1/14/19

Hijab Batik AlabelaID dalam Koran Surya


Alabela ID di Harian Surya edisi 15 Januari 2019

Hijab Batik Alabela ID, lagi-lagi berbagi cerita dengan pembaca harian Surya dan Tribun news. Yaps, mengulang awal mula bagaimana akhirnya tercetus ide untuk menciptakan brand AlabelaID dan produk pertama yaitu Hijab Batik. Jika beberapa orang menginisiasi sebuah 'usaha' dengan memanfaatkan 'peluang' atau mengandalkan 'passion', maka saya mencoba unsur 'prihatin' untuk menjadi cikal bakal memulai Alabela ID. Ulasan selengkapnya bisa klik di sini atau download di sini.

Salam.
11/28/18

Gen Z Preneur, Boost Your Impact 2018


Siap menambah wawasan dan pengalaman baru?

*) Pendaftaran workshop public speaking (untuk umum), isi form pendaftaran di sini.

*) Pendaftaran lomba ide kewirausahaan (untuk mahasiswa ITATS), isi form pendaftaran di sini.

Gen Z Preneur, Boost Your Impact merupakan acara perdana yang diinisiasi oleh Ikatan Duta ITATS untuk membantu dan memberikan pembelajaran soft skill yaitu public speaking sekaligus memberi kesempatan bagi wirausaha muda ITATS yang memiliki project atau ide kreatif untuk mematangkan ide bisnis serta menambah wawasan dengan coaching secara langsung dengan wirausaha muda yang ada di Surabaya.

Acara ini terdiri dari 3 sub kegiatan, yaitu :
1. Public speaking workshop (untuk mahasiswa ITATS dan terbuka untuk umum)
2. Open Talk dengan tema "Boost Your Impact"
3. Business plan competition (khusus mahasiswa ITATS)

Biaya pendaftaran untuk peserta workshop (terbuka untuk umum) :
1. Pre sale 1 : 50 K (hanya sampai 2 Desember)
2. Pre sale 2 : 60 K (3-9 Desember)
3. On The Spot : 70 K ( 11 Desember)

Biaya registrasi kompetisi ide kewirausahaan (khusus mahasiswa ITATS) :
 1. Individu : 75 K
 2. Kelompok (maksimal 3 orang): 100 K

Informasi terkait mekanisme lomba, silahkan download di sini: Teknis Kegiatan Gen Z Preneur 2018.

Juara lomba kewirausahaan yang akan dipilih adalah sebanyak 3 peserta (baik tim maupun individu) dengan nama juara sebagai berikut :
1. Kategori Best Project (1 peserta/individu/tim)
2. Kaategori Best Presentation (1 peserta/individu/tim)
3. Popularity project atau project terfavorit berdasarkan vote dari instagram dan pilihan dewan juri (1 peserta/individu/tim)

Informasi dan pendaftaran kegiatan bisa menghubungi narahubung:
Firda : +62 838-5777-8808 (WA)
Grace : +62 856-4582-3158 (WA)
Instagram: @dutaitats

Terima kasih dan sampai jumpa.





10/12/18

Mudahnya Mengurus Visa Waiver

Hai traveller... halo exchanger.
Tulisan kali ini, akan bercerita tentang pengalaman penulis saat mengurus visa waiver untuk tujuan ke negeri Sakura, yaps Jepang.

Sering ya mendapat gossip dan berita simpang siur tentang pembuatan visa waiver? Saya pun juga begitu. Satu hari sebelum mengajukan visa waiver, penulis dihantui oleh beberapa cerita takhayul dari beberapa teman kalau mengurus visa waiver 'dipersulit'. Meskipun sempat was was dan pesimis, tapi penulis pun mencoba hari ini untuk mengurus visa waiver di Konjen Jepang, Surabaya.

Berbekal google maps, saya pun menuju ke kantor konjen pukul 07.00 WIB yang beralamat di Jl. Sumatera No. 93, Gubeng, Surabaya. Sesampainya disana, masih tutup euy. Kantornya buka pukul 08.15 WIB. Kerajinan yang haqiqi, hehehe. Lebih baik datang awal kan, daripada antri belakangan. Setelah menunggu kira-kira hampir 60 menit, kantor pun dibuka. Saking excitednya, difoto nih nomor antriannya. Nol nol satu, rajin benerrrrrr.


Semua jenis barang elektronik seperti kamera, handphone dan powerbank harus dititipkan ke security. Setelah itu, kalian mengisi buku tamu dan menjelaskan keperluan kalian ke konjen untuk mengajukan/mengambil visa, atau keperluan lainnya. Barulah kalian mendapatkan tanda pengenal, dan kalian menuju security check lalu diarahkan ke bagian pengurusan visa.

Begitu masuk ruangan, jangan lupa untuk langsung mengambil nomor antrian. Nanti bisa-bisa kalian nggak akan dipanggil petugas jika tidak mengambil nomor antrian. Hehehe... Begitu giliran saya dipanggil, saya mengeluarkan paspor dan form pengajuan visa waiver. Dan ternyata form saya salah.

Saya mengisi form pengajuan dengan tujuan ke Jepang lebih dari 15 hari. Sedangkan seharusnya saya mengajukan untuk kunjungan kurang dari 15 hari. Tapi tenang, petugas langsung memberikan form baru, dan selesai. Visa jenis ini akan bisa digunakan untuk beberapa kali (multiple) kunjungan ke Jepang selama 3 tahun (atau sampai batas berlaku paspor. Jika paspor berlaku kurang dari 3 tahun maka mengikuti masa berlaku terpendek). Ya, meskipun setelah tahun ini saya belum ada rencana untuk ke sana lagi, nggak apa-apa lah. Siapa tahu tahun depan dapat 'durian runtuh' dan bisa ke Jepang lagi. Hehehe.. Form pengajuan dan tata cara pendaftaran bisa di lihat di sini.

Oiya, untuk pengajuan visa waiver ke Jepang dengan durasi masa tinggal kurang dari 15 hari (seperti saya), tidak perlu melampirkan pas foto ya. Hanya form pengajuan dan e-passport saja. Dan gratis!

Setelah menunggu beberapa menit, taraaaaa, tanda terima permohonan visa sudah di tangan. Visa bisa diambil hari Senin siang sesuai jam yang tertulis dalam form. Yeayyy. Jepang, aku dataaang. Pengurusan visa selesai diproses 2 hari setelah hari pengajuan. FYI, barangkali jika teman-teman berhalangan untuk mengambil visa di hari yang ditentukan petugas tersebut (H+2), maka visa masih bisa diambil dengan tenggang waktu maksimal 7 hari kemudian setelah hari pengajuan. Atau untuk memastikan ke petugas, bisa menghubungi pihak konjen terlebih dulu di nomor (031) 5030008.

Tanda Terima Permohonan Visa

Ternyata tidak susah. Dan petugasnya menjelaskan alur pengajuan dan informasi terkait visa dengan ramah.


Untuk pengambilan visa, boleh diwakilkan. Asalkan membawa bukti tanda terima permohonan visa. Ingat, jangan sampai melebihi 7 hari dari tanggal pengajuan ya.

Semoga bermanfaat.

(Admin/Zan)
10/10/18

Relasi Fenomena 'Kue Artis' dengan Gaya Hidup


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, oleh-oleh diartikan sebagai buah tangan atau sesuatu yang dibawa dari bepergian. Salah satu buah tangan yang dipilih selain berupa souvenir adalah makanan atau jajanan khas daerah. Namun seiring dengan perkembangan bisnis kuliner saat ini, muncul fenomena oleh-oleh kekinian. Bisnis ini diinisiasi oleh artis atau public figure. Dalam kajian kebudayaan, perilaku para pemilik usaha kue dari kalangan artis ini menawarkan konsep bisnis kue kekinian. Terlebih dengan perilaku masyarakat modern yang melakukan konsumsi tidak hanya terpaku pada pemenuhan kebutuhan fungsional saja, tetapi juga menunjukkan identitas diri dengan benda-benda yang dikonsumsi termasuk juga dalam hal ini pemilihan makanan sebagai oleh-oleh.

Pemilihan jenis oleh-oleh dulunya melihat sesuatu yang khas dari tempat atau daerah yang dikunjungi. Oleh-oleh pada taraf pemenuhan fungsional sebagai buah tangan dari tempat bepergian dirasa cukup dengan membeli di toko-toko lokal. Namun pada saat ini ada perilaku konsumen yang sengaja memilih oleh-oleh dengan alasan tertentu. Seperti alasan adanya unsur ngetren, kekinian, hits, tidak ketinggalan jaman, kesan berkelas yang kemudian merujuk pada pemenuhan kebutuhan konsumsi masyarakat modern. Pemilihan alasan tersebut sudah melebihi fungsi oleh-oleh sebagai buah tangan dari bepergian. Hal ini menegaskan kebiasaan masyarakat konsumtif yang melakukan kegiatan konsumsi tidak lagi berlandaskan kebutuhan dasar manusia. Pemilihan dan alasan kemudian merujuk pada perilaku yang berorientasi untuk menarik perhatian, menunjukkan identitas diri sehingga dapat dikatakan sebagai gaya hidup. Keinginan seseorang untuk berperilaku konsumsi dan akhirnya menentukan pilihan-pilihannya dipengaruhi oleh gaya hidup (Kasali, 1998).

Jika dikaitkan dengan teori masyarakat konsumsi yang dikemukakan oleh Jean Paul Baudrillard yaitu konsep pergeseran orientasi konsumsi masyarakat dari yang semula berbasis kebutuhan hidup (needs) menjadi gaya hidup (life style). Masyarakat modern lebih terpaku kepada konsumsi simbol dibanding nilai kegunaan. Akibatnya, orang lebih memilih produk kue ‘kekinian’ (yang ini sudah berisi unsur nilai gaya hidup) daripada membeli kue lokal atau dari bakery biasa. Pada fenomena kue selebriti sebagai oleh-oleh kekinian ini tidak terlepas dari penanaman konstruksi kesadaran masyarakat bahwa oleh-oleh kekinian adalah berupa kue dan merupakan produk bisnis yang diinisiasi oleh artis, tidak ketinggalan jaman dan sedang ngetren atau kekinian. Kehadiran beberapa bisnis kue di berbagai daerah di Indonesia yang diinisiasi oleh kalangan selebriti telah menjadi komoditas baru yang berhasil masuk dalam persaingan bisnis kuliner modern. Cara iklan dan promosi yang gencar dengan bahasa dan desain yang menarik adalah strategi untuk menarik pelanggan. Selain itu, nama besar selebriti juga menjadi komoditas pula yang turut menyumbang keberhasilan dalam strategi pemasaran dan penjualan.


Referensi :
Baudrillard, J. 1998. The Consumer Society. London: Sage Publication Ltd
Chaney, D. 1996. Lifestyles Sebuah Pengantar Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra
Featherstone, M. 2001. Postmodernisme & Budaya Konsumen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Kasali, R. 1998. Membidik Pasar Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Umum.
Pertiwi, G. I. 2015. Perilaku Konsumtif dan Bentuk Gaya Hidup. Malang: Universitas Brawijaya
Soedjatmiko, H. 2008. Saya Berbelanja Maka Saya Ada: Ketika Konsumsi dan Desain Menjadi Gaya Hidup. Yogyakarta: Jalasutra
Suyanto, B. 2014. Sosiologi Ekonomi Kapitalisme dan Konsumsi di Era Post-Modernisme. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Terima kasih sudah mampir.

(Admin/Zan)
9/19/18

Asuransi Sambil Berwakaf

Touch of Yellow (Doc. Hijabee Surabaya)

Sering ya membaca tulisan "tanah ini diwakafkan" di tengah lahan luas.

Ketika disebutkan kata “wakaf”, apa hal pertama yang terlintas di pikiran kalian?

Ehmm.. mungkin sebidang tanah atau pembangunan masjid ya?

Nah, berbicara tentang wakaf nih, kalian sudah tahu belum kalau ternyata wakaf dan asuransi bisa dilakukan dalam waktu yang bersamaan?

Sudah ada nih produk asuransi yang sekaligus memungkinkan pemegang polis untuk berwakaf. Salah satu produknya adalah Asuransi Brilliance Hasanah Maxima (ABHM) dari @sunlife_id. Melalui produk ini, pemegang polisi mendapat tiga pilihan untuk mewakafkan manfaat asuransinya.

Pertama, nasabah yang masih hidup bisa mewakafkan dana investasinya. Yang kedua, nasabah baru bisa mewakafkan dana dari asuransinya ketika sudah meninggal. Dan pilihan terakhir, ada asuransi wakaf berjangka. Nasabah bisa berwakaf setiap bulan bersamaan dengan pembayaran ansuransi (dream.co.id)

Asuransi Brilliance Hasanah Maxima merupakan produk asuransi syariah yang menyatukan antara manfaat asuransi dan fasilitas wakaf untuk memaksimalkan potensi kehidupan Anda dan keluarga, kini dan masa yang akan datang. Lalu dana wakaf tersebut akan disalurkan untuk digunakan pada Rumah Sakit Dhuafa AK Media Sribhawono yang terdapat di Lampung Timur.

Menurut MUI, program wakaf  sekaligus asuransi yang dilakukan Sunlife merupakan program positif dan perlu dilakukan oleh pihak lain (www.salmanbiroe.com).



Oiya di acara ini, ada doorprize juga lho untuk 2 penanya dengan pertanyaan terbaik versi penyelanggara acara. Awalnya aku bertanya karena memang ingin tahu, tapi ternyata beruntung dapat hadiah. Apalagi hadiahnya produk Laneige. Yaakk, sejujurnya 1 bulan lalu berniat beli produk ini karena dapat info dari teman kalau ada promo 500K. Nahan dulu, dan justru sebulan kemudian dapat secara cuma-cuma. Alhamdulillah. Lho kok jadi curcol, hehehe.

Foto bersama Jenahara Nasution
Oiya, di acara ini ada fashion designer hits yang hadir lho. Yaps, kak Jenahara yang juga berbagi pengalamannya berwakaf dan asuransi. Selain itu, kak Jenahara juga sedang mendirikan komunitas yang menggalakkan gerakan berwakaf lhooo (mengkampanyekan gerakan ayo berwakaf). So inspiring.

Terima kasih Sun Life dan Kak @jenaharanasution sudah berbagi. Dan terima kasih @dreamcoid sudah mengajak kami bergabung di acara ini 😄

Terima kasih telah membaca.
9/2/18

Lokakarya Wirausaha USAID


Hari ini adalah hari terakhir saya mengikuti kegiatan lokakarya kewirausahaan yang diadakan oleh Yayasan Prestasi Junior Indonesia USAID. Acara ini dilaksanakan mulai tanggal 1 September 2018 di Aula Prigi, Bukit Jaas Permai. Dan ternyata, acara kewirausahaan ini sudah pernah dilaksanakan sebelumnya namun dengan tajuk yang berbeda dengan gelombang kedua. Jika gelombang 1 tajuk acaranya adalah pelatihan kewirausahaan dan ada masa bimbingan sampai September 2018, untuk tajuk acara gelombang 2 hanya sebatas lokakarya motivasi kewirausahaan saja. Saya pun baru mengetahui ini di hari pertama kegiatan dimulai. Memang agak menyayangkan, karena bimbingan berkelanjutan itulah yang saya harapkan namun segala bentuk kegiatan positif saya rasa tidak pernah ada yang sia-sia. Hehehe...

Melalui lokakarya ini, saya bertemu dengan 250 muda mudi Trenggalek yang produktif dan kebanyakan dari mereka sudah memulai usahanya. Ada yang budi daya jamur, supplier sayur mayur dan buah-buahan, pengolah hasil ikan laut, usaha boneka kayu, boneka flanel, konveksi, pembuat aksesoris, dan lain sebagainya. Dari jejaring ini saya berkesempatan untuk menjalin rekanan dengan sesama pelaku usaha. Selain jejaring yang luas, saya juga berkesempatan untuk mendapat bimbingan dari fasilitator dan coach yang sudah berpengalaman di bidang kewirausahaan.

Namun ada beberapa peserta yang belum memulai wirausaha tetapi memiliki keinginan untuk berwirausaha. Dalam lokakarya tersebut, pemateri memberikan motivasi untuk para pemula seperti ini. Bagaimana memulai berwirausaha sesuai passion, bagaimana membaca peluang, bagaimana cara menggali ide atau inspirasi wirausaha, bentuk wirausaha seperti apa yang potensial di Trenggalek dan perkembangan jenis wirausaha saat ini di era millenial. Pesan pemateri yaitu mas Syafril (ternyata dosen FIB UNAIR, haha.. ketemu satu almamater) tentang memulai wirausaha, yang utama adalah melihat passion dan peluang. Dari hal-hal yang kita suka yaitu passion, kita akan menikmati apapun jenis usaha yang kita bangun dari nol. Karena menjadi seorang wirausaha itu jatuh bangun, ketika jatuh karena memperjuangkan passion atau memperjuangkan hal yang disukai biasanya waktu yang dibutuhkan untuk bangkit dan menyemangati diri sendiri lebih cepat. Daripada memperjuangkan hal yang tidak disukai, meskipun dalam kondisi tertentu ini relatif dan tergantung masing-masing individu. Seperti misalnya kita melihat peluang usaha yang menjanjikan. Belum tentu, peluang usaha yang kita temui sejalan dengan passion kita. Namun, peluang ini cukup menjanjikan untuk dijadikan basis wirausaha. Nah, ini bisa juga dijadikan pertimbangan kalian sebagai ide wirausaha.

Untuk contoh berwirausaha sesuai passion, saya rasa ini cukup mudah ditemui di sekitar kita. Misalnya, Bu Ami memiliki hobi memasak, dia ingin berwirausaha yang tidak jauh dari kegemarannya itu. Lalu, dia memutuskan untuk menekuni masak sebagai passion, bahkan Bu Ami mencoba berbagai resep masakan. Lalu memulai membuka usaha catering. Oiya, dari paparan materi di lokakarya tersebut saya juga jadi sedikit paham tentang perbedaan hobi dan passion. Dan ternyata sesuai dengan apa yang saya rasakan. Perbedaan hobi dan passion cukup kontras. Hobi adalah sesuatu yang dilakukan saat waktu luang dan biasanya cenderung hanya menghabiskan uang. Tetapi passion adalah gairah hidup seseorang yang justru bisa menghasilkan uang. Nah... mulai melihat ke cermin, yang saya lakukan selama ini hobi atau passion ya? Hehehe....

Dalam tulisan ini saya juga menambahkan dari sudut pandang saya, bahwa dengan passion kalian juga bisa menciptakan peluang. Gali dan terus berkreasi dengan passion-mu. Fokus dan lakukan apapun yang menjadi passion-mu penuh totalitas. Selain itu, kalau 2P dari narasumber untuk memulai wirausaha adalah passion dan peluang. Saya menambahkan 1P lagi, yaitu prihatin. Bisa juga kita memulai wirausaha karena keprihatinan atau permasalahan tertentu. Ini berdasar pengalaman saya sendiri. Di tahun 2015, saya prihatin dengan harga jual batik tulis di Trenggalek yang sangat murah jika dibandingkan dengan harga jual seharusnya di daerah lain. Dari situ, saya berpikir untuk membuat batik sebagai trend fashion yang anti mainstream dan bisa berdaya jual tinggi. Muncullah ide membuat Hijab Batik saat itu. Lalu, keprihatinan berikutnya adalah "kenapa ya, kok delegasi Kab. Trenggalek yang maju ke ajang Raka Raki, skill untuk berbicara di depan umum tidak se-menter perwakilan Kota Malang, Surabaya, atau daerah yang cetar itu?" Wkwkwk... Lalu ditambah dengan beberapa kali kesempatan saya melihat bagaimana kemampuan berbicara di depan umum para anak muda di Trenggalek (sepengalaman saya saat bertemu beberapa anak muda meskipun tidak gebyah uyah semuanya ya) yang kurang mampu mempengaruhi audience. Ditambah dengan kenyataaan durjana, yang menganggap bahwa kemampuan dalam berbicara di depan umum (bagi kebanyakan masyarakat Trenggalek) bukan hal yang penting, akibatnya banyak yang ngomongnya masih belepotan. Eiimmm.... Jika mendengar istilah public speaking, mereka selalu berpikir itu keterampilan hanya untuk MC, presenter atau orang-orang di dunia entertainment. Ehmmm... Dari keprihatinan itulah asal usul ingin membuka kelas public speaking, siapa tahu nanti bisa punya sekolah public speaking sendiri. Aamiin.. semoga ya. Untuk soal ini tidak ditulis lebih detail lagi, curhatan khusus tentang public speaking sudah diunggah di tulisan sebelumnya. Hehehe...

Kelompok 3 "BERANI"

Oiya, di akhir kegiatan ini kami diminta untuk memuat peta mimpi. Apa mimpi wirausaha yang sudah atau ingin direalisasikan dan bagaimana target mimpi itu untuk 10-15 tahun ke depan. Wuhuuu... saya langsung bingung, mau bikin apa yak waktu itu. Wkwkwk... Dengan kekuatan kepepet dan gonjreng gonjreng, akhirnya jadi ala kadarnya. Taraaaaa.. (maaf super tidak genah).

Ini tentang ALABELA ID, ada onlineshop Gabucu yang sudah dimulai sejak 2012 (menjual daily hijab, instan hijab, baju kekinian, dll); modern ethnic fashion yang dimulai tahun 2015 (Hijab Batik & Lurik) dan rencananya ingin buka kelas untuk belajar public speaking di Trenggalek. Untuk public speaking ini sudah mulai ngasih workshop dan ngisi materi di beberapa acara sejak 2015, tapi niat untuk istiqomah mengadakan kelas secara rutin baru dimulai 2018 ini. Doakan ya netizen yang budiman. Mungkin 10 tahun lagi, aku akan ngakak so hard membaca tulisan ini, "eeee ternyata aku dulu tukang mimpi". Wkwkwk...

Oke, sekian curhat di tulisan ini. Terima kasih telah membaca.
Wujudkan cita-cita Indonesia Berwirausaha :)

Salam sukses!
9/1/18

Hijab Batik AlabelaID versi Majalah Peluang


Menceritakan kembali bagaimana memulai perjalanan Alabela ID tahun 2015 lalu dengan wartawan Majalah Peluang.

Terima kasih Majalah Peluang.

Baca cerita tentang Hijab Batik AlabelaID dengan klik di sini atau download file pdf.

Terima kasih telah membaca.