "kok chatnya nggak direspon, apa chatnya ketelen chat grup? Apa ayah bukan prioritas kamu?". Dudududu.... ya intinya antar keluarga saling paham dengan kesibukan, dan meletakkan porsi komunikasi dengan kadar senormalnya bagaimana antar keluarga berinteraksi, mungkin skalanya ada di kudran 2 atau 3. Nah perkara liburan, keluarga dingin ini tidak terlalu saklek dengan perkara kumpul bersama dalam tajuk jalan-jalan. Bahkan keluarga ini cenderung bukan pelaku travelling. Tidak heran kalau stock foto keluarganya limit. Paling setahun kumpul bareng jalan-jalan bisa 1x doang atau malah setahun nggak kemana-mana. Hanya di rumah, membiarkan antar anggota keluarga menikmati zona nyaman dan PW-nya masing-masing.

Nah, ternyata percapakan ini masih ada sambungannya. Situasi keluarga seseorang tumbuh, bisa jadi mempengaruhi referensi seseorang dalam menjalin hubungan asmara ketika dia dewasa. Jadi kalau misal si A tumbuh di antara keluarga "hangat", maka bisa jadi referensi dia menjalin hubungan ya seperti itu. Karna tumbuh di tengah keluarga yang penuh romantisme, akhirnya dia jadi sosok yang romantis bahkan diam-diam bisa juga sesekali menjadi pujangga. Senang makan bersama, ngobrol/diskusi saat momen makan, kurang suka kalau chatnya dicuekin dan biasanya dia akan murka kalau misal pacarnya nggak bales chat karena "chatnya tenggelam", bisa-bisa si A ini akan minta contactnya di pin biar muncul paling atas. Apalagi kalau seharian nggak ngabarin, siap-siap mulai ada sedikit komplain. Apalagi udah nggak ngabarin blass tapi update status, waduh bisa muncul kalimat pamungkas "ngasih kabar nggak sempet tapi update status masih sempet" *duaarrrr Dan kalau jalan-jalan sukanya tanpa main gadget, bener-bener quality time. Beda lagi kalau si B tumbuh dari keluarga "dingin". Ya makan sendirian juga tatag tetap tangguh, kalau makan bersama ya bisa tapi tidak heran kalau sambil makan masih pecah fokus dengan pekerjaan akhirnya sambil ngobrol juga sambil balas chat client. Seringnya kurang bisa romantis apalagi puitis, tipikal frontal polos apa adanya, tambah susah kalau harus pakai diksi konotasi. Lalu telat balas chat/pesan itu ya karna kondisinya masih hectic atau kurang memungkinkan untuk membalas pesan dengan kilat dan itu kondisi plat mobil Jakarta menurut dia. Dan begitu-begitulah.

Trus kan jadi berimajinasi. Kalau si A dan si B ini menjalin hubungan, hampir dipastikan selalu ada saja crash ketika masa-masa awal adapatasi antara satu sama lain.

Ini bukan soal mana keluarga yang paling ideal.
Cara pandang A melihat dunia, akan berbeda dengan si B. Contohnya dalam hal komunikasi tadi.

Sudut pandang orang beda-beda ya. Kayaknya sudut pandang juga bisa terbentuk dari field of experience dan frame of refference yang tiap orang berbeda-beda. Penting juga menghargai perbedaan sudut pandang.

Kalau kalian termasuk yang mana? Hangat, dingin apa membeku? Hehehe...

Terima kasih sudah mampir.

7/22/20

Pengalaman Seleksi Kerja di Infomedia Humanika Solution (2)


Ketika saya tulis 2017 lalu tentang pengalaman seleksi kerja di Infomedia Humanika Solution, saya tidak menyangka akan dikunjungi oleh puluhan ribu pembaca. Bahkan beberapa tahun terakhir, banyak DM masuk melalui instagram saya beberapa pertanyaan dari peserta seleksi kerja ISH. Dan lagi, dalam kurun waktu kurang 1 minggu dalam minggu ini sudah ada 3 penanya yang juga peserta recruiter ISH dengan posisi CSR Telkom.

Karena beberapa pertanyaannya, cukup lumayan panjang akhirnya saya inisiatif untuk membuat tulisan ini sebagai lanjutan tulisan sebelumnya berjudul Pengalaman Seleksi Kerja ISH (1)


Ini pertanyaan yang lumayan banyak masuk ke DM, "apakah interviewnya menggunakan bahasa inggris?" atau "Apakah harus berbahasa inggris ketika interview user (tahap akhir)?"

Nah, saya akan menjawab sesuai pengalaman saya saat interview tahun 2017. Dan bisa saja di tahun 2020 atau tahun selanjutnya berbeda. Tulisan ini bisa dijadikan referensi namun tidak menjamin 100% akan sama dengan proses seleksi ISH saat ini. Biasanya setiap perusahaan/institusi memperbaiki strategi untuk recruitment kerja dari tahun ke tahun. Karena kejadiannya cukup lama, semoga saya masih bisa mengingat-ingat dengan baik.

Saat saya mengikuti seleksi interview tahap awal, saya diminta untuk memperkenalkan diri dengan bahasa inggris. Hanya itu saja. Selebihnya tanya jawab dengan staff ISH menggunakan bahasa Indonesia.

Namun pada saat interview user, salah satu pewawancara meminta saya untuk menjawab semua pertanyaan dengan bahasa inggris meskipun pewawancara bertanya dalam bahasa Indonesia. Tetapi ketika saya mencoba bertanya dengan teman-teman yang sama-sama lolos sampai tahap interview user, ada teman yang tidak menjawab pertanyaan wawancara dalam bahasa inggris. Memang tugas CSR rata-rata yang kita layani adalah pelanggan lokal sehingga lebih cenderung menggunakan bahasa Indonesia. Namun saat saya masih menjadi CSR dan ditempatkan di Plaza Telkom Manyar, Surabaya, saat itu saya pernah melayani 2 pelanggan foreigner. Satu berasal dari Thailand, kalau tidak salah mereka mengenyam pendidikan di salah satu pondok pesantren di Indonesia. Karena baru pindah dan menempati rumah kontrakan, mereka memasang internet indiHome. Lalu satu lagi seorang pekerja asing (saya agak lupa asalnya darimana). Dia bekerja di Indonesia dan tinggal di sebuah apartemen. Namun internet indiHome di apertemennya muncul LOS merah, sudah berulang kali dilaporkan namun tidak ada tindakan perbaikan. Ternyata setelah saya cek, jaringannya masih menggunakan tembaga, belum fiber optic. Namun ternyata dia sudah meminta migrasi ke fiber optic, namun ODP di kawasan apartemennya penuh. Sehingga jaringan internetnya bermasalah selama beberapa minggu. Nah, ini salah satu pentingnya menguasai bahasa asing. CSR harus siap untui melayani pelanggan bahkan foreigner sekalipun.


Pertanyaan berikutnya, banyak calon peserta interview ISH menanyakan mengenai jobdesc seorang CSR. Nah, untuk mendapatkan referensi dan informasi lebih lengkap, teman-teman juga bisa browsing di internet mengenai jobdesc seorang CSR Telkom Plaza.

Tapi alangkah lebih baik, sebelum memutuskan untuk mendaftar sebagai CSR Telkom, kalian bisa browsing informasi lengkap mengenai tugas utama seorang CSR.

Tapi berdasar pengalaman, inti peran dari seorang CSR Telkom adalah menjadi garda terdepan dalam pelayanan kepada pengguna layanan Telkom. Seperti melayani PSB (pemasangan paru internet), pencabutan layanan, balik nama, pindah jaringan telepon, ganti paket layanan, dan jika ada permasalahan dengan tagihan pelanggan maka seorang CS juga wajib membantu untuk menyelesaikan komplain pelanggan tersebut.

Pertanyaan lain yang banyak diajukan oleh teman-teman melalui DM instagram adalah seputar gaji. Nah, kebetulan karena penempatan saya di Plaza Telkom yang ada di wilayah Surabaya sehingga untuk gaji mengikuti UMR Kota Surabaya ya. Dan seingat saya masih ditambah dengan uang bensin dan makan. Bahkan masih ada tambahan ketika hari raya/lembur (masuk kerja saat libur nasional atau shift di hari raya). Semoga saya tidak salah ingat hehehe.. karena sudah beberapa tahun lalu, jika saya keliru mohon dibenarkan melalui kolom komentar ya. Bagi fresh graduate, posisi dan penghasilan dari CSR Telkom sepertinya sudah cukup lumayan. Jika teman-teman berminat untuk menjadikan pengalaman di CSR Telkom sebagai batu loncatan untuk bekerja sebagai teller atau pekerjaan yang berhubungan dengan front liner, pengalaman sebagai CSR Telkom akan sangat berharga. Terlebih menjadi CS Telkom wajib menguasai hampir puluhan aplikasi. Sehingga ketika berpindah kerja menjadi teller atau posisi serupa sudah terbiasa dengan penggunaan berbagai aplikasi. Tenang, aplikasi-aplikasi ini tentu diajarkan di masa training kok.

Sedangkan untuk jam kerja, kurang lebih 8 jam per hari. Per harinya untuk istirahat per CS selama 1 jam secara bergantian dengan satu rekan CS lainnya. Masuk setiap hari Senin-Jumat 07.00 - 16.00 WIB dan Sabtu masuk setengah hari, biasanya jam 07.00 - 12.00 WIB. Semoga saya tidak salah ingat lagi hehehe. Maklum sudah lama banget resign dari sana. Ini pengalaman saya penempatan di Plaza Telkom ya. Berbeda dengan penempatan CS di mall, maka jam operasionalnya akan mengikuti dengan jam buka-tutup mall tersebut.

Jika teman-teman ada pertanyaan, silahkan DM ke instagram @zanza_bela.

Terima kasih.