9/14/17

Peringatan Hari Remaja Internasional

"Saya Indonesia. Saya Remaja. Saya Berkualitas"
Hari Minggu, tanggal 3 September lalu Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kab. Trenggalek menyelenggarakan acara Talkshow Remaja Hebat dalam rangka memperingati Hari Remaja Internasional yang diselenggarakan di Hutan Kota Trenggalek. Acara ini diadakan dengan mengambil tema "Saya Indonesia, Saya Remaja, Saya Berkualitas" dan dihadiri oleh ratusan pelajar SMA dan SMK se-Kab. Trenggalek.
Narasumber Talkshow Remaja Hebat
Dalam acara ini hadir pula remaja-remaja berprestasi yang berbagi pengalaman dan cerita inspiratif bagi pelajar-pelajar yang hadir dalam acara tersebut. Mereka saling menyampaikan makna Remaja Berkualitas berdasarkan pengalaman mereka dan juga berbagi kisah tentang kegiatan dan bentuk kontribusi mereka dari berbagai sektor yang berbeda. Seperti di bidang pariwisata, budaya, program generasi berencana, literasi dan penerbitan, peningkatan soft skill, dan lain-lain.
Mereka adalah Kurnia Septa Erwida (Harapan 1 Raka Jawa Timu 2017) yang berbagi mengenai wujud kontribusi pemuda dalam melestarikan budaya Indonesia. Lalu Fitriana Wahyu (Juara 1 Duta Mahasiswa GenRe Jawa Timur 2016) yang berbagi tentang aksi remaja dalam mewujudkan Generasi Berencana dan Generasi Emas 2020. Kemudian Berdit Zanzabela (Ketua Umum Gramuda Sabudarta Indonesia) yang berbagi tentang pengalaman dan peran generasi muda di bidang pariwisata, budaya hingga peningkatan soft skill. Serta Haydar Iskandar (Penggerak GenRe se-Jawa Timur) yang berbagi aksi-aksinya di bidang literasi hingga kegiatan-kegiatan genre yang ia rangkum dalam nama Aksi Baik.
Melalui kegiatan ini, diharapkan semakin banyak generasi muda Trenggalek yang menjadi sosok pemberi solusi bagi permasalahan yang terjadi di masyarakat, terlepas apapun latar belakang pendidikan, bentuk kontribusi sesuai keterampilan dan kemampuan mereka. Dimulai dari niat baik, diiringi dengan aksi baik dan dilakukan secara periodik maka akan banyak kontribusi nyata untuk Trenggalek dan Indonesia yang lebih baik.

Tim Talkshow remaja
Bersama pelajar Insan GenRe Trenggalek
7/31/17

Pagelaran Seni Tari Trenggalek 2017 di TMII

Drama Tari "Kolo Srenggi"

Meriahnya Pagelaran Seni Kab. Trenggalek 2017.

Acara yang diadakan dalam rangka pertunjukan tari daerah dan temu kangen IKAT (Ikatan Keluarga Asal Trenggalek) se-Jabodetabek ini turut dihadiri oleh Bapak Emil Dardak selaku Bupati Trenggalek di Anjungan Jawa Timur TMII (Taman Mini Indonesia Indah) Jakarta.


Dalam acara tersebut disajikan pula drama tari dengan tajuk "Kolo Srenggi" yang disutradarai oleh seniman muda asal Trenggalek yang akrab disapa @dianbokir. Kolo srenggi merupakan simbol dari nafsu angkara murka diri manusia yang menjadi musuh terbesar dalam menjalani kehidupan. Tarian ini menggambarkan bahwa dalam menjalani kehidupan, kita banyak dihasut oleh nafsu dan kita harus dapat mengendalikannya agar nurani dan kebajikan tetap terjaga.

Selain dihibur dengan ragam tari khas Kabupaten Trenggalek, hadir pula pameran produk lokal seperti kopi Arabika "Tradisi" dari Watulimo, Batik, jajanan khas dan lain-lain.

Dalam sambutannya, Bapak Bupati berharap bahwa melalui acara yang rutin diadakan setiap tahun ini, seluruh Ikatan Keluarga Asal Trenggalek tetap guyub dan solid kekeluargaannya meskipun merantau jauh dari Trenggalek.

Dari Trenggalek untuk Indonesia!

Instagram: zanza_bela
7/4/17

Paralayang Trenggalek

Paralayang Trenggalek (Dok: Ivan Noe)

Hai travel addict, kalian sedang mencari referensi tempat yang cocok untuk hobi paralayangmu di kawasan selatan Jawa Timur?

Kabar gembira untuk kalian pecinta giat paralayang, kini kulit manggis ada ekstraknya *lho salah
Kini Kabupaten Trenggalek dapat dijadikan salah satu list referensimu untuk paralayang.

Cocok nggak sih?
Panoramanya indah nggak ya?

Nah, Bela mau share giat paralayang rekan-rekan komunitas Paralayang Trenggalek dan TDT (Tukang Dolan Trenggalek) yang melakukan uji coba lokasi terbang tanggal 1 Juli 2017 lalu.

Kegiatan paralayang ini diadakan di Gunung Gemblung atau masyarakat menyebut dengan nama Bukti Tunggangan, Desa Kendalrejo, Kec. Durenan. Giat ini merupakan tindak lanjut dari uji coba lokasi terbang yang sudah pernah dilakukakan oleh teman-teman komunitas paralayang dan TDT bersama pilot dari luar kota beberapa bulan lalu.

Bertepatan dengan lebaran ketupat (kupatan) di Kec. Durenan, beberapa pilot siap terbang dan berpartisipasi sekaligus untuk turut memeriahkan acara ini. Terselengaranya acara ini berkat koordinasi ketua komunitas paralayang Trenggalek yaitu Kak Asmi selaku penggiat olahraga paralayang yang saat ini Kak Asmi berdomisili di Kec. Durenan.

Uji coba dimulai pada pukul 08.30 WIB dimana para pilot dan potter berjalan bersama mendaki puncak Gemblung. Kurang lebih perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit hingga sampai di puncak. Para pilot ini berasal dari daerah berbeda. Ada yang berasal dari Malang, Ngawi, Tulungggung dan Blitar.  Setelah sesampainya para pilot di puncak, dan beristirahat beberapa menit maka mereka pun bersiap untuk terbang satu perasatu.

Menurut penuturan salah seorang pilot yang bernama Pak Max, hembusan angin di gunung Gemblung sangat bagus. Bisa di bilang tidak kalah dengan spot paralayang yang ada di Malang dan Blitar. Saking bagusnya termal angin di sana, beberapa pilot yang sudah terbang nekad untuk naik lagi ke gunung dan terbang lagi untuk yang kedua kalinya karena merasa belum puas.

 Dokumentasi Komunitas Paralayang Trenggalek (Oleh: Ivan Noe)

Pukul 13.30 WIB semua pilot telah terbang dan para tim pendukung pun turun menuju lokasi pertemuan di rumah kak Asmi. Setelah istirahat beberapa menit, teman-teman paralayang pamit undur diri dan sepakat akan kembali lagi tahun depan untuk menghiasi langit Trenggalek dengan aksi hebat pilot paralayang.

Wah, seru ya. Sayang sekali Bela belum bisa bergabung saat itu, karena tuntutan kerja. Hehehe... Terima kasih Kak Ivan Noe sudah berkenan untuk berbagi cerita, maju terus untuk teman-teman Paralayang Trenggalek.

Terima kasih sudah berkunjung.
Instagram: zanza_bela
7/2/17

Pengalaman Seleksi Kerja di Infomedia Humanika Solution

Halo fresh graduate, sibuk aktivitas apa nih? Sedang menjadi job seeker? Unch unch unch #maafalay

Postingan kali ini pengen share pengalaman saya ketika interview di Infomedia nih. Barangkali ada teman-teman yang akan menjalani serangkaian tes dan interview disana, semoga tulisan saya bisa dijadikan sedikit bahan referensi ya.

Bulan Mei lalu saya mendapatkan informasi dari rekan saya bahwa Infomedia sedang membuka lowongan untuk posisi CSR (Customer Service Representative) Telkom. Setelah mendapat informasi tersebut, saya iseng daftar dan tanggal 18 Mei saya mendapatkan pemberitahuan melalui SMS untuk interview. Ehmm... ini pertama kalinya saya mengikuti seleksi kerja, nggak ada persiapan aneh-aneh. Tak disangka ketika interview saya bertemu dengan teman lama saya, dan dia bercerita bahwa semua interview di Infomedia diharapkan memakai bahasa inggris. Eng ing eeeeng.. saya baru tahu dan lumayan kaget, karena nggak ada persiapan apapun. Ya, dalam hati kalau rezekinya disini nggak akan lari kok. Ini sok sok an mensugesti diri sendiri supaya stay positive dan nggak gupuh, hahaha... padahal aslinya grogi nggak karuan, kayak kepengen melarikan diri. Hahaha... Beberapa menit kemudian, nama saya dipanggil untuk interview bersama 2 peserta lainnya. Kira-kira per orang mendapat giliran ± 30 menit untuk interview. Lama ya? Hehehe.. kalau sudah giliran ngobrol, nggak kerasa kalau lama. Ya kalau yang nunggu di luar ngerasa lama sih. Hehehe...

Di sesi ini sangat santai, hanya percakapan ringan dengan bagian HRD. Saya masih ingat hal memalukan yang spontan saya utarakan ke interviewer saat beliau menanyakan terkait hal-hal yang membuat saya percaya diri, lalu seketika saya jawab, "Saya sangat percaya diri ketika berbicara". Dan belum selesai saya menjawab, interviewer terlihat penasaran langsung menyela, "Lho kok bisa? Memang kenapa?", lalu dengan spontan saya jawab, "Saya merasa cantik kalau sedang berbicara". Jreeeeng.. seketika menyesal, dalam hati "Duh opo o jawabanku buntu banget". Dan ruangan yang semula hening dan tegang, menjadi agak ceria karena baik HRD dan peserta yang satu ruangan dengan saya juga tertawa. Saya pun ikutan nyengir sih, karena jawabanku buntu banget. Malu kalau ingat lagi. Ya, show must go on lah ya.

Setelah interview selesai, pihak HRD menginformasikan jika lolos ke tahap selanjutnya akan diinformasikan melalui SMS ± 2 minggu setelah interview hari itu. Tapi ternyata, masih di hari yang sama sekitar pukul 17.00 WIB saya sudah mendapat SMS bahwa saya lolos dan diundang untuk psikotes pada tanggal 19 Mei. Karna pada tanggal 19 Mei saya ada janji lain, maka saya memberanikan diri untuk meminta reschedule ke HRD. Meskipun saat itu sudah agak pesimis, "ah paling nggak bisa deh di-rechedule". Tapi, ternyata bisa dan saya mendapat jadwal psikotes di tanggal 7 Juni 2017. Untuk para job seeker, ketika berhalangan datang untuk interview atau psikotes lebih baik coba negosiasi untuk reschedule. Siapa tahu bisa, kalau pun tidak bisa sedikit meminta dispensasi misal jamnya dimajukan atau dimundurkan sehingga misal kalian saat hari itu sedang ada acara/janji lain masih bisa tetap bisa mengikuti interview/tes.

Tanggal 7 Juni pun tiba. Begitu memasuki ruangan, kami disodori lembar jawaban yang superrrr banyak. Jenis-jenis tesnya ada Kraeplin/Pauli, Wartegg test, penalaran, dll. Saya sih belum pernah mengikuti seleksi kerja bahkan psikotesnya, tetapi sehari sebelum tes saya sedikit browsing di internet tentang jenis-jenis psikotes yang biasa dipakai untuk seleksi kerja. Karna sudah sedikit membaca tentang jenis tesnya, saya nggak terlalu kaget ketika mengerjakan tesnya. Kira-kira tes berlangsung ± 2 jam. Ya bertepatan dengan puasa saat tes berlangsung, sekalian ngabuburit deh. Setelah psikotes selesai, pihak HRD menginformasikan akan mengirimkan pemberitahuan melalui SMS jika dinyatakan lolos ke tahap akhir yaitu interview user.

Tiga hari kemudian saya mendapat SMS pemberitahuan bahwa saya diundang untuk briefing sebagai CSR Telkom tanggal 12 Juni 2017. Awalnya bingung, karna sepemahaman saya kalau briefing sebagai CSR berarti sudah diterima dan diberi pengarahan terkait tugas-tugas CSR. Padahal kan tahap akhir ada interview user dulu baru dinyatakan diterima atau tidak. Ehmm... sebelum terlalu cepat menyimpulkan, saya jalani dulu briefing di tanggal 12 Juni.

Nah, hari briefing pun tiba dan saya bertemu dengan enam peserta lainnya yang dinyatakan lolos ke tahap interview user. Di hari itu kami mendapatkan pembekalan untuk persiapan interview user keesokan harinya yaitu tanggal 13 Juni. Mulai dari grooming atau performance, COC (Code of Conduct), materi untuk interview user, kontrak kerja, dll kami dapatkan saat itu. Oiya, untuk persiapan materi interview user kami diminta untuk menyiapkan perkenalan singkat menggunakan bahasa inggris, mempelajari terkait pengetahuan produk Telkom (seperti IndiHome) dan menyiapkan materi promosi produk tertentu (jenis produk bebas).

Keesokan harinya saat interview user, kami diinterview oleh 3 orang yaitu Asisten Manager Telkom, SPV Plasa Telkom Rungkut dan SPV Plasa Telkom Margoyoso. FYI, sebelum interviewer mengajukan pertanyaan, kalian diminta untuk memperkenalkan diri (baiknya) dengan menggunakan bahasa inggris. Setiap peserta akan merasakan sensasi interview yang berbeda. Ada yang diwajibkan menjawab seluruh pertanyaan interviewer menggunakan bahasa inggris, ada yang diperbolehkan menggunakan bahasa Indonesia saja. Ini tergantung dari permintaan interviewer. Kebetulan saat itu saya diminta untuk menjawab semua pertanyaan beliau dengan bahasa inggris. Dalam hati, duh wedi. Wkwkwk... Oiya, ketika giliran saya diinterview, saya sama sekali nggak mendapat pertanyaan terkait produk Telkom atau disuruh promosi produk. Semua pertanyaan yang diajukan interviewer berdasarkan apa yang ada di CV kita. Saat itu saya mendapat pertanyaan tentang kesibukan sehari-hari, passion hidup, dll. Oiya, bagi yang mencantumkan banyak pengalaman kegiatan di CV, bersiaplah ketika interviewer menanyai kegiatan kalian satu per satu. Pastikan sebelum interview, kalian sudah me-review CV kalian ya. Jadi kalian ingat, kegiatan atau pengalaman apa saja yang kalian tulis di CV. Interview berlangsung cukup singkat, masing-masing peserta ± 5-10 menit. Santai kok, ya kayak ngobrol biasa. Awalnya grogi banget, tapi setelah 2 pertanyaan diajukan, lumayan rileks. Nggak setegang yang saya kira. Hehehe...

Pukul 11.00 WIB interview selesai, dan pengumuman lolos/tidaknya akan diinformasikan melalui Whatsapp sekitar pukul 13.00 WIB.

Jeng jeng jeng... pengumuman pun tiba. Dan lolos. Selanjutnya, sebelum memasuki masa training kerja selama 10 hari kami dibekali training soft skill terlebih dahulu terkait pelayanan dan COC CSR. Training diberikan pada tanggal 15 Juni, dan tanggal 16 Juni sudah masuk hari pertama training kerja saya di Plasa Telkom Rungkut. Wus wus wusss... gercep pol. Saya nggak menyangka di bulan diterima kerja, di bulan yang sama langsung mulai kerja juga.

Kira-kira cukup itu yang dapat saya tulis terkait pengalaman saya seleksi kerja dengan Infomedia. Semoga membantu memberikan gambaran ya.

Allah Hafiz.

Instagram: zanza_bela
6/28/17

Tuhan dan Menikah Hanyalah 'Label'

Semakin bertambah teman/relasi, semakin warna warni orang yang ditemui. Ya, warna warni kepribadian, pola pikir dan prinsip hidupnya. Seiring bertambahnya usia, layaknya semakin bijak juga cara kita memperlakukan orang lain. Bagi jiwa yang sakit, pencaci, nyinyir negatif, tidak terbiasa untuk positif thinking, mungkin ini akan berbahaya.

Jadi makin bertambah frekuensi pertemanan, makin luas relasi dan jaringan, kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang mungkin biasanya hanya kita simak di acara TV atau koran, kali ini terpampang nyata di hadapan kita. Ya seperti yang tadi sore saya temui.

Poin 1 :
Dia orang yang menuliskan agama X di KTP, tetapi nyatanya dia orang yang tidak mempercayai Tuhan (katanya sih atheis). Dia hanya mempercayai bahwa memang ada semacam 'kuasa' yang melebihi manusia bahkan semesta. Sesuatu yang tidak bisa diciptakan dan dimusnahkan oleh manusia. Tapi dia memaknai kuasa tersebut seperti energi, bukan Tuhan. Karna menurut dia, nama Tuhan itu saja seperti sebuah 'label' yang tiap agama memaknai atau menggambarkan dengan wujud yang berbeda-beda.

Poin 2 :
Bukan tidak mungkin kita akan menemui seseorang yang memiliki paham bahwa justru agama adalah pembatas untuk kehidupan. Pembatas dalam beberapa hal, yang salah satunya (yang dia ceritakan) adalah persoalan asmara, seorang beragama X jatuh cinta dengan orang agama Y. Perbedaan agama ini dianggap penghalang dan membuat keduanya tidak bisa bersama.

Poin 3 :
Kita juga mungkin akan menemui seseorang yang memiliki prinsip bahwa menikah hanyalah sebuah 'label' yang hanya mengikat antara pasangan. Berpikir bahwa tidak ada alasan dan keharusan untuk terikat dengan label itu. Mereka lebih memilih untuk bebas. Jika alasan menikah hanyalah karna saling mencintai, maka dengan dia hidup bersama orang yang ia cintai, itu sama saja mereka mengekspresikan saling mencintai. Atau menikah hanya karna kepuasan? Kalau dia mau, seseorang yang tak perlu berlabel menikah pun juga bisa mendapatkannya. Katanya bisa dengan membeli atau mendapat dari seseorang yg mau 'diajak'. Atau karna ingin memiliki anak? Ada anak-anak yatim piatu yang bisa diadopsi.
Bagi dia, ketika pertemanan saja sudah banyak drama apalagi pernikahan?

Apakah dia penyuka sesama jenis?
TIDAK.
Dia pun mengakui sebagai pria, dia pernah dekat dengan lawan jenis. Tapi ya itu, hubungannya hanya sebatas suka, bersenang-senang, nikmati saja hari dimana saat itu mereka bersama, tak pernah berpikir untuk jenjang selanjutnya apalagi masa depan, terlebih menikah (katanya belum kepikiran, belum ada rencana, belum ada niatan ke arah sana).

Baginya, selama tidak merugikan orang lain. Tak masalah. Dengan prinsipnya, ketika ada wanita yang "mau" atau "tidak mau" diajak jalan, maka dia pun akan merasa biasa saja. Ketika mengalami penolakan trus akan gegana (gelisah galau merana) pun tidak. Ketika diterima pun nggak akan lompat girang-girang.

Dia menganggap bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan adalah hubungan yang saling 'butuh'. Tidak ada orientasi pernikahan, tidak ada jenjang serius, ya sama-sama hanya saling 'butuh'. Sekalipun pelukan, ciuman, atau ONS pun, ya itu hanyalah hal biasa bagi mereka. Nothing to lose lah. Ya sama-sama tidak ada yang merasa rugi. Begitu katanya. Mau jalan sama yang single atau bahkan pasangan orang, ya nggak ada masalah. Ya namanya juga 'butuh' dan sama-sama mau. Hakzz.

Kira-kira poinnya itu. Karna nggak 1 kantor, belum tau apa nanti bisa lebih banyak sharing atau enggak. Hahaha.. Kebetulan aja hari ini piket bareng.

Sharing dengan orang-orang seperti ini, rasanya seperti melihat sinetron atau drama Korea versi kehidupan nyata. Ya, ambil pelajaran dan pengetahuannya lah ya.

Bagi jiwa pencaci, yang tidak open minded, yang tidak terbiasa husnudzan atau berpikiran positif, tidak terbiasa dengan keberagaman pastilah susah mengerem kebencian, bullying dan ragam hujatan.

Cukup dulu.
Maaf agak frontal. Ambil pembelajaran positifnya sesuai frekuensi pemahaman masing-masing.

Shukriya.
Allah se hota.
Allah Hafiz.

Salaam,

Instagram:
zanza_bela #Zanzabela #Lassvera
5/14/17

Polemik Duta Kampus ITATS VS Ormawa ITATS

Tulisan ini bukan untuk memprovokasi, niatnya lebih ke arah sharing atau bahasa gaulnya curhat. Haha... Harapannya jika suatu saat masih ada saja kesalah pahaman terhadap Duta Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS), saya tinggal share link tulisan ini. Karena kalau harus terus bercerita berulang-ulang apalagi menceritakan hal yang sama, ibaratnya seperti ngulang mata kuliah berkali-kali tapi tetep nggak lulus juga. Wkwk... Oke, kita mulai.

Logo Duta ITATS

Sepertinya kesalahpahaman mahasiswa ITATS (terutama pandangan dari ormawa) terhadap Duta ITATS sudah dipendam sejak lama. Dan mencapai puncaknya di akhir tahun 2016 lalu. Waktu itu saya sedang mengikuti short coures di China sehingga saya kurang mengetahui situasi awal kesalahpahaman ini meledak di kampus. Berawal dari pertanyaan, Duta itu apa sih? hingga Apakah Duta ITATS itu BEM? bahkan Kenapa Duta ITATS kok tidak mengayomi mahasiswa ITATS?, dan masih banyak lagi. Saya akan tulis satu per satu nanti.
Posisi saya yang saat itu LDR-an dengan teman-teman Duta membuat saya sedikit kesulitan mencari informasi. Karena masalah ini tidak bisa menunggu saya pulang hingga Februari 2017, saya mencoba mencari akar permasalahan dari teman-teman Duta yang saat itu berada di kampus via dunia maya. Selang beberapa hari kemudian, rekan-rekan Duta mengatakan bahwa masalah sudah selesai. Saya percaya saja dengan rekan-rekan yang di kampus, sehingga saya tidak mempermasalahkan lagi.

Di Februari 2017, beberapa hari setelah kepulangan saya ke Indonesia polemik ini muncul lagi. Karna geram dan merasa kurang plong kalau hanya chit chat melalui WA, saat itu jam 23.00 WIB saya mengajak meet up teman-teman yang merasa masih saja penasaran dengan kami (sebut saja mereka Mr. X). Saya masih ingat kejadian malam itu, sesaat setelah saya mengirim pesan via Whatsapp ke Mr. X dan saya menuju lokasi untuk bertemu, beberapa menit saya menunggu tiba-tiba mereka mengirim pesan dan batal meet up. Hmm... ya bilangnya sih, masalah sudah selesai dan rekan-rekan duta lain sudah membantu menjelaskan. Ya okelah kalau begitu #sambilsenyumgetir
Namun, bulan April 2017 ada lagi pihak-pihak yang membuka kenangan lama *eeeeaaaa. Tepat tanggal 14 April 2014, pemilik akun instagram @ozay*zhii meninggalkan komentar di instagram @dutaitats dengan komentar, Duta bisa apa emang.? Aktifis apa cuma omong doang.?, saya tulis persis dengan kalimat dan tanda bacanya. Setelah ditelusuri, benang merah dari saling komentar ini adalah mereka ingin berkenalan secara resmi dan meet up bersama rekan-rekan Duta ITATS. Dan tanggal 11 Mei kami mengadakan janji untuk bertemu.

Jeng jeng jeng... 11 Mei 2017 pun tiba. Siang itu saya dan rekan-rekan Duta lain bersama mahasiswa ITATS dari beberapa jurusan berkumpul di Students Center. Saat itu yang hadir banyak, yang saya ingat namanya ada Kak Muhajirin (Teknik Mesin), Kak Ozi (Teknik Mesin), Kak Richard (jurusan Geologi kalau tidak salah ingat) dan masih banyak yang lainnya tapi maaf saya lupa. Obral obrol pun dimulai dan mereka mengungkapkan bahwa mereka memang bingung dengan keberadaan Duta ITATS, kenapa harus ada duta, gunanya untuk apa, dan lain-lain. Mereka juga mengaku bahwa sebenarnya mereka dan beberapa mahasiswa lain sudah memendam prasangka itu sejak 2014 (tapi memang tidak ada yang berani mencari klarifikasi ke saya selaku ketua IDI). Mereka merasa tidak paham dan tidak pernah mendapatkan informasi apapun tentang Duta ITATS.

Sebelum saya melanjutkan obrolan apa saja yang dibahas saat meet up 11 Mei, saya ingin flashback singkat terkait awal diadakannya Pemilihan Putra Putri ITATS untuk pertama kali.
Pemilihan Putra Putri ITATS sudah dihelat sejak tahun 2014, namun untuk organisasi Ikatan Duta ITATS (IDI) baru diresmikan Oktober 2016 oleh Wakil Rektor III selaku bidang Kemahasiswaan. Beberapa ormawa/mahasiswa menilai bahwa Duta ITATS tidak pro dengan ormawa lain, sehingga membuat mereka bersikap acuh tak acuh terhadap kami. Mereka menganggap bahwa Duta ITATS tidak mengadakan perkenalan secara resmi sehingga banyak mahasiswa yang belum mengetahui tentang keberadaan mereka sampai-sampai menimbulkan salah paham. Padahal awal mula saya mengadakan Pemilihan Putra Putri ITATS tahun 2014, saya telah mengundang seluruh ketua/perwakilan HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) di ITATS untuk meminta bantuan sosialisasi ke masing-masing anggotanya dan turut berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Lalu, apa sih alasan saya mengadakan Pemilihan Putra Putri ITATS? Bagaimana sejarahnya?

Ada beberapa alasan yang menurut saya urgent saat itu, dengan penuh strategi matang saya susun pemilihan ini meskipun saat itu belum memiliki tim pelaksana. Saya sudah menyusun rencana pemilihan ini sejak tahun 2012, saya ajukan ke kampus tahun 2013. Tapi saat itu saya mengajukan konsep ini bukan ke WR III, tetapi ke Ibu Lubna Algadrie yang saat itu menjabat sebagai pimpinan ITATS Language Centre (ILC). Karna birokrasi yang belum memungkinkan, akhirnya masih belum bisa terealisasi di tahun 2013. Saya ajukan lagi tahun 2014 ke Pak Bambang selaku WR III, dan setelah presentasi panjang lebar bahkan langsung menemui Ketua Yayasan, akhirnya bisa di acc dan terlaksana untuk pertama kalinya di tahun 2014 (Baca juga: Duta Kampus part 1 dan Duta Kampus part 2).

Hal-hal yang melatar belakangi saya untuk berpikiran mengadakan pemilihan ini adalah :
  1. Sejak tahun 2011, 2012 dan 2013 wakil ITATS untuk kompetisi Mawapres dipilih secara handpick dan makin lama makin susah mencari regenerasi. Pihak WR III mengaku kesulitan untuk mencari representasi dari mahasiswa ITATS untuk mewakili kampus di ajang Mawapres. Problematikanya adalah perihal kemampuan public speaking dan bahasa inggris. Banyak mahasiswa yang mundur untuk berkompetisi karna tidak percaya diri dengan kemampuan presentasi berbahasa inggris. Karna kriteria mahasiswa di ajang ini menurut saya juga cukup susah. IPK di atas 3.5, memiliki prestasi non-akademis minimal di tingkat provinsi, membuat karya tulis, memiliki kemampuan bahasa asing aktif dan mempresentasikan karya tulisnya dengan bahasa inggris. Jadi semisal ada mahasiswa yang nyeletuk Duta itu nggak penting, saya kepengen yang ngomong itu membantu untuk ngewakili ITATS di ajang ini dan harus menang. Hahaha.. just kidding.
  2. Berdasarkan pengalaman saya menjadi mahasiswa ITATS, saya melihat fenomena gagap presentasi yang dialami banyak rekan saya seangkatan. Mahasiswa ITATS itu banyak yang pintar, tapi kurang mumpuni untuk mempresentasikan hasil karya mereka di depan umum. Rasanya sayang, eman gitu. Padahal skill berkomunikasi di era saat ini menjadi poin penting yang menunjang prestasi atau di dunia kerja. Melalui pemilihan Putra Putri ITATS, dimana poin public speaking menjadi poin utama pembekalan dan penilaian, saya berharap regenerasi mahasiswa ITATS lebih baik dengan berbekal skill komunikasi yang mumpuni.
  3. Setiap tahun, ITATS pasti mengadakan kegiatan promosi kampus baik dalam bentuk kegiatan Road to School ke SMA/SMK di Jawa Timur atau mengikuti pameran pendidikan seperti Campus Expo, dan lain-lain. Kegiatan ini pasti melibatkan mahasiswa yang bisa merepresentasikan kampus ITATS dan tentunya memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, karena mereka dituntut harus sosialisasi tentang kampus ITATS. Nah, WR III pun juga menyampaikan bahwa langka sekali pada saat itu menemukan mahasiswa dengan kriteria begini. Yang namanya merepresentasikan kampus di depan umum, dia menjadi figur pastilah dituntut memiliki performa yang baik, pengetahuan terkait kampus dan mampu menyampaikan kepada siswa/i SMA atau pengunjung pameran (kemampuan komunikasi yang baik).


Inilah beberapa alasan yang menurut saya urgent. Semisal ada yang menganggap saya abnormal karna terlalu peduli dengan kampus ITATS, ya kan ini almamater saya dan mahasiswa itu kan sebagai agents of change. Setiap mahasiswa pasti memiliki cara sesuai kapasitas dan kapabilitas masing-masing untuk perubahan yang lebih baik. Ciyeeeeee....

Kita kembali ke Pertemuan 11 Mei. Pertanyaan klise yang menjadi awal pertemuan kami adalah "Duta itu apa sih? Tugasnya ngapain?"

Ehem, cek 1 2 3 (tes microphone) Hehehe...
Saudara sebangsa, setanah air dan sealmamater tercinta, duh formalnya.. ganti non-formal mode. Hakzz..

Istilah duta atau ambassador mungkin sudah cukup akrab didengar, tapi mungkin sebagian orang kurang memahami apa makna sebenarnya dan apa tugasnya. Pernah mendengar istilah duta wisata, duta kesehatan, duta pemuda dan duta-duta lainnya kan? Jika saya mengambil contoh duta wisata, tugas utama seorang duta wisata adalah mempromosikan potensi pariwisata di daerah yang ia wakili dan menjadi representasi daerah tersebut. Nah sama halnya dengan Duta ITATS, utamanya mereka promosi/sosialisasi terkait ITATS dan menjadi representasi kampus. Kami pun memiliki beberapa program kegiatan seperti mewakili ITATS di ajang Mawapres (Mahasiswa Berprestasi) yang diadakan Kopertis VII, mengikuti serangkaian kegiatan promosi seperti di Campus Expo atau ke sekolah SMA/SMK se-Jawa Timur menyesuaikan dengan agenda dari Wakil Rektor III selaku bidang Kemahasiswaan, selain itu rekan-rekan Duta juga ditugaskan saat acara wisuda ITATS. Adapun kegiatan-kegiatan additional seperti training soft skill, acara amal, dan lain-lain. Selain itu, rekan-rekan Duta ini juga ditugaskan untuk menjadi moderator atau MC saat acara seminar kampus, atau acara kunjungan dari sekolah SMA/SMK ke kampus ITATS.

Sejauh ini, semoga pertanyaan di atas sudah terjawab ya. Semoga apa yang saya tulis tidak multitafsir dan mudah dipahami.

Lalu pertanyaan berikutnya, "Duta ITATS ini kedudukannya di ITATS sebagai apa? Duta ITATS itu apakah BEM? Kok tidak mengayomi mahasiswa-mahasiswa lain? Kan harusnya menjadi penyambung antara mahasiswa dan yayasan"

Mendengarnya saja, kalau orang Jawa bilang, du nangis du ngguyu. Terharu! Nggak nyangka kalau ekspektasi teman-teman akan semulia itu.

Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari WR III, organisasi mahasiswa yang ada di ITATS hanya ada 2 jenis. Yaitu Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Nah, Duta ITATS ini anggotanya terdiri dari mahasiswa yang berasal dari berbagai jurusan, bukan seperti HMJ yang anggotanya berasal dari 1 rumpun jurusan saja. Nah, maka dari itu Ikatan Duta ITATS termasuk ke dalam UKM yang tempat mangkalnya sama kok di Students Center. Pastinya bukan BEM. Unch unch unch.. Dan perkara mengayomi mahasiswa lain, ehmm semulia itu kah? Hehehe.... kalau sudah membaca tulisan saya sejauh ini, insyaallah pembaca sekalian sudah memahami ya sejauh apa peran dan job description Duta ITATS. Perkara penyambung antara mahasiswa ke yayasan, jalurnya sudah ada sendiri yaitu melalui WR III. Jadi jika teman-teman ingin menyampaikan aspirasi, bisa melalui WR III.

Ada lagi kegelisahan salah satu mahasiswa (sebut saja Mr. R) dalam forum saat itu yang mengungkapkan pemikirannya terhadap kami, "Kok Duta ITATS itu seperti mendapat tempat special ya di ITATS, dan seperti difasilitasi. Terlebih mengadakan acara pemilihan lagi tahun 2016 sebesar itu saja bisa di acc. Itu bagaimana? Soalnya makin lama, kami merasa gerak gerik ormawa makin terbatas apalagi untuk mengadakan kegiatan. Sedangkan Duta ITATS kayaknya gampang ya kalau bikin acara. Bagaimana dengan anggaran biayanya untuk acara sebesar itu. Sepengalaman kami, selalu dikurangi jauh. Ketika kami mencoba untuk menanyakan kejelasan soal ini ke yayasan, mereka malah bertanya NPM saya berapa. Kan kami jadi berpikir yang aneh-aneh"

Saya agak kaget dengan ungkapan Mr. R saat itu. Sejak menjadi mahasiswa di sana tahun 2012, saya baru mengetahui jika kita menanyakan perihal kemahasiswaan ke yayasan malah ditanyai perihal NPM. Karena selama ini ketika saya berdiskusi atau menindak lanjuti kegiatan ke rektorat atau yayasan, tidak pernah terjadi hal semacam itu. Bahkan ada yang lebih ngeri, katanya bisa diancam DO. Wih wih wih... nggak kok. Nggak akan ada asap kalau nggak ada api. Sekalipun memang ada mahasiswa yang diancam DO mungkin perkaranya bukan karna semata-mata mengajukan kegiatan ormawa, mungkin karna si mahasiswa belum lulus mata kuliah atau alasan akademis lainnya.

Pemilihan Duta ITATS 2016
Kami sama-sama UKM yang mengajukan proposal untuk melaksanakan kegiatan, birokrasinya sama saja. Tidak ada perlakuan special apalagi sampai ada fasilitas khusus untuk para Duta. Semua sama dengan UKM lainnya. Perkara biaya kegiatan pemilihan, kami lebih banyak mengajak kerjasama sponsor sehingga kebutuhan kegiatan bisa terpenuhi semua dari para sponsor. Kami merasa acara pemilihan tiap tahun tidak sebesar apa yang dilihat rekan-rekan mahasiswa lain, setiap tahun kami hanya berusaha mempersiapkan dengan matang dan terkonsep. Mungkin totalitas kami dalam menyelenggarakan acara sehingga membuat kesan acara besar. Perihal perasaan rekan ormawa yang kecewa karna merasa terbatas dan sulit untuk mengadakan kegiatan, lalu dikait-kaitkan kegiatan Duta yang terlihat gampang di acc, sepertinya itu bukan kewenangan kami untuk menjawab. Barangkali rekan-rekan bisa mencari tahu alasan mengapa kegiatan kalian belum di acc oleh kampus. Tapi sepengalaman saya ikut mengadakan kegiatan bersama teman-teman di UKM-ESS dan HMJ Informatika, alurnya sama seperti saya mengajukan kegiatan pemilihan Duta ITATS. Ya mengajukan proposal ke WR III, ± 2 minggu baru ditindak lanjuti, jika belum ada konfirmasi ya menunggu lagi, ketika sudah ada kabar kami baru mengetahui hal apa saja yang di acc dan tidak di acc, ya nego juga perihal anggaran biaya, perihal perizinan tempat, dan lain-lain. Semuanya sesuai birokrasi yang diarahkan oleh WR III. Tahun 2014 ketika acara ini dihelat untuk pertama kali, dimana pihak rektorat mungkin belum terlalu memahami konsep acara ini maka WR III mengajak saya untuk menemui ketua yayasan dan mempresentasikan sendiri konsep kegiatannya kepada beliau. Eits... waktu ketemu beliau saya nggak ditanyai NPM dan hal-hal ngeri yang banyak dirumorkan mahasiswa lain nggak kejadian kok. Hehehe.

Rasanya masih pengeeeennnn nulis lebih banyak lagi untuk dibagi ke teman-teman. Tapi sepertinya cukup dulu.

Barangkali ada yang ingin ditanyakan/ngobrol terkait Duta ITATS, bisa menghubungi saya melalui email: zanzabela@yahoo.com (harap mencantumkan nama dan asal kampus/jurusan, jika tidak maka email diabaikan).

Terima kasih sudah berkunjung.
Instagram: zanza_bela
4/27/17

Semenjak Ada Kata BAPER


Semenjak ada kata baper (bawa perasaan), kita dengerin lagu melow dicap baper, share puisi dianggep baper, roamantis disebut baper, punya sifat melankolis disangka baper. Seiring dengan kreativitas manusia, baper dianggap mewakili perasaan sedih, tersinggung, kecewa bahkan berprasangka.

Saya kira hanya saya saja yang gemas, tapi setelah selancar sana sini bahkan nemu beberapa status teman, banyak juga yang merasakan hal sama.

Jadi jaman sekarang yang langka bukan sekedar manusia peka, tapi orang yang mau minta maaf. Fenomena barunya, mereka justru nyerang balik dengan kalimat ajaib "Yaelah baper banget sih" atau "Situ tersinggung? Situ aja yang baperan" lan sapanunggalane.

Nah, sadar atau tidak istilah 'baper' ini makin hari diartikan sebagai hal yang negatif. Seolah-olah kalau kita merasa terkoyak perasaannya, itu bisa jadi salah kita karena kita terlalu 'baper', dan bukan salah si offender. Mirisnya lagi, yang menyerang kita dengan kata-kata ini, malah si offender.

Akhirnya, semisal kita sakit hati, kita yang salah karena kita 'baper'. Hmm.. Bisa jadi, dampak jangka panjangnya kita merasa tidak berhak merasa sakit hati. Karena rulesnya kalau kamu sampai sakit hati, kamu yang kalah. Ya karena kamu baperan. Eladalah..

Dampak buruknya, orang akan semakin merasa tidak perlu lagi minta maaf. Anggapannya, ya salah si korban kenapa baperan?


Salam,
Zanzabela
(yang postingannya selalu nggak nyambung antara foto dan caption)

Instagram: zanza_bela